Penulis : Chekova Bolano

Semula ia hanya seorang pemuda. Hidup di sebuah kampung jauh. Tapi ia seorang kutu buku. Satu-satunya buku yang ia miliki di rumahnya dibacanya berulang-ulang. Ia hampir hafal keseluruhan isi buku.

Saat lulus sekolah, ia pamitan untuk merantau ke kota. Kepada kedua orang tuanya, ia pamit untuk kerja. Tapi ketertarikannya pada ilmu pengetahuan diam-diam membuatnya mengumpulkan uang untuk kuliah. Dua tahun kemudian, ia baru memulai kuliah. Empat tahun kemudian ia lulus dengan nilai yang tak begitu memuaskan. 

Selama kuliah, ia banyak habiskan di dunia aktivis. Ia sering turun ke jalan ikut mengkritisi kebijakan-kebijakan pemerintah. Tapi suatu kali ia kecewa. Lama-lama kekecewaan itu semakin membesar. Persoalannya satu: ia tak menikmati dunia turun jalan. Ia sadar dirinya dan kawan-kawannya yang lain tak lain sekedar diperalat. 

"Kau tau apa yang senior kita lakukan? Dia berorasi dengan menggebu-gebu di depan sana. Kita dibuat terpukau oleh retorika-retorikanya yang menggebu-gebu. Dia berbicara atas nama rakyat dan mulut yang berbusa-busa".

"Lantas?".

Ia mengambil buku. Ia membuat coret-coretan. Sesosok kerumunan. Satu lagi gambar dua orang sedang berbicara.

"Kerumuman ini adalah kita. Kerumunan ini adalah para mahasiswa baru. Ya kita-kita. Dengan segenap cita-cita yang tinggi, amarah yang berkobar, dan kepolosannya".

Lalu ia menunjuk pada gambar lain. Dua sosok orang.

"Ini adalah pemimpin orasi di lapangan. Satu lagi adalah pemesan". Ia berbicara terus dengan begitu cepat dan bisa dipahami. Menurutnya, aksi turun ke jalan yang sudah ia ikuti berkali-kali hanyalah semacam dagelan, eksploitasi oleh si orator kepada kerumunan mahasiswa baru yang mereka ajak. 

"Dia bilang ini, mahasiswa yang hanya menghabiskan buku, duduk di kelas, apa gunanya? Tapi di saat yang lain, dia gunakan kita dengan bahasa itu hanya untuk mengisi perutnya yang kosong. Kita tidak tahu dan ia sendiri tidak pernah terbuka kepada kita semua berapa uang yang ia terima?".

Ia akhirnya membuat kesimpulan yang menonjok. Ini bukan perjuangan menyuarakan rakyat. Ini bisnis. Dia menuduh sang orator melakukan aksi turun jalan sekedar sebagai pesanan. 

"Kita semua dibodohi. Kebodohan kita terletak dari minimnya informasi yang kita punya. Betapa dia menang banyak. Dan kita menang sedikit. Hahaha".


"Kita semua dibodohi. Kebodohan kita terletak dari minimnya informasi yang kita punya. Betapa dia menang banyak. Dan kita menang sedikit. Hahaha".


 

0Comments

Previous Post Next Post

ads