Penulis : Sulaiman


Sebuah kepala manusia ditemukan warga tergeletak sendirian. Ia ditinggalkan bagian tubuhnya yang lain. Tak ada yang tahu tubuh siapa yang rela meninggalkan kepala itu.

Pagi itu, kegaduhan segera menyergap warga dan diriku yang sedang menulis beberapa kalimat dan tak pernah selesai sebelum dimulai. 

Kegaduhan itu membuatku tak bisa berbuat apa-apa selain menyisakan rasa penasaran. Kuputuskan beranjak keluar.

Aku tak dapat melihat kepala itu. Orang-orang mengerubunginya. Terpaksa aku berjalan lebih dekat dan menerobos kerumunan warga yang mengitari seonggok daging yang bisa berpikir itu. 

Orang-orang menatapku dengan mata terbelalak. Bola mata mereka ingin meloncat. Kaget. Mereka pikir aku apa? 

Ada yang menjerit histeris. Ada yang hendak memuntahkan kata-kata tapi tertahan. Ada yang terjatuh pingsan. 

"Ini apa-apaan?", pikirku saat aku sudah berdiri di depan kepala itu. 

Beberapa saat, aku terpaku memandang kepala tanpa tubuh itu dan aku seolah merasakan hubungan yang intim dengan kepala itu.

Saat aku melihat lebih detail bagian-bagian kepala itu, aku mengingat sesuatu: mata itu pernah melekat pada tubuhku. Rambut itu pernah aku sisir setiap hari saat hendak berjumpa kekasihku. Hidung dan bibir itu, sesuatu yang dari sana kekasihku begitu tergoda. Bibir itu dilahap habis oleh kekasihku.

Apakah itu kepalaku yang hilang?

0Comments

Previous Post Next Post

ads