Penulis : Abdullah SP

Anggaplah gelar itu seperti gadis cantik yang menunjukkan lekuk tubuhnya, dan aku seorang anak remaja yang baru lulus dari sekolah. Saat itu, setiap kali berjumpa dengan anak-anak mahasiswa, kalangan yang sedang terengah-engah menggapai gelar S1, imajinasi yang muncul: mereka luar biasa, pasti otaknya sudah diisi dengan buku-buku, oh pengalamannya sudah malang-melintang, oh mereka jadi anak kota, dan lain-lain.

Maka para orang tua, dengan kekayaan yang hanya cukup untuk ‘numpang lewat’ di perut, harap-harap cemas, dan mengelus-elus dada. Beruntung kalau sang anak tak banyak tingkah dan tak sepenuhnya mengandalkan mereka untuk sebagian atau seluruh pembiayaan kuliahnya. Dan imajinasi itu makin menguat pada diri sang anak.

Imajinasi – betapa pun kuatnya – hanyalah realitas imajiner, tak kasat mata, hanya tumbuh dan mengawang dalam tempurung kepala. Saat aku benar-benar menjadi mahasiswa, memang betul, ada suasana baru yang terasa. Perpeloncoan waktu itu masih ada. Senior-senior bertingkah ‘tua’, dan junior-junior dipaksa jadi anak-anak yang selalu ‘salah’. Tak apalah. Perpeloncoan, ditinjau waktu itu, adalah suatu hal positif, untuk menggembleng mental, pokoknya edukatif gitu. 
Tapi akhirnya zaman baru datang ke kampus-kampus dan mengutuk kejahiliyahan perpeloncoan itu. Saat itu, aku tak mendengar lagi perpeloncoan. Dan realitas-realitas lain tentang kampus beradatangan dan serasa mengingkari janji imajinasi.

Realitas imajiner tentang S1, misalnya, juga akhirnya seolah berubah dimakan usia. Kakak-kakak senior keluar dari kampus dengan gelar S1 dengan hanya bisa tertawa bahagia sehari saja: hari wisuda. Besoknya, tawa itu lenyap seperti dicolong nasib yang sedang menunggu penghukuman di hadapannya. Nasib pengangguran. Bahkan sebagai gadis yang mulai menua, seolah malu menyandang gelar itu. Disimpannya jauh-jauh. Kalau tidak, S1 memberi beban baru: kegengsian. Dan gengsi ini jadi penyakit yang membuat kita pilih-pilih pekerjaan.

Melihat pada penghukuman nasib yang menunggu di hadapan kita, suasana mengejar S1 tak lagi menjadi perayaan mengejar gadis cantik yang akan memberikan kebahagiaan tapi seakan hanya jadi kewajiban memperolehnya karena kita sudah terlanjur cinta, menjalin janji, dan kita sudah tunangan lama dengannya. Kalo tak lanjut, kita dikutuk gagal. Kalo diraih, ya kita jadi manusia berhasil yang diam-diam menikmati kegagalan.

Singkatnya suasana mengejar S1 berubah menjadi suasana muram tentang keadaan absurd bahwa mau tidak mau kita harus meraihnya dan melewatinya. Kita meraih gelar itu untuk kemudian memperoleh justifikasi yang sah: pengangguran yang bergelar S1. Bagaimana menarik kan? Mari kita tertawa.
Tapi harap cerita buruk ini tak membuat kita jatuh dalam kubangan kekecewaan yang mendalam. Saya hanya belum mengatakan bahwa banyak pula yang akhirnya mengikuti gelombang arus yang ada, pasrah pada apa yang diberikan kehidupan, berjuang dengan mengandalkan apa yang dia mampu, dan kekecewaan akibat ekspektasi yang tak sesuai dijanjikan S1 tak membuatnya mati. 

Pada titik ini, yang perlu kita dudukkan adalah perkara memandang S1 atau kuliah secara umum. Seiring waktu, menjadi anak kuliahan bukanlah suatu keistimewaan. Kata filsuf yang lagi viral: ijazah bukan tanda kita pernah berpikir, ijazah hanya tanda kita pernah sekolah. Jadi berhentilah mengglorifikasi diri menjadi mahasiswa. Dengan berhenti mengglorifikasi diri sebagai mahasiswa, maka setidaknya kita memberi ruang untuk mengembalikan diri bahwa mahasiswa dan non-mahasiswa adalah sama-sama manusia. Mahasiswa dan petani kampung yang belepotan tanah adalah sama-sama manusia. Cara berpikir ini bisa mengubah cara kita melihat sekeliling kita dan membuat kita bisa lebih bijaksana untuk berbaur. Status diri sebagai mahasiswa bukanlah suatu posisi hirarkis yang lebih tinggi dari masyarakat pada umumnya.

Selain itu, dengan berhenti mengglorifikasi diri sebagai mahasiswa, berilah ruang untuk mulai bertanya-tanya: apa sesungguhnya fungsi menjadi mahasiswa terutama di era kini? Apa yang dituju dari duduk tiap hari di kelas dan mendengarkan dosen berceloteh di depan? Apa benar tujuan menjadi mahasiswa adalah untuk akhirnya menjadi buruh di perusahaan besar yang mengandalkan otak bukan otot? Apa benar yang dibutuhkan adalah keahlian teknis bukan kemampuan berpikir layaknya filsuf? 
Pertanyaan-pertanyaan itu tentu tak membuatmu mulia, atau tak membuatmu jadi Socrates? Memang tidak diarahkan ke sana. Tapi pertanyaan-pertanyaan itu hanya untuk membuat kita menjadi mahasiswa yang bisa berpikir dan menjadi jalan bagi keluasan pikiranmu. Setidaknya dengan semakin banyak melatih diri berpikir, di situ keterbukaan diri terasah untuk menerima apapun yang bakal terjadi di hadapan kita. 

Nah terlalu panjang sok menggurui kan. Maaf-maaf, berasa tua. Tapi pada akhirnya, maaf menggurui lagi, kita perlu memandang S1 sebagai hadiah yang tidak lebih berharga dari proses dan pengalaman yang kita jalani, kesabaran dan kemampuan kita. Jika kita sudah jatuh cinta pada gelar S1, harap tak membuat kita terjebak pada kata: “tanpa mu (S1), aku tak bisa hidup”. Harap jangan sebucin itu. Tidak baik bagi kesehatan.

Sebaiknya kalian seperti saya. Mengibul saja dari awal hingga akhir tulisan demi merayakan keberhasilan yang tertunda.
0Comments

Previous Post Next Post

ads