Penulis : Abdullah SP

Markaban ingat sesuatu. “Kab”.

“Ya, kau mau mengarang lagi si Juminah yang sudah jadi istri orang itu?”.

“Bukan itu, ngomong-ngomong betul si Juningkrah mau jadi kepala desa?”

“Calon kepala desa”, koreksi Murakkab dengan gayanya, dan menikmati rokok satu-satunya milik Markaban.

“Mau jadi kepala desa?”

“Calon kepala desa”, koreksinya lagi, “ya kayaknya begitu”. 

Markaban diam sejenak. Dahinya mengerut. Telunjuknya ditempelkan ke dahinya. Murakkab sudah akrab dengan adegan begitu. Si gila pura-pura mikir, pikir Murakkab. 

“Kab, kalo Juningrab jadi nyalon kepala desa, peta politik bisa berubah”. Amboi. Aku pun kaget. Dari mana Markaban punya istilah itu. Peta politik!

“Ban, peta politik apa? Dari mana kau tahu kata-kata begitu? Terus?”.

“Jadi gini, Kab. Kau itu tidak pinter. Dengerin dulu”. Murakkab jelas tersinggung, dan ia hendak membantah andai saja Markaban tidak segera melirik ke satu-satunya rokok yang dicuri sahabatnya itu. Murakkab mengalah. 

“Juningrah itu banyak kawannya. Anak-anak mudanya buannyakk, Kab. Kan kau tau sendiri, anak-anak sekarang pinter-pinter”.

Waktu Juningrah dan kawan-kawannya berkumpul di rumahku, ternyata Markaban ikut nguping dari luar. Ia mendengarkan beberapa kata-kata seperti strategi, politik identitas, politik belah bambu, politik uang, serangan fajar, pencitraan, dan sebagainya. Tapi Markaban tentu tak bisa mengingat semuanya. Ia hanya menangkap sedikit-sedikit. Tapi yang sedikit-sedikit itu menjadi banyak dalam bualan Markaban.

Juningrah adalah sarjana ilmu politik. Di kampus, ia terbiasa malang-melintang di dunia organisasi. Prestasi politiknya menakjubkan. Dari presiden BEM jurusan, fakultas hingga universitas, semua itu dilalui Juningrah. Rival-rival politiknya mengakui, Junigrah adalah anak kampung dengan siasat politik yang mengagumkan. 

Juningrah tau betul membuat rival-rival politiknya saling terbelah dan berperang. Sehingga ia dan kelompoknya bisa semakin solid. Ia tahu melakukan pencitraan politik yang baik di waktu yang tepat. Di kampusnya, ia menggunakan program-program yang aduhai kerennya hanya untuk sekedar menarik simpati pemilihnya. Ia memang pandai retorika. Di atas mimbar debat, ia bisa tebas rival-rival dalam sekali tebas. 


*


Markaban dan Murakkab juga sudah tau semua itu. Kedua orang ini memang suka sekali nongkrong sama anak-anak kampus. Jadi wajar bila cara mereka bergosip makin lihai. Kosa kata politik yang mereka ketahui makin bertambah. Tapi di tangan Markaban tentu cerita tak selurus itu.

“Kab, kampung kita ini, bakal terbelah. Kekuatan anak-anak muda, kawan-kawan Juningrah, bakal menjadi kekuatan baru. Aku senang Kab. Ini bakal jadi, eeeee… e… era baru. 

“Era baru gimana, Ban?”.

“Eeee gini, Kab. Itu yang disebut Juningrah. Era baru. Jadi era baru politik itu, gini Kab. Biar kau sedikit lebih cerdas. Era baru itu, ya kita bebas milih. Semua di hadapan politik sama, Kab. Sama. Politik kita bakal berubah. Anak-anak baru seperti Juningrah pasti membawa perubahan besar”.

“Perubahan besar apa, Ban?”

“Coba bayangkan ini, Juningrah bilang gini: kalau selama ini, politik di kampung ini bergerak lamban. Orang-orang hanya boleh memilih dengan alasan kepatuhan. Artinya, kita memilih atas nama orang lain yang kita patuhi. Ini menghambat sekali. Ini tidak boleh dibiarkan. Politik itu harus punya semangat bahwa tiap-tiap pribadi harus memilih atas kemauan dirinya sendiri. Ini baru mencerdaskan. Itu yang dikatakan Juningrah”.

“Kau mengerti itu, Ban?”

“Jangan remehkan aku, Kab. Maksudnya dia, pokoknya, kampung kita bakal berubah. Anak-anak muda itu ya pokoknya bakal jadi kekuatan baru. Politik, Kab, ini politik”.

Markaban melanjutkan: “Coba nanti kau ikut kita ngopi-ngopi, Kab. Sama anak-anak kampus. Biar otak itu bagus”.


