Oleh : DENI


Terakhir Kali yang Tak Terjadi

Perempuan muda itu tak dapat menahan air matanya yang terus mengalir. Matanya jadi sembap. Kujauhkan sang anak darinya agar sedihnya mereda dan mungkin bisa menghilang. Tapi entah mengapa usaha ini seakan sia-sia saja dan membuatku merasa semakin bersalah. 


1


Di minggu pagi, aku bangun dengan keadaan pusing. Sebenarnya, aku tak mau berpisah dengan bantal. Ini adalah resiko yang harus ditanggung dari apa yang sudah kulakukan. Tubuhku yang telanjang satu persatu tertutupi pakaian. Celana dalam. Baju. Celana luar. 

Bau muntahan semalam yang melekat membuat celana ini terasa tidak enak dipakai. Sial! Tak ada pakaian lain yang bisa kukenakan. Segera aku pergi meninggalkan dua sosok tubuh yang terkapar. 


2


Malam sudah sepi. Aku menyelinap ke dalam rumah yang sudah tak pantas dibilang rumah.  Atap asbes yang tengahnya sudah bolong akibat tertimpa dahan pohon di samping rumah. Kaki-kaki rumah yang menunjangnya hampir patah akibat dimakan rayap. Dan belum lagi di di dalam rumah tersebut.  

"Buat apa aku menyelinap? Toh tidak akan ada yang mencurigaiku jika aku masuk. Orang juga akan menganggap ini adalah kandang sapi yang tak berharga", pikirku.


3


Kilau-kilau lampu gerlap-gerlip membuat suasana malam ini semakin menyenangkan. Liuk-liuk tubuh mengikuti alunan musik yang menggebu-gebu itu. Semakin malam, suasana semakin panas saja. Gelas demi gelas kami teguk, dan berjoget. Terus seperti itu.  Sehingga badan yang sangat ringan ini, tak mampu ditopang dengan kaki yang sempoyongan dan membuatku jatuh, tersungkur ke depan, pada tubuh perempuan, yang juga sedang asik berjoget.


4


"Latsri... aku butuh uang.  Cepat berikan uangmu", pinta Tono pada Istrinya.

"Aku takkan memberikan uangku padamu. Tak akan pernah", balas Lastri.

"Apa kau bilang?", Tono mencekik leher istrinya. "Cepat berikan uangmu atau kau memang tidak sayang nyawamu hahh?!".

"Aku tidak punya uang sepeserpun, Ton.  Uangku sudah habis, karena kau ambil terus".

"Halah. Kau pasti bohong. Uangmu banyak, mana mungkin habis. Kalau kau tidak mau memberikan”, Tono mengancam seperti setan, “akan kuambil sendiri".

Tas, bantal, kasur, rak meja dan arang-barang lain yang dianggap menyimpan uang Lastri tak mampu menahan kuasa Tono. Nasib mereka menyedihkan. Porak-poranda. Namun lelaki itu tak menemukan sepeser pun uang istrinya. Ia tak puas. Masih ada satu tempat yang belum dijamah, pikirnya. Mata Tono langsung menuju tempat yang masih rapi, tak seperti yang lainnya yang sudah dihambur-hamburkan.

"Aku tahu. Kau pasti menyembunyikannya di lemari kan?! Mau mencoba membodohiku?".

Tanpa berlama-lama, Tono menuju lemari. Namun, dari belakang, Lastri mencoba mencegahnya dengan menarik tubuh sang suami yang lebih besar dari tubuhnya. Jelas usahanya sia-sia saja, malahan membuat Tono semakin marah dan bengis. Tangan yang kekar itu mendorong Lastri yang bertubuh kecil dengan kencangnya sampai terjatuh. Tak berhenti sampai situ, Tono masih bertindak keras kapada Lastri dengan memukul Lastri hingga babak belur. 


5


Lalu kami bertiga berjalan dengan kaki yang sempoyongan. Bicara melantur seakan tak peduli dengan orang-orang di sekitar kami, yang sedang memandang kami.

"Broo.  Kita cari penginapan dulu, kasihan teman baru kita. Sangat letih akibat berjoget tadi. Apalagi kau tadi menimpa teman kita ini, dengan tubuh baumu" usul Tono.

Si Bangsat Tono. Apa yang ingin dia lakukan pada tubuh perempuan itu? Padahal istrinya jauh lebih cantik, pikirku.

