Penulis : Nadira

Suasana pelatihan menulis di lokasi pondok putri.

Sejarah sebagian memang hadir lewat tuturan lisan. Tapi tulisan menjangkau lebih luas, melintas antar generasi, dan bisa hidup lebih abadi. Bila tuturan lisan mengharuskan kehadiran subjek-subjek sang penutur, tulisan tidak. Generasi demi generasi hanya perlu membacanya, dan tulisan menghadirkan sesuatu kepada mereka.

Penulis-penulis besar bahkan seringkali menyanjung tulisan terlampau berlebihan. Pramoedya Ananta Toer, misalnya. Ia menyebut menulis adalah bekerja untuk keabadian. Seolah-olah tulisan adalah suatu mahluk yang abadi. Kita tak perlu percaya sepenuhnya. Tapi separuhnya saja kita simpan di hati. Sebab tak dapat dipungkiri, tulisan bisa membuka jalan pada dunia yang tak pernah kita alami, dunia yang sudah tua, dunia yang barangkali, meminjam imajinasi Gabriel Garcia Marquez tentang Macondo: dunia yang sangat baru hingga seluruh objek di sekitarnya harus ditunjuk sebab objek-objek itu belum memiliki nama.


*


Sebagai apresiasi atas pentingnya merayakan tutur tulisan (bukan tutur lisan), Al-Miftah – lalu disusul Al-Falah, dua pesantren yang terletak di Desa Dempo Barat – menggelar pelatihan menulis. Pelatihan itu dikemas secara bertahap, beberapa kali pertemuan, dan dibuat se-“santuy” mungkin. Pengemasan ini lahir dari satu kesadaran bahwa menulis adalah sebuah keterampilan yang patut diasah. Sebagai suatu proses, maka pelatihan ini tak memberi “ruang” untuk ketergesa-gesaan, atau ke-instan-an. 

Suasana pelatihan menulis di lokasi pondok putra.

Selain itu, pelatihan kepenulisan ini juga tak menghadirkan kemasan materi yang rumit. Saat ditanya mengenai metode yang dia sajikan pada pelatihan menulis, sang mentor hanya menunjuk pada sebaris kalimat yang diungkapkan oleh Gabriel Garcia Marquez: I don’t have a method. All I do is read a lot, think a lot, and rewrite constantly. It’s not a scientific thing”.

Jadi si mentor ingin bilang gini: “Gue tuh ga punya metode khusus untuk belajar menulis. Gue baca-baca ajah sebanyak-banyaknya. Terus nulis dan menulis sebanyaknya. Ini bukan sesuatu yang ilmiah bung”. Praktis dengan mengutip kalimat itu, si mentor benar-benar hanya datang dengan membawa tubuhnya dan sedikit pengalaman yang bersemayam di batok kepalanya.


*


Hari-hari pertama, peserta datang, duduk, diam, dan mendengarkan materi dari sang mentor. Tentu tak melulu materi yang rumit, tapi juga disisipi dengan intensitas pengalaman menulis baik pengalaman dirinya secara jujur, atau mengutip cerita-cerita orang lain, penulis-penulis besar yang ia dapati di buku-buku. Tujuan utamanya, selain mengenalkan pada dunia kepenulisan, tapi juga untuk menggugah semangat menuju dunia tutur tulisan. 

Hari-hari kedua dan berikutnya, peserta tak lagi datang, duduk, diam. Tapi diikuti dengan aktivitas baru, yakni mulai diberi tugas menulis. Peserta diberikan kebebasan untuk menulis apapun. Sang mentor hanya memberikan sedikit gambaran tentang berbagai macam genre. Tapi ia tak merasa dirinya sebagai sosok yang harus mendikte peserta untuk menulis sesuai keinginannya. 

Tapi ada satu hal yang ditekankan: menulis catatan harian. Apa yang ada di tempurung kepala si mentor dengan keharusan menulis catatan harian? Mungkin sang mentor ingin melatih pembiasaan menulis saja. Catatan harian adalah hal yang paling mudah untuk ditulis. Peserta bisa mengkhayalkan apa saja untuk ditulis, mengintip sesuatu untuk jadi bahan tulisan, mendengarkan isi hatinya untuk sekedar tahu jatuh hati kepada siapakah ia dan jadilah puisi atau narasi liris yang membuat matanya berkaca-kaca.


*


Pelatihan menulis ini sudah berjalan lima kali pertemuan (di Al-Miftah) dan tiga kali pertemuan (di Al-Falah). Peserta yang terlibat tidak terlalu banyak. “Di Al-Miftah 5 orang. Di Al-Falah sekitar 8 orang untuk peserta santri putra, dan untuk santri putri belum diketahui”, kata sang Mentor, Fauzan Nur Ilahi.

Dalam pengakuan sang mentor, antusiasme peserta terhadap dunia literasi, terutama dalam hal ini tulis-menulis cukup tinggi. Bahkan di antara peserta sudah ada yang aktif menulis sebelumnya yakni berupa kumpulan cerita pendek (kumcer) dan catatan harian. “Tentu dengan plot dan kosakata yang sangat sederhana”, ucapnya.

Tapi sang mentor segera menambahkan: bahwa banyak juga di antara peserta yang nampak kurang serius mengikuti pelatihan. “Entah karena tidak mengerti pentingnya literasi, atau memang tidak mau mengerti. Atau memang malas”, ucapnya sembari tertawa.

Tetapi dari sekian kendala, ada beberapa kendala utama yang ditekankan oleh sang mentor. Antara lain minimnya wadah dan akses terhadap literatur dan kegiatan yang bisa meningkatkan kemampuan literasi mereka. Dampaknya, aktivitas literasi mereka menjadi terbatasi. Kemampuan dan teknik menulisnya menjadi kurang kaya dan sangat sederhana.


Di luar itu, hadirnya teknologi digital juga membawa dampak sampingan lain yang tak kalah buruk. Sang mentor menyebut kegilaan pada ‘game online’ menurunkan gairah, minat, dan produktifitas mereka terhadap dunia tulisan. 


Meskipun begitu, keberadaan pelatihan di Al-Miftah dan Al-Falah ini semoga dapat berlangsung secara konsisten dalam jangka panjang. Sehingga kedua pesantren ini menjadi lokomotif bagi munculnya penulis-penulis muda berbakat. 

Kalimat apa yang sering diungkapkan sebagai cara memotivasi para peserta. Sang mentor dengan tenangnya mengatakan: "Menulislah. Setidaknya kau punya harapan untuk bisa menjadi se-keren saya".

Baiklah. Sekian saja.

2Comments
  1. Baby_Novi Journal
    Baby_Novi Journal
    Muantapz

Previous Post Next Post

ads