Oleh : Laras Sekar Seruni

Ilustrasi : kawaii drawings (pinterest.com)

Pancaran matahari masuk melewati celah-celah teralis yang tidak ditutupi gorden. Semalaman gorden itu tidak ditutup. Sengaja. Agar angin dapat memberikan belaian lembut kepada tubuh yang sudah beberapa kali tersentuh oleh kehangatan tanpa syarat. Akhir-akhir ini cuaca berubah semaunya. Kadang sejuk, kadang panas menyengat. Tidak peduli apakah di waktu pagi atau malam, dia lebih suka mengatur ritme temperatur sendirian.

Pelan, dia membuka selaput yang menutupi bola matanya. Cukup lama dia tersadar bahwa hari ini adalah hari pertama di awalan tahun. Kepalanya berat. Dia mencoba mengingat-ingat. Semalam habis sekitar, empat, lima botol Hennessy dalam kurun waktu tiga jam. Pantas saja. Perutnya sekarang mual, tapi tidak ingin muntah.

Tidak apalah. Lagipula dia hangover hanya setahun sekali. Merayakan momen yang telah hilang, berjejak namun kerap terhapus dimakan sang waktu. Sekarang waktunya dia menghadapi rintangan yang akan terpapar satu tahun kedepan. Kemudian akan kembali ditutup dengan empat, lima botol, mungkin Johnnie Walker. Tergantung siapa yang menyarankan minum apa. 

Kemudian nyaring terdengar suara dari ponselnya. Bukan suara panggilan masuk. Tapi suara alarm yang sengaja dia set di pukul sepuluh pagi. Ah, alarm bodoh. Aku bangun lebih dulu ketimbang kamu membangunkanku. Cemoohnya dalam hati. Percuma saja. Manusia yang hidup sering tidak mengetahui apa yang orang lain bilang jika disuarakan dari dalam hati. Bagaimana ponsel yang merupakan benda mati?

Dia adalah Dian. Dian adalah seorang perempuan yang menurut dirinya baru mencecap kehidupan. Kehidupan menurut Dian adalah kesenangan dan kehampaan. Dian sadar, dirinya pernah terombang-ambing di kala kecil sendirian. Tanpa teman, Dian bertahan. Sekarang Dian masih berjalan bersama kedua malaikat yang katanya terus mengikuti kemanapun dia melangkah. Dian tidak keberatan selama kedua malaikat itu tidak mengganggunya, atau sekedar iseng membuat Dian terjatuh di jalanan karena tersandung kaki yang sengaja dibentangkan. 

Nyawanya baru setengah ketika ada suara lain yang menghentak jantungnya. 

Tok... tok... tok...

Katanya kalau tiga kali pintu tidak kerap dibukakan, artinya tuan rumah sedang tidak ada atau tidak ingin bertemu dengan tamunya.

Tok... tok... tok...

Ketukan kedua. Nyawa Dian hampir sepenuhnya sampai. Kisah di mimpinya sudah berakhir beberapa detik yang lalu. Namun masih terngiang perkataan terakhir orang yang paling tidak ingin ditemuinya selama empat bulan terakhir itu.

“Kamu mau bayar pakai uang atau tubuh?” 

Sialan. Kata Dian dalam hati. 

Tok... tok... tok..

“Mbak Dian!!! Saya tahu kamu ada di dalam. Jangan menghindar terus!!” 

Suara itu sanggup membuat Dian terjaga sepenuhnya sekarang. Tanpa mandi, tanpa gosok gigi, Dian mengambil sepatu abu-abu yang baru dibelinya kemarin. Memakainya, kemudian menyabet tas selempang yang bertengger di antara tumpukan kertas dengan tinta yang mulai luntur.

Dian pergi ke kamar mandi. Genangan air membuat sepatu barunya sedikit basah. 

Uhh. Aku harus menyikat tempat ini nanti. Bau pesing! Kata Dian dalam hati.

Deretan sabun, pasta gigi, cukuran, dan beberapa peralatan mandi lainnya berjajar memenuhi tepian bak mandi yang bocor. Airnya, tentu saja ditampung di ember-ember yang diletakkan di ubin kamar mandi. Klosetnya berwarna keemasan. Padahal warna aslinya adalah putih, tujuh belas tahun lalu, ketika kamar kecil itu baru rampung diselesaikan.

Kemudian sepatu baru abu-abu Dian menjejak tepian bak bocor tersebut. Suara bergelimpangan terdengar yang berasal dari botol-botol berisi cairan pewangi untuk tubuh, wajah, dan rambut. Dian tidak peduli. Dengan tangkas, dia menyelinap ke dalam langit-langit kamar mandi. Dian sedikit merangkak, dengan sangat hati-hati. Karena kalau tidak, langit-langit itu bisa jebol dan urusan malah tambah runyam. 

Terlihat lubang seukuran tubuh Dian tidak jauh dari tempat Dian masuk tadi. Seperti Spider-Man yang menyelamatkan orang dari kebakaran, Dian keluar dari lubang tadi dengan hati-hati. Bedanya, tidak ada nenek-nenek atau anak kecil yang Dian bawa. Hanya tas selempang dan sepatu baru abu-abunya. Itu pun sudah dipakai oleh Dian. 

Usai alas sepatu baru abu-abu milik Dian itu menyentuh tanah, suara yang tadi membangunkan Dian terasa kian dekat.

“Kurang ajar! Sudah tujuh bulan kamu menunggak, sekarang kamu kabur?! Lihat saja kalau kamu kembali nanti. Tidak akan selamat!” suara itu terdengar marah. Maklum, dirinya juga butuh makan. Sedangkan salah satu orang yang menumpang di rumahnya kian membangkang. 

