Penulis : Ratna

Tangga baca di Ponpes Al-Miftah, Dempo Barat

Status whatsapp seorang kawan menampilkan banner bertuliskan: “Tangga Baca Al-Miftah”, dan beberapa baris tulisan di bawahnya yang tenggelam di belakang deretan buku. Banner itu tertempel ke sebuah tembok, entahlah itu tembok apa. 

Yang pasti, itu bukan tembok Berlin. Pertama, potongan gambar di pinggirnya tidak mendukung. Kedua, si pemilik status, sudah pasti hanyalah anak desa yang, mau mengeluh gimanapun, tak mungkin bisa ke Berlin. Lokasi itu, dari namanya, saya yakin itu sebuah pesantren yang beberapa hari lalu juga ditulis oleh rontal.id.

Si pemilik status menuliskan, dan nampaknya dengan pikiran yang didorong semangat: Tumbuh subur literasi! Saya jelas lebih suka status semacam ini daripada status-status lain yang terlihat hanya menampilkan kesan-kesan narsistik dirinya. Oh sorry, kok jadi “ngegibah”. 

Status itu membuat saya sedikit bersemangat dan menghadirkan suasana gembira. Dunia literasi sedang menggeliat di desa. Memang bukan hal yang baru. Banyak desa sudah maju dalam dunia literasi. Tapi entah kenapa, suasana geliat literasi di desa selalu saja membuat saya bahagia. Mungkin ini muncul dari kesan-kesan saya tentang desa yang identik dengan “keterbelakangan” dalam semua bidang, termasuk bidang literasi, dan di sisi lain, kota yang identik dengan “kemajuan”.

Memang pikiran saya sudah kadung “stereotipe”, kadung terjebak dalam tata pikiran yang seperti itu. Harus saya akui, pikiran saya suka sekali mengglorifikasi kehidupan kota yang serba maju. Tapi bukan itu poinnya, maaf bikin anda tidak fokus. Poinnya saya suka dengan status anak itu.

Persoalan utama dunia literasi di desa, perkampungan, atau pedalaman, terletak pada kurangnya ketersediaan infrastruktur yang mendukung dunia baca. Salah satu infrastruktur dunia bacaan adalah perpustakaan. Sejauh saya hidup di desa, dulu, entah sekarang, kalau perpustakaan dalam pengertian fisik, yakni bangunan fisik yang di dalamnya berisi koleksi buku-buku bacaan, pesantren-pesantren menyediakan.

Tapi, sebagai seorang yang dulu (ingat dulu) berasal dari pesantren kecil, ketersediaan perpustakaan ya sekedar ada, tapi tak menggoda. Setidaknya di mata saya. Apa masalahnya? Begini (mari lebih serius). Pertama, perpustakaan itu tidak dikelola dengan baik. Ia seolah sekedar sebagai pajangan pelengkap bahwa sekolah tersebut memiliki perpustakaan. 

Kedua, ketersediaan koleksi buku juga tidak menarik minat baca. Koleksi buku yang ditemui lebih banyak seputar materi sekolah, buku-buku yang membosankan, tidak menghibur, dan kosa-kata lain yang bisa muncul dari seorang yang pemalas baca seperti saya. 

Melihat persoalan ini, saya kagum dengan inisiatif yang diambil oleh beberapa sekolah dengan menggalakkan taman baca. Inisiatif ini mungkin berangkat dari situasi kemandekan perpustakaan yang gagal melakukan langkah-langkah yang “menggoda”. Taman baca lebih dirasa mewakili suasana “santuy”, suasana ngopi, dan suasana-suasana yang mengesankan cairnya formalitas-rutinitas membosankan belajar. 

Tangga Baca, yang muncul di status WA teman saya ini, nampaknya terbentuk di antara lingkaran bangunan suasana yang berhasil mendobrak formalitas-rutinitas membosankan itu. Tangga Baca itu hadir sebagai alternatif literasi ketika wujud fisik perpustakaan gagal bertransformasi lebih “uwuw” di mata siswa. Bayangkan, di waktu istirahat sekolah yang singkat, anda bisa duduk di bawah rerindang pepohonan, ditemani secangkir kopi seharga Rp. 1000 (sebelum pandemi) dari Mpok Minah di samping sekolah, sambil membaca puisi-puisi Djoko Sapardi Damono yang dipenuhi kalimat-kalimat romantis, atau puisi-puisi Wiji Thukul yang membuatmu berkali-kali menenggak kopinya dengan aura marah, atau karya-karya lainnya. Keren kan.

Dalam salah satu wawancara dengan pengasuh Tangga Baca, taman bacaan itu memang dibentuk sebagai upaya untuk mewujudkan semangat belajar yang “memerdekakan”. Jangan bayangkan anda belajar dengan bambu runcing. Jelas tak seperti itu. Tapi, “belajar yang memerdekakan” dibayangkannya sebagai cara belajar di mana siswa-siswanya diberi kebebasan untuk mencintai ilmu pengetahuan dengan caranya mereka sendiri. Ingat mencintai ilmu pengetahuan itu hak asasi manusia. Sehingga cara mencintainya pun tidak boleh diatur berlebihan. 

Itu yang kubayangkan. Tapi ini yang kudengar darinya: kemerdekaan belajar yang dimaksudnya adalah berupa terwujudnya minat dan kecintaan siswa kepada dunia pengetahuan melalui kecintaannya membaca buku. Tangga Baca adalah salah satu jalur untuk menimbulkan minat baca dan seterusnya mencintai ilmu pengetahuan. Orang bijak bilang: buku adalah jendela dunia. Maka Tangga Baca hendak membiarkan siswa-siswa di sana menilik dunia pengetahuan yang luas melalui pintu-pintu yang disediakan oleh buku-buku bacaan. Nah, seruput lagi kopimu, Ben.

Selain soal inovasi suasana yang jauh dari kesan formal, Tangga Baca juga lebih progresif untuk membaca semangat menghadirkan bacaan. Siswa-siswa tentu jenuh dengan suasana formal pelajaran. Maka alternatif bacaan dibutuhkan. Sehingga bacaan-bacaan yang menghibur, yang sesuai dengan usia mereka, menjadi hal penting yang harus ada di taman baca itu. Bacaan-bacaan fiksi atau yang semi-fiksi menjadi salah satu pilihan yang begitu digandrungi. 

Pengasuh taman baca juga harus mampu terus meningkatkan interaksi dengan dunia baca yang sedang berkembang baik di tingkat nasional maupun global. Akses ke arah itu saat ini semakin dimudahkan oleh hadirnya media sosial seperti facebook, twitter, dan instagram. Di sana, anda bisa berinteraksi dengan buku, penulis buku, resensi yang “apik-apik” (sedikit jowo), dan seterusnya membuat kita terkagum-kagum dengan dunia literasi itu. 

Penulis, sebagai anak IG (dibaca gaul: “anak AIGEH”), cukup senang melihat perkembangan toko buku, reseller buku, penulis yang aktif di medsos, dan beberapa penerbitan yang aktif menghadirkan buku-buku terbitan baru, terjemahan baru (meskipun buku lama) ke dalam bahasa kita, Indonesia. Ini justru merupakan hal yang bisa memompa semangat baca kita. Dan ini bisa menjadi medium bagi kita semua untuk menggiatkan dunia literasi di sekolah, terutama di daerah yang masih tertinggal.

Apakah kawan si pemilik status WA adalah mahluk yang tertinggal sehingga saya sedemikian bahagia melihat ia sedikit berkoar: Tumbuh subur literasi? Bukan itu soalnya.

0Comments

Previous Post Next Post

ads