Penulis : Moh. Halil


Pemilihan kepala daerah sejatinya untuk mencari pemimpin berkualitas dan memiliki program kerja yang jelas.  Namun terkadang jauh panggang  dari api. Adu gagasan dan program seolah hanya ada di sehelai kertas untuk memenuhi persyaratan saja.  Sebab para kandidat yang turun ke bawah menemui para konstituennya seakan lupa dengan itu semua. 

Program dan kemampuan diri menjadi pilihan nomor sekian.  Paling penting sang calon harus dikenal dulu oleh masyarakat. Seperti peribahasa lama, "tak kenal maka tak sayang".

Untuk bisa dikenal oleh publik tentu tidak mudah, karena terkadang mereka memang tidak memiliki rekam jejak yang mentereng.

Selanjutnya tim sukses dan para konsultan politik mencari jalan pintas untuk setidaknya kandidat tadi bisa membekas di benak para pemilih. Maklum konsultan politik memang sedikit pandai mencabik-cabik perasaan masyarakat. 

Tentu untuk sebatas dikenal, tidak butuh banyak program yang ditawarkan. Karena seringkali pilihan yang satu ini kurang memikat basis pemilihannya. 

Di sudut yang berbeda, hal di atas bukan murni kesalahan sang calon atau konsultan tadi. Memang seperti itulah pangsa pasarnya. Dan Jika digali lebih dalam lagi, ini berkaitan dengan banyak hal. Sebut saja disebabkan oleh latarbelakang pendidikan, ekonomi, sosial budaya dan sebagainya. Sehingga strategi yang tepat yakni membuat akronim sebagus mungkin. 

Akronim yang dimaksud terkadang merupakan singkatan dari pasangan calon. Semisal SALAM, yang diambil dari nama Salman dan Amrul. Teknologi akronim ini  akan menggiring psikologi massa,  dan bahkan membuahkan kepatuhan. 

Semakin banyak orang yang mengucapkannya,  baik di warung kopi atau tempat-tempat lain,  maka akan  memiliki efek bola salju. Semakin lama semakin banyak yang mengenal yang bersangkutan.

Akronim inilah yang akan selalu digembar-gemborkan. Sehingga ketika seseorang mengatakan SALAM, ia akan merujuk pada satu kandidat tertentu. Soal siapa yang menang, itu lain hal.

0Comments

Previous Post Next Post

ads