Penulis : Abdullah SP


Tiga hari lagi, perayaan 17 Agustusan. Samin tak ingin disebut sebagai pemuda yang tidak cinta hari kemerdekaan. Maka mau tidak mau, ia harus mengikuti perayaan hari kemerdekaan ala kampung itu: kompetisi layangan.

Kawan-kawan Samin, tetangga-tetangganya, sudah menyiapkan layang-layangan terbaik yang akan menyemarakkan langit kampung 17 Agustus. Suasana kompetisi mulai terdengar dari mulut mereka. Masing-masing menjagokan layangan buatannya, dan menyindir lawannya.

“Layang-layangan ini sudah pasti terbang paling tinggi”, kata Sarno sambil mencium layangannya.

Samin mengamati layangan itu tanpa berkomentar. Di mata Samin, layangan itu tak istimewa. Tapi ia salut sama Sarno. Di matanya, Sarno wujud pemuda yang benar-benar menghargai hari kemerdekaan. 

“Jangan ngaco. Soekarno nanti bisa ketawa dari kuburan lihat layangan kau. Baru naik, sudah nyungsep”.

Sarno tak tersinggung dengan komentar Parto yang meremehkan. Kedua pemuda itu sudah terbiasa saling sindir. Toh layangan Parto juga tak punya pengalaman sebagai pemenang.

“Samin, layanganmu di mana”, tanya Sarno. 

“Bawa sinilah, Min. Kita ingin tau layanganmu, walaupun pasti jelek”, timpal Parto sambil tertawa.  

Samin tak segera menjawab. Pikirannya menerawang jauh. Ia sedang memikirkan layangan yang jauh lebih gagah dari yang dibikin kedua sahabatnya itu. Layangan itu akan dibuat dengan perpaduan kertas warna merah dan putih. Di bagian tengah, ia sudah menyiapkan gambar kepala Soekarno. 

“Merdeka”, teriak Samin. Sarno dan Parto kaget. Mereka lalu tertawa. Samin tidak.

“Itu nama layanganku. Merdeka. Dia akan terbang di atas layangan kalian”. 

Samin dan Parto terus menggoda Samin dengan tawa mereka yang melecehkan. Tapi Samin terus meyakinkan bahwa layangan bernama “Merdeka” itu bakal menjadi layangan paling stabil. Paling beradaptasi dengan udara kampung 17 Agustusan. 


*


Jam setengah tujuh pagi 17 Agustus 2020, lokasi kompetisi layangan sudah padat dengan orang-orang. Panitia lomba sudah memberi aba-aba. Upacara dilakukan begitu singkat. Bendera hasil sumbangan warga yang dibeli dengan harga murah sudah menancap di tiang kayu yang dipegang salah seorang panitia. 

Dengan aba-aba lagi, mereka membuat penghormatan. Lalu terdengar lagu Indonesia raya dinyanyikan. Suara-suara mereka tak padu. Ada yang tinggi. Tinggi sekali. Rendah. Rendah sekali. Tapi hati mereka seolah sama kompaknya meneriakkan Indonesia merdeka.


*


Di babak awal, layangan Sarno dan Parto sudah keyok. Kedua pemuda itu lalu menjadi pendukung Samin. Layangan “Merdeka” milik Samin bertahan hingga babak final. 

“Kalian pasti tidak tahu, kenapa layanganku sangat bersemangat memenangkan pertandingan ini dan sampe final?”.

Sarno dan Parto menatap Samin dan penasaran dengan rahasianya. Samin melanjutkan:

“Aku ceritakan begini tadi pagi sebelum berangkat. Hei, Merdeka. Kau harus menunjukkan yang terbaik. Semua presiden kita bakal menyaksikan pertandingan agung layangan 17 Agustusan di kampung ini. Berikan yang terbaik. Lalu kunyanyikan Indonesia raya”.

Sarno dan Parto sudah pasti tak percaya. Meskipun mereka tak tahu di mana kuburan masing-masing presiden itu, mereka yakin betul bahwa presiden-presiden yang diceritakan Samin sudah mati. Tapi bualan Samin menjadi salah satu hiburan yang membuatnya tertawa dan lupa dengan kekalahan mereka.

“Apa tanggapan layanganmu, Min?”, tanya Parto.

“Dia teriak: Merdeka”.

Samin, Sarno dan Parto tertawa bersama-sama. Seolah tidak puas hanya dengan tertawa, mereka bertiga pun berteriak: Merdeka. Orang-orang memandangi mereka. Lalu layangan bernama “Merdeka” muncul dengan bangga di antara tiga orang itu.


*


Layangan “Merdeka” memenangkan perlombaan 17 Agustusan. Layangan itu kini jadi buah bibir orang-orang kampung. Terutama si pemilik sekaligus pembuatnya, Samin, dipandang sebagai si jenius baru dalam urusan layang-layangan. Bualan Samin yang tak masuk akal juga tak kalah serunya. Bualan itu jadi perbincangan. Orang-orang tergelitik untuk membicarakannya.

Sarno dan Parto datang secara khusus ke rumah Samin untuk merayakan kemenangan itu. Tapi di rumah Samin, mereka hanya disambut ibunya. 

“Samin ke mana, bu?”

“Tadi pagi dia bilang mau ke rumah Sutardi”, kata perempuan tua itu, “tuh sudah datang”.

Samin datang dengan wajah tak enak dipandang. Memang sejak dulu, wajahnya tak enak dipandang. Tapi kali ini, ia lebih tak enak dipandang lagi.

“Si Merdeka niat aku jual ke Sutardi”, gerutunya.

Sarno dan Parto kaget. Mereka saling tatap. Pikir mereka Samin sudah gila. Dan mereka kompak menempelkan tangannya ke dahi Samin.

“Apa-apaan kalian? Sutardi itu banyak omong”, suara Samin terdengar lebih nyaring hingga terdengar ibunya.

“Kamu ngutang apalagi, Min? Kan ibu sudah bilang jangan ngutang-ngutang terus sama si Sutardi”.

Samin kaget saat menyadari ibunya mendengar. Dia ingin mengoreksi ucapannya sendiri tapi si ibu sudah berdiri di sampingnya.

“Kan ibu sudah bilang, tak usah hutang-hutang lagi. Oh pasti hutangmu itu ada hubungannya dengan si.. si… si… si…”.

“Si Merdeka”, jawab Parto dan Sarno berbarengan.

“Nah si layangan keparat itu. Kau hutang berapa hah”

“50 ribu”.

“Cepet balikin. Mana itu, layanganmu itu. Cepet jual. Bayar hutangmu”.

Samin sudah menjual si Merdeka ke Sutardi. Tapi Sutardi menolaknya. Dia lebih butuh uang bukan layangan itu. Samin tak habis cara. Dia tawarkan sarung hadiah yang dimenangkan si Merdeka. Sutardi tetap kukuh butuh uang. Semua cara tak berhasil.

Samin harus mencari pinjaman lagi untuk menutup hutang ke Sutardi. Saat pikiran itu melintas, Samin tersenyum. Sarno dan Parto muncul dalam pikirannya. Tapi saat Samin sadar dari pikirannya, kedua sahabat itu sudah lenyap dari hadapannya.

0Comments

Previous Post Next Post

ads