Oleh : Abdullah SP


Dulu, seorang ilmuwan politik mengatakan bahwa politik dalam pengertian yang terbaik sebagai usaha untuk menata masyarakat. Dalam pengertian terburuk, politik tak lain sekedar rebutan kursi kekuasaan.

Di kampus, di ruang-ruang kelas, kami mempercayai betul hal terburuk dari politik, tapi sedikit banyak mempercayai pengertian terbaiknya. Otak kami diisi oleh optimisme buku-buku tentang politik dan etika-etikanya. Terlebih lagi bila membaca filsuf-filsuf yang memberi perhatian pada etika politik.

Tapi politik di "textbook" yang menawarkan optimisme tak banyak terlihat dalam kenyataan politik kita. Kita persempit dalam skala yang kecil, di desa tempatku.

Pertama, dengan mengacu pada politik elektoral. Politik dalam textbook memberikan optimisme bahwa politik elektoral di era demokrasi menawarkan harapan terpilihnya pemimpin berkualitas.

Tapi kita menyaksikan sendiri di depan mata, secara telanjang, pemimpin-pemimpin yang berkontestasi tak benar-benar berkualitas. Indikasinya, program yang dia tawarkan seringkali tak mencerminkan kebutuhan masyarakat.

Jika pun ada tim yang mendesain agenda kampanye politiknya, ada kegugupan dari mereka. Tak ada mekanisme yang sungguh mampu menyerap aspirasi masyarakat. Program yang mereka kampanyekan nampaknya hasil tangkap cepat dan buru-buru demi kebutuhan pelengkap politik pencitraan belaka.

Corong informasi kritis dan edukatif juga belum tumbuh. Ditambah lagi tingkat literasi yang rendah. Ditambah lagi dengan politik uang yang parahnya memperoleh justifikasi moral agama. Bayangkan, orang-orang panutan kita, yang didambakan punya kesalehan individu yang lebih baik, justru ikut dalam labirin pembenaran politik uang. Apa jadinya? 

Ini menambah daftar kelam bagi terwujudnya politik elektoral yang demokratis di desa.

Kedua, pasca elektoral, kita juga tak melihat adanya komitmen politik dalam pengertian yang baik untuk menata masyarakat. Indikasi sederhananya terlihat dari perilaku elit politiknya. Lebih khusus lagi mereka yang terdepan berkoar-koar saat kontestasi, di mana suara dan keberpihakan mereka untuk menjadi yang terdepan mewujudkan cita-cita dan kampanye politik mereka.

Saya tak menyalahkan ulama/kiai/ustadz dan tokoh agama lainnya berada di barisan depan dalam politik di desa. Toh mereka punya landasan: berpolitik demi tegaknya agama. Sehingga dalam hati, saya akan selalu menagih di mana komitmen politik mereka pasca elektoral. 

Silahkan tandai siapa pun elit politik itu. Lalu tagih, tuntut mereka.

0Comments

Previous Post Next Post

ads