Penulis : Ben Yowes


Suatu malam, kami mendengar perutku bernyanyi. Nada-nadanya kacau. Kami berdua sepakat: itu tanda bahaya. Kita sedang dilanda kelaparan. Kami sepakat mencari ATM. 

ATM terdekat ada di salah satu sisi di kampus UIN Yogyakarta. Malam itu, kami langsung menuju ke sana. Agak gelap. Di titik-titik tertentu sangat gelap. Tak terlihat ada satpam. Persoalannya, lokasi ATM itu berada di area kampus yang ditutup pagar tinggi. Memanjat pagar?

Kawanku berpikir seperti filsuf. Ia duduk sebentar. Kulihat ia memperhatikan sekeliling. 

“Tak ada cara lain”, akhirnya. “Kita harus melompati memanjat pagar ini”. 

Matanya langsung tertuju padaku. Aku ingin menolak dengan berbagai macam alasan. Kelaparan yang kuderita masih menyisakan ruang sedikit untuk membantah. Pikiranku masih sedikit encer untuk menelusuri berbagai macam alasan moral yang bisa menjadi pijakan yang kuat untuk membantah tindakan-tindakan seperti ini. 

“Melompati pagar di malam buta seperti ini bukan hanya tindakan yang tidak bermoral, tapi juga bisa menerbitkan berbagai macam persangkaan buruk”, kataku. 

“Kita tak melakukan tindakan kriminal”, teriak kawanku.

Aku mendekatinya. Bergunung-gunung hasil bacaan yang numpuk di tempurung kepalaku nampaknya mulai berbaris dan siap melompat dalam barisan kata-kataku.  

“Kalo ada yang lihat, kita bisa dituduh dengan berbagai macam dugaan. Yang pasti, kita melakukan tindakan tidak disiplin”.

“Bicaramu seperti orang yang tidak sedang kelaparan”. 

Kuraba perutku. Benar, aku betul-betul kelaparan. Saat kusentuh, perutku begitu hangat. Dan riak-riak terdengar dari sana seperti kecipak air yang mulai berkurang. Oh Tuhan, perutku yang baik.

“Dengar, kita bisa berdebat nanti soal ini, kriminal atau tidak, disiplin atau tidak. Kita bisa menulis banyak buku soal ini dan berdiskusi selama mungkin dari pagi ke pagi. Kalau perlu kita sewa semua tempat ngopi yang ada di sekitar sini dan kita habiskan untuk sekedar berdebat soal ini. Tapi, sekarang mari kita penuhi dulu perut kita yang menuntut haknya ini”.

Kawanku ini seorang kutu buku. Seorang kolektor buku-buku fotocopi-an (Ia harus membagi uang untuk fotokopi buku dan makan). Tapi kalo sudah urusannya perut, dia tidak mau kompromi. Dia bahkan menolak berdiskusi dalam keadaan perut benar-benar kosong. Katanya, tidak adil berdiskusi dalam kondisi perut kosong.

“Ingat. Aku sebenarnya tidak suka berdebat dalam suasana seperti ini. Tapi kuingatkan kau, percuma kau banyak baca buku. Percuma kau manjakan otak kau dengan bacaan. Tapi jika kau sendiri tidak adil pada perutmu, itu masalah besar”. 

Aku terdiam. Kata-katanya menggema dalam pikiranku. Dan pikiran-pikiran lain seolah ikut nimbrung dan memberi dukungan pada pikiran temanku. 

“Saat ini, sudah jelas terjadi ketidakadilan pada perutmu sendiri. Pelakunya adalah dirimu sendiri. Seluruh tubuhmu akan mengutukmu. Mengutuk pikiranmu. Ingat. Sikapmu membiarkan perutmu kelaparan adalah bentuk pelanggaran paling hakiki, pengkhianatan moral tertinggi atas tubuhmu sendiri”.

Aku tidak tau apakah kalimat-kalimat itu kutipan dari buku-buku, ucapan dari tokoh yang pernah aku baca, atau sekedar akrobat bualan untuk meyakinkan diriku memanjat pagar dan mengambil uang di ATM. 

“Bagaimana kalo nanti kita dihukum”, tanyaku dalam keadaan bingung.

“Aku yang tanggung jawab. Kau hanya korban yang ditodong senjata untuk mengambil uang. Aku otak dari semua tindakan ini. Itu cukup akan membuatmu mendapat hukuman ringan. Sekarang cepat. Tidak ada waktu lagi untuk debat-debat konyol ini”.

Tak ada waktu lagi. Aku memanjat cepat dan dengan cepat aku sudah berada di area dekat lokasi ATM. Mataku yang cepat mengamati keadaan memastikan bahwa tidak ada siapa pun yang melihat aksi-aski gemilang ini. Sempat terpikir, andai ada orang melihat lompatan akrobatikku, dan terutama kalau dia seorang cewek, oh betapa bangganya aku.

“Hei, setan. Kita tak punya banyak waktu. Cepat”. 

Lamunanku segera buyar, dan aku melesat kedalam ATM. Di depan ATM, aku seolah berdiri di depan tukang jual nasi pecel yang berada di tepi sepanjang Jalan Solo di depan kampus UIN. Terbayang nasi uduk dengan asap halus yang menandakan nasi itu masih panas. Lalu tersaji sepiring berisi paha ayam yang baru digoreng, sambel yang aroma menusuk-nusuk kehidung dan tembus ke perut. Tersaji juga daun-daun wangi yang biasa terhidang di piring. 

“Membayangkan saja sudah terasa nikmat sekali. Aku pasti akan lahap sekali makannya”.

Kartu ATM kumasukkan. Di layar mesin, aku diminta memasukkan password. Aku diam sejenak. Kupejamkan mataku dan doa-doa kupanjatkan kepada Tuhan. Ini akan menjadi makanan yang begitu berkah. Paha ayam kembali melintas di pikiranku. Dan hidungku begitu bersemangat bergerak-gerak mengikuti irama hembusan nafasku. 

Aku kelamaan berdoa. Layar ATM protes. Ia mengingatkanku: mau perpanjang waktu pelayanan atau mau batal nih? Oh ATM, sabarlah. Aku tersenyum dan memperlakukannya lebih manusiawi dengan mengelus-elus tubuh robot itu. 

Aku mulai menekan angka-angka password yang acak. Kupilih menu lain dan sampailah pada pilihan informasi saldo. Ketakan “iya”, dan lalu tersaji sederet angka-angka saldo ATM. Aku tidak percaya. Aku ulangi lagi. ATM barangkali error. Tapi angka-angka itu tidak berubah. Rp. 0. Mimpiku tentang paha-paha ayam tak kan terpenuhi malam ini.

0Comments

Previous Post Next Post

ads