Penulis : Ratna

Ilustrasi : tatkala.co

Aku dan Mila sudah dihidangkan di atas nampan. Aku segelas jus alpukat campur cokelat. Mila segelas jus mangga. Seorang pelayan membawa kami dan meletakkannya di meja nomor lima. Di meja itu, ada seorang lelaki dan seorang perempuan. Kami pikir mereka sepasang kekasih.

Aku dan Mila agak kaget saat tangan lelaki itu meraih tubuhnya dan seorang perempuan meraih tubuhku. Kami seperti terbang. Mila diarahkan ke mulut lelaki itu. Aku diarahkan ke mulut perempuan itu. Jus mangga dari tubuh Mila tumpah ke mulut lelaki itu. Mengalir di lidah hingga ke tenggorokannya lalu terhempas di perutnya.

Jus alpukat di tubuhku tumpah di mulut perempuan itu, meluncur dari lidah ke tenggorokan dan terhempas di perutnya.

Aku dan Mila tak kaget lagi pada perulangan adegan yang ke sekian. Kini kami lebih banyak mendengarkan percakapan sepasang kekasih itu. 

"Mil, apakah mereka sepasang kekasih?"

Mila tak segera menjawab. Dia nampak memegang kepalanya. Kata Mila, memegang kepala adalah cara manusia berpikir. Aku hanya tertawa. Tapi Mila meyakinkan bahwa ia pernah melihat patung Rodin yang selamanya memegang kepala. Dan itu jadi simbol filsafat.

Sejujurnya aku tak percaya. Tapi aku menyukai Mila. Maka tak ada masalah andai Mila hanya membual sekali pun, aku akan mengiyakan.

"Mungkin belum sepasang kekasih", katanya, "Coba kamu lihat perempuan itu, Gala".

Aku menoleh memandang sosok perempuan yang tangannya mencengkeram tubuhku. Cantik, begitu yang keluar dari mulutku.

"Bukan itu, Gala. Mata keranjangmu tak sembuh-sembuh". 

Mila cemberut. Aku hanya tersenyum. Dia pasti cemburu. Aku tersenyum lagi.

"Lihat mata perempuan itu. Jangan bagian tubuh yang lain", kata Mila mengulangi dengan masih bersungut-sungut. Aku semakin yakin 100 persen, Mila cemburu.

"Ada apa dengan mata itu, Mila?".

"Gala, mata itu tempat segala bahasa yang tak terucapkan. Perempuan adalah mahluk paling pandai menggunakan bahasa itu".

Aku memandangi perempuan itu lagi. Kali ini, bukan bagian tubuh yang lain, tapi ke arah matanya. Mila mengawasiku. Ada apa dengan matanya? Aku tak menangkap apa-apa. Hanya kilat pantulan cahaya dari lampu yang bersemayam di sana. Sisanya, ah. Mila pasti cemburu lagi kalau aku teruskan.

"Perempuan itu tak menolak lelaki itu, Mila. Dia hanya bilang, dia butuh waktu untuk menjawabnya. Lagi pula perempuan itu bilang, dia lelaki yang baik".

Kali ini, Mila tak dapat menahan tawanya. 

"Gala, apakah kamu lupa saat berkali-kali aku menolakmu. Aku bilang apa?"

Aku mencoba mengingat-ingat. 

"Kamu bilang, aku lelaki yang baik".

Mila makin tertawa. Alis mataku terayun. Aku mencoba menerka sesuatu yang lucu.

"Laki-laki itu kadang tolol, atau mungkin pura-pura tolol".

Mila masih tertawa. 

"Itu hanya caraku untuk menunda keputusan. Aku tak ingin buru-buru menerimamu, Gala".

Aku jadi bertanya-tanya, apa untungnya menunda?

"Gala, sejujurnya, aku menyukaimu saat itu. Tapi aku juga menyukai Galuh, Bakri, dan Husni. Sama sepertimu, mereka sama-sama tampak baik di mataku".

Aku ingat. Ya, Galuh, Bakri, dan Husni memang diam-diam menyukai Mila waktu itu. Kami saling berlomba-lomba dalam kebohongan. Di hadapan Mila, kami layaknya malaikat yang diutus untuk membahagiakan Mila. Apapun yang membuat Mila tersenyum, tertawa, dan singkatnya bikin dia bahagia, kami pasti lakukan apa saja.

Kami berlomba-lomba menjadi sosok yang paling malaikat di depan Mila. Tapi di belakang, kami terbiasa saling sikut, mengambil kesempatan untuk saling menyingkirkan. Singkatnya, kami menjelma sosok manusia yang lebih buruk daripada setan. Cinta, yang di mata kami adalah barang suci, harus diperebutkan lewat cara-cara yang keji.

"Hazni, tidak apa-apa. Aku bisa menerima apapun itu. Aku akan menunggu", ucap lelaki itu dengan begitu bijak. Begitu sabar. Seolah-olah ia bukan sesosok manusia, tapi malaikat yang turun dan terjebak di kedai lalu jatuh pada cinta yang tertolak. 

Aku tertawa sengakak-ngakaknya. Tapi jelas itu hanya tawa yang terdengar keras di dalam hati. Aku merasakan getaran kebohongan pada kalimat itu. Aku merasakan getaran ungkapan palsu itu. Aku pernah mengatakan kalimat yang mirip dengan itu. Tapi cara mengucapkannya dan kebijaksanaan lelaki itu semacam template yang dimiliki setiap lelaki yang sedang jatuh cinta. 

"Terima kasih, Irham. Aku hanya ingin kita seperti ini saja. Kamu lelaki yg terbaik. Tak ada bedanya antara kau jadi kekasihku atau temanku saja", jawab perempuan itu.

Mila tersenyum. Mila mungkin berpikir betapa itu juga templat terbaik yang dimiliki setiap perempuan yang ingin terus bersama-sama tapi tak ingin mengubah pada status sebagai kekasih. Ia ingin mereka terjalin sebagai sahabat.

Jus alpukat di tubuhku, dan jus mangga di tubuh Mila kini tinggal seperempat. Bobot tubuh kami jauh lebih ringan. 

"Ya. Tidak akan ada yang berubah, apakah aku sebagai kekasihmu atau sekedar temanmu".

Mila melirik kepadaku dan tersenyum. Mungkin ia berusaha membaca apa yang ada di pikiran lelaki sepertiku. 

"Lelaki itu jujur, Mila".

"Bohong".

Kami tertawa. 

Sepasang kekasih itu beranjak pergi. Membiarkan kami berdua tertinggal di atas meja dengan setetes jus alpukat dan jus mangga yang tersisa. Seorang pelayan datang mengangkat kami ke atas sebuah nampan dan membawa kami ke tempat pencucian. Aku dan Mila berbaur dengan piring dan gelas-gelas kotor lainnya.

0Comments

Previous Post Next Post

ads