Penulis : Sulaiman


Seorang penyair yang tak diketahui riwayat akhirnya bilang: kemerdekaan itu nasi, dimakan jadi tai. 

Penyair itu raib. Tak kembali. Tak ada yang tau. Mungkin sudah di syorga.

Orang-orang mencintai keberaniannya dan menangisi kehilangannya. Tapi cinta, tangis dan kesedihan memang sempat membangkitkan protes kepada elit. Tapi tak membuatnya kembali. 

Kehilangannya sangat politis. Perjalanan puisinya yang getol berteriak keras dan menonjok menjadi pertanda kehilangannya.

Apa yang ingin dikatakannya lewat kalimat: kemerdekaan adalah tai?

Tak ada yang tau. Sebagai penyair yang keras, ia memang kerap menggunakan sajak-sajaknya dengan daya tonjok yang kritis. Kata dan jalinan kalimat puitis di tangannya adalah senjata yang membuat wajah kuasa menjadi lebam.

Penyair itu hidup di zaman Indonesia sudah merdeka. Tapi dalam pengertian, merdeka dari penjajah Belanda. Merdeka di bawah kuasa bangsa sendiri? Di bawah orba saat itu? Saya tak bisa mengatakan sepenuhnya merdeka saat kata-kata yang tajam dan menonjok membuatnya ia hilang tanpa jelas kemana riwayatnya.

Merdeka adalah nasi. Barangkali sebuah harapan yang sinis, yang menyelinap sebagai sebuah kritik. Bahwa sesungguhnya kata yang paling tepat mewakili kemerdekaan sejati adalah terdistribusinya kesejahteraan yang sesungguhnya. Nasi. Sesuatu yang bisa dimakan. 

Sementara kesenjangan-kesenjangan yang masih memisahkan antara yang kaya dan yang miskin, menjadikan yang kaya istimewa dan yang miskin terus terdera, antara yang bisa makan dan yang susah untuk sesuap belaka adalah hakikat kenyataan yang mencerminkan bahwa tugas menuju kemerdekaan belum mencapai titik yang diinginkan.

Merdeka adalah nasi. Dimakan jadi tai. 

Ini kalimat yang paling puitis untuk merayakan kemerdekaan. Ini sebuah alarm yang paling menggigit bahwa perayaan dalam segala bentuk aksesoris apapun tentang kemerdekaan hanya mungkin punya arti apabila capaian untuk terdistribusinya kekayaan bisa terwujud kepada seluruh bangsa ini.

Kita ingin merasakan semua orang bisa merasakan nikmat kemerdekaan dengan perut yang kenyang dan bisa ber-tai dengan nyaman dan tenang.


Merdeka Wiji Thukul.

0Comments

Previous Post Next Post

ads