"Bagaimana bro?"

Sebetulnya aku tidak mau. Perempuan itu sangat jauh dari seleraku. Tapi berhubung sudah lama mesinku tak bekerja. Aku mengiyakan saja. 

Tono mencari penginapan untuk melepaskan hasrat kami berdua pada kawan baru ini.  


6


"Bangsat kau!" ucap Tono melalui handphone. “Kau memang bangsat. Kau langsung pergi saja tanpa membangunkanku. Sialan!! Bla.. Bla.. Bla..”.

Aku terbahak-bahak mendengarnya, dan membalasnya dengan: "Siapa suruh kau nyenyak di tempat tidur yang nyaman itu dengan seorang teman wanita hah?" sambil tertawa.

"Bangsat kau! Aku hampir malu setengah mati bersama orang buruk rupa itu" ucap Tono.

"Kau sendiri yang punya rencana. Kenapa aku yang disalahkan?" 

"Kenapa kau tak bilang semalam. Sumpah aku mau muntah melihatnya. Sudah-sudah, aku mau ke rumahmu saja".

"Istrimu tak menunggumu di rumah?" 

"Aku lagi ada masalah. Nanti kuceritakan di rumahmu saja, oke?" 

"Oke" ucapku

 

7


"shuttt, shuttt, shuttt" bunyi pisau menancap ke dalam daging. Darah berhamburan. Pisau itu berkali-kali menancap tubuh yang penuh lemak. Sialnya kejadian itu tepat di depanku. Membuat badanku kaku, seperti kayu, melihat darah yang sudah tercecer di lantai. 

Tono kini sebuah tubuh tanpa nyawa. Tergeletak di lantai. Si pembunuh Tono itu menatap dan menuju padaku. Sialan kau Tono. Sekarang akulah yang akan mati! Kenapa kau membawaku kepada masalah ini? pikirku.

"Di mana rumah Tono?" ia memelototkan matanya padaku dengan pisau berwarna merah darah di tangannya. 

"Di…di…di sana,  Komplek Banyu Asih, yang ada pohon besar di sampingnya".

Lalu tanpa berkata-kata lagi, pembunuh itu segera pergi meninggalkan Tono yang sudah terkapar tak bernyawa di lantai dan aku yang berdiri kaku. 


8


“Bajingan kau Tono, sesudah kau mengambil uang sekolah anakmu, yang sudah menunggak setahun lebih. Tega-tenganya kau juga mengambil rumah satu-satunya, tempat anakmu tidur. Apa kau memang berniat menjadikan aku Lonte?! Dengan membuatku seperti ini?  Aku tidak apa-apa, jika aku jadi lonte. Tapi bagaimana nasib anakmu itu?  Jika tahu ibunya adalah seorang Lonte hah? Bagaimana dia harus makan nanti? Alat gerobak untuk berjualan sudah disita oleh orang-orang itu.  Bagaimana Tono??? Bagaimana kami mau makan..?”.

Di saat mencapai puncak kekesalannya, Lastri mencakar-cakar kuburan suaminya. Aku coba menghentikan kegilaan itu tetapi badan yang mungil itu seperti sudah kerasukan sehingga aku tak bisa menghentikannya. Ia terus menggali dengan tangannya. Tak lama ia sudah sampai pada batu penutup jenazah suaminya. 

Sambil berteriak, ia mengangkat batu penahan tanah itu. Lalu dilemparnya satu persatu dari lubang kuburan itu. Ia buka kain kafan suaminya. Ia cabik-cabik daging yang tak bernyawa itu. Ia memakannya seolah ia mahluk yang begitu kelaparan.

Isi dalam perut Tono berloncat-loncatan keluar.  

"Dagingmu Ton, akan kuhidangkan pada anakmu agar dia tidak mati kelaparan. Semua ini ulahmu, jadi kau harus bertanggung jawab”, lalu Lastri tertawa dengan nyaringnya. 

Aku mulai mual melihat adegan itu. Aku mual membayangkan potongan daging kawanku yang bakal dihidangkan di atas meja makan dan dimakan lahap oleh anaknya sendiri. Seketika yang ada di dalam perutku keluar memikirkannya.


Deni

2Comments
  1. Arisqi
    Arisqi
    Mantap

Previous Post Next Post

ads