Penulis : Ben

Ilustrasi : celebrity.okezone.com

Tilik - sebuah film durasi pendek, yang menonjolkan ihwal keseharian kita: menggosip, dengan tokoh dominan ibu Tedjo sang tokoh antagonis - tengah mengundang kehebohan publik.

Bukan hanya karena ia sebuah film yang menarik dan berhasil menelanjangi kegemaran kita pada laku berghibah ria. Tapi sebab film itu mengundang polemik soal 'stereotipe' ibu-ibu tukang gosip, dan 'plot twist' saat Dian, tokoh yang jadi objek gibah bu Tedjo dan ibu-ibu lainnya, justru benar-benar berada dalam situasi yang membenarkan kecurigaan orang-orang.

Tapi tulisan saya ini lebih tertarik pada perandaian: bagaimana jika saya jadi bapaknya Fikri.

Misteri Hubungan Dian dan Bapaknya Fikri.

Saya harus 'positive thinking' bahwa Dian dan bapaknya Fikri tak punya hubungan spesial. Saya tak bisa menghakimi - atau membenarkan kecurigaan ibu-ibu di truk itu tentang Dian - dengan hanya berdasarkan fakta: Dian masuk ke mobil bapaknya Fikri, dan mereka terlibat beberapa potongan obrolan yang mengarah pada yang 'ehem' itu.

Tapi, bagaimana andai omongan Bu Tedjo dan ibu-ibu lainnya benar adanya, dan adegan di akhir antara Dian dan bapaknya Fikri memang mengarah ke sana?

Di sinilah persisnya saya punya pengandaian: andai saya jadi bapaknya Fikri?


Dilema 

Sebagai bapaknya Fikri, saya akan dihantam oleh dilema. Pertama, dilema moral. Bagaimana pun bejatnya saya (sebagai bapaknya Fikri), saya tentu mikir baik-baik: apa iya saya mau menikung kekasih anak sendiri? 

Selain karena sudah tua dan bau tanah, saya seharusnya memikirkan 'cinta' pada anak sendiri: si Fikri. Kalau saya merebut Dian darinya, saya akan dikutuk sebagai bapak yang tak tau diri, bapak yang melakukan banyak kesalahan.

Kesalahan pertama, bercerai dengan ibunya Fikri dan ini jelas menyakiti Fikri. Kedua, kalo ditambah menikung Dian, itu berarti saya menambah luka dan derita Fikri dan ibunya. Oh Tuhan.

Kedua, ini soal dilema perasaan cinta. Bagaimana kalo Dian sudah cinta mati sama saya (bapaknya Fikri) dan bukan kepada Fikri (anak saya, andai saya bapaknya Fikri)? Kalo saya terpaksa memutuskan agar Dian sebaiknya mencintai Fikri, saya dikutuk oleh Dian (dan mungkin perempuan-perempuan lain yang senasib dengan Dian) sebagai lelaki pengecut dan tak bertanggung jawab?

Lagipula, saya (bapaknya Fikri) menyukai Dian dan Dian (kekasih Fikri) menyukai saya. Ada dua hati yang saling mencintai, lalu demi satu nama, Fikri, kisah dua hati haruskah saling berakhir di sini?

Ini sungguh-sungguh dilema bagi saya (sebagai bapaknya Fikri). Sebuah simalakama. Melanjutkan hubungan dengan Dian berarti menyakiti Fikri, anak sendiri. Memutuskan hubungan berarti menyakiti Dian, kekasih yang mencintai. Oh Tuhan. Berilah saya jalan. Oh netizen, jangan kutuk kami. Yang kami butuhkan solusi, bukan caci maki.

Memang setelah dipikir-pikir, kalo saya tak jadi melanjutkan hubungan dengan Dian, setidaknya memberi titik terang kepada Bu Tedjo dan ibu-ibu lainnya bahwa Dian tak seperti dicurigakan. Tapi itu tak berarti bisa menghentikan mulut yang suka 'ngunyah' gosip macam bu Tedjo dan lainnya.

Selain itu, Dian, yang kembang desa itu, masa iya saya berikan secara cuma-cuma kepada Fikri. Eh, maaf. Tapi ya, gitu. Saya - sebagai bapaknya Fikri - tak punya keputusan soal dilema ini.

0Comments

Previous Post Next Post

ads