*


Tapi Murakkab, seperti disebutkan di awal, adalah tipe orang yang sinis, pesimis, kritis, dan campuran tak mudah percaya lainnya. Tapi, tak jauh beda sama Markaban. Murakkab juga sinis dan kritisnya juga hasil ngasal dan membual. Memang tak sepenuhnya. Ia diam-diam juga sering nguping percakapan anak-anak kampus. Tapi bukan gengnya Juningrah. Ini gengnya Rupa’ie. 

Rupa’ie juga mahasiswa. Sarjana Teknik. Punya rekam jejak yang mentereng juga di kampus. Primadona politik kampus, pokoknya. Juningrah dan Rupa’ie punya pandangan politik yang beda. Tapi keduanya seorang penganut pragmatisme dalam politik. Jadi, retorika-retorika politiknya yang terdengar mulia, bernuansa menjunjung etika politik, sebenarnya hanya tameng belaka. 

Rupa’ie berada di posisi petahana. Juningrah berambisi maju sebagai oposisi. Rupa’ie dipenuhi dengan retorika yang berusaha mempertahankan kebaikan moralitas politik petahana, Juningrah berusaha membongkar seluruh selubung retorika politik petahana dengan semangat perubahan. Dua anak muda ini menjadi primadona di kampungku. 

Rupa’ie yang menangkap siasat Juningrah untuk mengalahkan petahana dengan retorika semangat perubahan, dan semangat membongkar praktik politik tradisional yang dianggap menghambat kebebasan politik yang maju, modern dan mencerdaskan, tentu saja tidak tinggal diam. Ia membuat retorika tandingan. Waktu Rupa’ie berbicara soal siasat tandingan itu, Murakkab menguping.

“Jadi, kita-kita, anak-anak kampus, harus kritis terhadap politik-politik yang datang dari kampus. Jangan berkiblat sepenuhnya pada omong kosong itu. Dalam konteks lokal kampung, kita mesti memperhatikan dan menghormati mereka yang tua, mereka yang berjasa atas kampung ini. Orang-orang tua kita, lihat, mereka hormat kepada guru, kepada sesepuh, kepada tokoh tetua di sini. Mereka semua menginginkan yang terbaik”.

“Kalau ada yang bilang, politik itu urusan individu. Setiap kita punya hak berbeda. Agama dan politik harus dipisahkan. Kita mesti sadar, dan tetap rendah hati. Kembalikan politik lokal kita pada akarnya yang arif. Berikan itu kepada sesepuh-sesepuh kita, tokoh-tokoh, ulama yang semua kita hormati. Mereka pemimpin-pemimpin kita yang sesungguhnya. 

“Atau, bila mereka tidak maju sendirinya, mari kita lihat siapa yang diberi restu oleh orang-orang itu. Aku yakin, politik lokal kita, yang mempertahankan kearifan lokalnya, itu jauh lebih baik. Kita tak menolak perubahan yang digaungkan anak-anak muda, misalnya niat baik Juningrah. Cuma perubahan itu perlu pelan-pelan. Jangan buru-buru”.


*


Murakkab menangkis gambaran-gambaran optimis tentang kekuatan muda yang datang dari Juningrah. Ia menyebut – seperti disebut Rupa’ie – Juningrah terlalu buru-buru. Kekuatan politik kampung tidak akan berubah secepat kilat. Investasi sosial yang ditanam oleh sesepuh, terutama para kiai di kampung, bakal jauh lebih kuat. Akarnya lebih berasa di masyarakat.

“Apa modal Juningrah, Ban?”

Markaban tak mau kalah debat. Seluruh gagasan yang ada di kepalanya, betapa pun ngawurnya, siap meledak di hadapan Murakkab.

“Ban, kau itu ketinggalan. Juningrah itu punya banyak jaringan. Nih, dengerin kau, dengerin, tidak sia-sia aku nguping. Junigrah bilang: ini pertarungan antara politik yang sudah ketinggalan zaman dan politk yang maju. Kau mau maju nggak. Makanya kau harus ngopi”.

“Ban, kata Rupa’ie, kita harus … eeee, kata Rupa’ie, kita harus realistis. Kata dia, ini bukan pertarungan politik kampus. Orang-orang kampung lebih banyak yang pastinya ikut dengan orang-orang sepuh, tokoh masyarakat, para kiai, bukan anak muda kayak Juningrah”.

“Kab, siapa bilang ini kampus. Ini kampung, Kab. Kampung. Tapi, Kab, ingat kata Juningrah, kampung ini akan maju. Anak-anak muda, teman-teman Juningrah, yang pinter-pinter, kita bisa apa menghadapi mereka. Mereka lebih maju, Kab. Tidak sia-sia mereka sekolah”.

“Ban”.

“Kab”.

Debat politik mereka tak pernah berakhir. Mereka berhenti karena mereka harus pulang. Tapi besok pagi, di tempat yang sama, di tengah sawah, sambil menikmati pemandangan sawah, debat mereka akan mulai lagi. 

Aku mengikuti debat-debat itu tiap hari tanpa sepengetahuan mereka.

0Comments

Previous Post Next Post

ads