Penulis : Ben 

Ilustrasi : boombastis.com

Yang membuat saya jengkel nonton film itu, tokoh-tokoh antagonis itu selalu terlihat lebih superior daripada yang protagonis.

Di Tilik, saya anggap Bu Tedjo sebagai tokoh antagonis. Omongannya yang pedas, tukang gibah, dan ekspresinya bikin saya tergelitik untuk memuntahkan 'sampah' ke mukanya.

Tapi kenyataannya, sepanjang film itu, Bu Tedjo malah paling superior. Yu Ning yang terlihat sebagai protagonis, yang berusaha mengimbangi 'congor' Bu Tedjo, nyatanya gagal menghabisi Bu Tedjo.

Bu Tedjo terlihat superior dan lebih punya pengaruh sepanjang cerita dimulai hingga akhir. Ibu-ibu lain di truk, meskipun kadang-kadang membenarkan Yu Ning, kenyataannya Bu Tedjo seolah lebih didengar. Dan di akhir, kekeliruan kecil Yu Ning yang kurang cermat komunikasi dengan Dian dan berakibat kunjungan mereka gagal bertemu Bu Lurah yang sakit justru menambah semakin kurangnya pengaruh Yu Ning dan dimanfaatkan Bu Tedjo untuk semakin menonjolkan pengaruhnya dengan menawarkan sesuatu yang solutif: belanja ke pasar.


Coba kenapa Bu Tedjo dibuat superior? 

Padahal saya membayangkan harusnya begini: Bu Tedjo, si tukang gosip, si tukang nyari kesalahan orang, doyan 'ngunyah' info dari medsos, dan kabar-kabar lain, dihajar babak belur oleh Yu Ning. Dihajar dengan kata-kata yang lebih masuk akal. Saya berharap Yu Ning itu lebih tampil superior dengan kelihaiannya berkata-kata, kelihaiannya mematahkan seluruh bacotan si Bu Tedjo.

Padahal saya berharap Yu Ning itu protagonis yang bisa membungkam congor Bu Tedjo. Kenyataannya Tilik tak memenangkan Yu Ning. Memang tidak ada yang menang dan kalah. Mereka, baik Bu Tedjo atau Yu Ning, dan ibu-ibu lainnya hanya menggosip. Tapi bila setidaknya Yu Ning ditampilkan sama 'galak'-nya dengan Bu Tedjo, setidaknya saya, yang benci dengan tukang gibah, sedikit punya sesuatu yang bisa dibanggakan: nih loh, Yu Ning si galak yang baik, yang bisa bungkam mulut-mulut tukang gibah. Kan gitu.

0Comments

Previous Post Next Post

ads