Penulis : Sulaiman

Aku seekor anjing. Aku tinggal bersama seorang tuan putri yang tiap hari menghabiskan waktunya untuk menuliskan cintanya yang bernasib sial pada selembar kertas.


Kertas-kertas itu ia susun dengan rapih berdasarkan urutan waktu. Satu lembar setiap hari. Pada tiap hari ketiga puluh, 30 lembar catatan itu ia kumpulkan jadi satu buku dengan dibubuhi tanda bulan dan tahun. Dalam satu tahun, ada 12 buku catatan dari kisah cintanya yang berujung sial.

Tuan putri memiliki ingatan yang kuat untuk setiap kisah pilu yang ditulisnya. Ia bisa menunjukkan hari, tanggal dan tahun berapa saat ia mengalami penolakan cinta di kantin sekolahnya dari lelaki yang bernama A, saat diputusin secara sial oleh calon kekasihnya yang bernama B yang berbulan-bulan sebelumnya saling bertukar surat-surat cinta, atau momen-momen cinta sial lainnya. Jika ia ingin bernostalgia pada momen-momen kisah pilu cintanya, ia akan mengambil catatan itu dan ia tinggal mencari tanggalnya. Dan ia akan tenggelam dalam tangis.

Keseluruhan dari catatan kisah-kisah cintanya mula-mula hanya memenuhi rak buku sekeliling kamar tidurnya, lalu memenuhi seluruh kamar tidurnya, memenuhi rak-rak yang ada di setiap kamar di rumah itu, dan seterusnya. Kini, di rumah itu hampir tidak ada tempat yang tidak ditemukan tumpukan catatan-catatan kesedihannya. Orang-orang sekitar yang mengetahui keadaan ini selalu menyebut sebuah rumah dengan tiga penghuni: seorang perempuan, seekor anjing dan catatan-catatan kesedihan dari perempuan itu.

Aku hanya seekor anjing. Aku tidak tahu apakah nasib sial cinta dari tuan putriku masih berlangsung hingga saat ini. Tapi aku bersumpah, aku masih terus menyaksikan tuan putri masih menulis surat cinta dengan mata yang selalu terlihat sembab saat ia mengakhiri kisahnya. Mungkin suatu saat nanti, aku dan dirinya bisa terusir dari rumah ini jika catatan-catatan kisah cintanya yang sial menggunung dan menguburkan rumah ini.

*

“Bobi”, suatu hari tuan putri memanggilku.

Aku menjawab dengan gonggongan yang lembut, setidaknya itu yang aku bayangkan. Ia memberi isyarat dengan melambaikan tangannya. Aku menggonggong lagi sambil berlari naik ke meja di mana tergeletak kertas yang berisi kisah cinta yang baru saja ia tulis. Aku bisa menebak kalo itu baru ditulis. Aku bisa mengendus aroma tintanya.

“Bobi, bacalah”, ia sambil menunjuk pada kertas yang berisi coretan pena yang masih terlihat basah. Aku coba memandang coretan itu.

“Ini kisah cintaku, bacakanlah bobi untukku”.

Sekali lagi aku memandangi coretan-coretan itu. Di mataku, sambungan huruf-huruf yang membentuk kata, dan kata membentuk kalimat itu terlihat samar-samar dan terlihat seperti sambungan benang-benang kusut. Aku tidak bisa menangkap di bagian mana dari coretan itu yang mengandung cerita. Tapi aku adalah seekor anjing yang tak ingin menambah kekecewaannya hati dari seorang tuan putri. Itu sebabnya aku tetap berusaha memandangi coretan-coretan itu untuk beberapa menit kemudian.

Tapi dasar anjing. Semua usahaku sia-sia. Dan tak ada harapan aku bisa memahami coretan itu. Kepalaku kini terlampau nyeri untuk terus mencari maksud dari coretan-coretan itu. Tak ada cerita di sana, kesimpulanku. Itu hanya gambaran samar-samar atau terlihat seperti sambungan benang kusut.

Kini aku menyerah setelah satu jam menyelidiki coretan itu dengan hasil yang sia-sia. Kualihkan mataku kepada tuan putri dengan tatapan penuh isyarat permohonan dan rasa bersalah. Melalui mataku, sebisa mungkin aku berusaha menyampaikan sebuah pesan kepadanya: “tuan putri, coretan itu tidak mengandung cerita apa-apa di mataku. Aku bahkan tidak bisa menangkap apakah itu sebuah coretan”.

Tuan putri terdiam beberapa saat. Ia memandangku. Wajahnya memancarkan kelembutan. Aku tak bisa menebak apa maksud pandangannya yang lembut itu.

“Tak apa-apa, bobi”, ucap dia akhirnya. Suaranya terdengar lembur. Tak ada nada kemarahan.

“Aku tau kamu memang tidak bisa baca. Maafkan aku menyiksamu untuk membaca kisah ini. Aku hanya tidak tau bagaimana lagi membaca kisah yang menceritakan perempuan pilu yang tak lain adalah diriku sendiri”.

Aku masih memandangnya meskipun ia sudah mengalihkan pandangannya pada selembar coreta kisah pilunya. Aku tenggelam dalam bayangan bahwa aku hanya seekor anjing yang tidak akan bisa memahami bahwa coretan-coretan itu adalah bahasa tulis umat manusia. Coretan-coretan itu mengandung arti yang dalam bagi si penulisnya. Ia merupakan wujud tertulis dari apa yang tersembunyi di dalam pikiran dan perasaannya.

Bisakah kelak para anjing meniru kemajuan yang dicapai tuanku, atau umat manusia umumnya? Setidaknya anjing-anjing bisa baca-tulis? Entahlah, aku hanya seekor anjing yang entah sampai kapan masih dirundung oleh keadaan buta huruf?

*

Tuan putri akhirnya hanya memintaku mendengarkan. Ia menyuruhku duduk di dekatnya. Dekat sekali. Kemampuan indera ciumku segera menangkap aroma yang begitu melenakan yang muncul dari tubuhnya. Aku memejamkan mataku sambil menikmati aroma itu. Tapi aku segera sadar, aku hanya seekor anjing dan aroma itu yang seharusnya melenakan lelaki-lelaki dari bangsa manusia bukan anjing sepertiku.

Ia mulai membaca.

“Aku berdiri dengan kepercayaan diri yang tinggi. Membawakannya sepucuk bunga untuk lelaki itu. Aku menunggunya tepat di depan pintu rumah yang sudah aku ketuk sebanyak tiga kali. Ini hari ketujuh aku mendatangi rumah itu…”

Ia membacanya begitu pelan. Ia menghargai daya serapku yang lamban. Aku tersenyum.

“Aku mendengar ketukan sepatu dari dalam. Semakin lama semakin jelas menuju ke arah pintu. Itu pasti ketuk sepatunya. Aku juga mendengar suara yang begitu aku hafal. Ketukan sepatunya. Suaranya. Kelak akan memenuhi catatan sendiri dalam catatanku…

Tak lama, pintu terbuka. Dan harapanku terhenti. Ia seorang perempuan. Teman sebangku”.

Aku mendengarkannya. Tuan putri bercerita dengan penuh penghayatan. Mungkin karena ia menceritakan seseorang yang tak lain adalah dirinya sendiri, maka setiap kali sampai pada titik yang menyedihkan sekali, suaranya terdengar bergetar, kalimat-kalimat yang diucapkannya menjadi patah-patah. Kadang ia harus berhenti untuk mengambil nafas atau untuk menyeka air matanya.

Aku sendiri merasakan sesuatu berat di kelopak mataku. Seperti ada sesuatu yang menggenang. Mungkin air mata. Anjing, apakah aku menangis? Aku tidak tau. Aku hanya seekor anjing. Jika benar aku menangis, apakah seekor anjing bisa menyeka air matanya? Kelopak mataku banjir dan seperti hendak menetes. Anjing! Aku bingung.

Tuan putri memandangku sebentar, dan seolah mengerti kebingunganku. Ia memandangku dan saat aku terhenti di titik saling bertatapan, aku seperti pasrah pada apapun yang terjadi di kelopak mataku, aku pasrah bulir hangat menggelinding di pipiku yang penuh bulu. Tuan putri mengusap mataku dengan tisu.

Lalu ia melanjutkan cerita. Aku sendiri melanjutkan keterlenaanku dalam kesedihan ceritanya dan membiarkan apapun yang akan terjadi dengan kelopak mataku. Aku tak peduli.

Di ujung cerita, muncul hal aneh yang menggebu pada diriku. Tiba-tiba aku ingin menjadi manusia. Air mata, kesedihan dan kisah-kisah pilu tuan putri berkelindan seperti memberi tenaga-tenaga kecil yang lama-lama terus tumbuh berkembang dalam diriku. Tenaga-tenaga itu mendorongku untuk menjadi sosok yang mampu mengakhiri kisah pilu sang tuan putri.

Aku hilang kesadaran bahwa aku hanya seekor anjing. Kini terbayang aku seorang manusia, tepatnya aku lelaki yang diceritakan dalam kisah pilu tuan putriku. Aku tak sengaja membaca catatan itu, dan aku mengerti sekali kedalaman perasaannya. Aku datang kepadanya dan menyatakan dari hati yang paling mendalam kepada tuan putri: sebuah kalimat yang begitu cepat dipahami, sebuah kalimat yang tak lagi memperpanjang kisah pilunya, sebuah kalimat yang menghentikan deras air matanya, sebuah kalimat yang menghentikannya dari kutukan abadi kisah cinta dan menyongsongnya pada kebahagiaan yang abadi.

Bayangan itu mencapai puncak dan aku harus mengatakan kalimat itu, harus sekali dan tidak boleh ditunda lagi. Aku menggeser posisi dudukku dan kini pandangku bertemu dengan pandangan mata tuan putri yang sembab sehabis membaca. Aku katakan kalimat itu melalui isyarat mata dan seterusnya lewat kata-kata:

“Huk-huk-huk”.

Tuan putri tersenyum. Aku sekarang merasa sebagai seekor anjing yang beruntung.


Keang Risin 2, 29 April 2020


2Comments
  1. Harlan
    Harlan
    Mantap

Previous Post This is the last post

ads