Dian berlari melewati rentetan pohon-pohon cemara. Pohon-pohon cemara terakhir yang ada di pusat kota. Mereka mengerti dan memberi Dian jalan. Biasanya, pohon-pohon cemara ini akan merapat dan membiarkan siapapun terjebak di dalamnya. Namun karena sekarang awal tahun, mereka berbaik hati dengan membukakan jalan bagi Dian.

Rumah kos tempat Dian tinggal memang berada di tengah hutan cemara. Satu-satunya hutan cemara di pusat kota. Hutan cemara kedua yang dimiliki negeri itu. Karena yang lainnya sudah habis dibuat vila.

Maka dari itu, pemilik kos ragu untuk mengejar Dian. Dia akan terjebak di tengah-tengah hutan cemara karena hatinya yang sedang marah. Jika seseorang sedang marah, pohon-pohon cemara tidak akan membiarkan orang tersebut lewat meskipun ini awal tahun. Mereka hanya memberikan jalan bagi orang-orang yang senang, penyayang, dan butuh bantuan. 

Kurang dari sepuluh menit, Dian sudah sampai di tepi jalan. Dian langsung menyetop bus yang lewat. Dengan percaya diri Dian naik. Tentu saja. Sepatunya kini tidak berlubang. Warnanya abu-abu dan masih bersih. Baru dibeli kemarin sebelum tokonya tutup karena pemiliknya ingin menyalakan kembang api. 

Bisik-bisik terdengar. Meskipun pelan namun artikulasinya jelas. Dian dapat mengerti isi dari semua bisik-bisik itu.

“Hey. Sepatunya masih bersih. Mungkin baru dicuci,” kata seorang remaja dengan baju berwarna hijau tua.

“Tidak, bodoh. Itu sepatu baru. Lihat saja, pricetag-nya belum dilepas. Pasti pemiliknya lupa. Hihihi,” seorang remaja yang duduk di sebelahnya menanggapi.

“Ah, paling sepatu kawe. Harga asli merk sepatu itu kan sangat mahal. Mana mungkin yang sanggup membelinya menaiki bus kota seperti ini. Harusnya dia naik lamborghini,” celetuk pemuda berpakaian necis dengan kemeja yang terkancing rapi dengan dasi.

“Siapa peduli barang itu asli atau bukan. Yang penting warnanya abu-abu.”

“Aku tidak suka abu-abu. Seperti rok SMA. Waktu SMA aku sering di-bully. Aku benci SMA dan abu-abu.”

“Lagipula zaman sekarang tidak ada bedanya asli atau kawe. Yang penting bisa dipakai. Yang penting bisa makan. Kalau membeli sepatu asli bisa tidak makan berhari-hari.”

“Lebih baik sepatunya kamu makan saja gih.”

“Kalau sepatunya aku makan, nanti aku sembelit dong. Hahaha.”

Orang-orang di dalam bus sibuk mengomentari sepatu baru abu-abu punya Dian. Dian merasa senang. Dirinya mendapat perhatian. Belum pernah dirinya merasa diperhatikan seperti itu. Meskipun sebenarnya orang-orang memperhatikan sepatu yang dia pakai. Bukan dirinya.

Kemudian, Dian duduk di belakang bus. Seisi bus terlihat olehnya sekarang. Ada remaja berbaju hijau, pemuda berdasi yang mengenakan kemeja, ibu paruh baya yang membawa banyak plastik berisi belanjaan, anak kecil yang sedang menjilati permen lolipop, seorang bapak setengah telanjang yang hanya mengenakan sarung, juga kondektur dan sopir bus. Tidak beberapa lama, kondektur itu menghampiri Dian. Dia ingin meminta ongkos.

“Ongkos, ongkos,” katanya kepada Dian.

Dian kemudian membongkar tasnya. Isinya hanya sebungkus permen karet dan satu novel yang Dian pinjam dari perpustakaan daerah. Barang yang dia cari untuk membayar tidak ketemu. Dian mulai panik. Pasti tertinggal di suatu tempat. Atau memang barang itu sudah habis?

“Ayo cepat. Mana ongkosnya?” kondektur itu semakin memaksa. Dian pun semakin panik. 

“Ongkosnya hilang,” Dian akhirnya mengakui hal tersebut.

“Apa kamu bilang?! Hilang?” kondektur itu terlihat marah.

“I-iya,” jawab Dian terbata.

“Kalau begitu kamu pilih. Jika kamu ingin melanjutkan perjalanan, maka kamu harus membayarnya dengan sesuatu. Jika tidak, kamu harus turun saat ini juga,” ancam kondektur bus.

Dian bingung harus menjawab apa. Dian tidak tahu lagi dengan apa dia harus membayar. Kalau dia menukarkan ongkosnya dengan tas miliknya, maka dia tidak mempunyai tas lagi. Kalau dia menukarkan ongkosnya dengan novel milik perpustakaan daerah, pasti dia akan kena sanksi negara. Kalau dia menukarkan dengan sebungkus permen karet tidak akan cukup. Kalau dia menukarkan ongkosnya dengan sepatu baru abu-abunya...

“Sudah cukup berpikirnya. Kelamaan. Copot sepatu abu-abu kamu itu. Itu ongkos yang setimpal dengan waktuku yang sudah kamu buang untuk menagih ongkos bus. Lagipula sepatu itu cukup bagus untuk aku pakai,” ujar kondektur bus.

“Jangan! Sepatu ini baru aku beli kemarin. Aku dan dia tidak terpisahkan,” Dian berusaha menaikkan kakinya agar sepatunya tidak direbut oleh kondektur bus.

“Berikan atau kamu turun sekarang!” kata kondektur bus memaksa.

“Baik, aku turun saja,” Dian memutuskan dengan bulat.

Ketika Dian berjalan menuju pintu keluar bus, dirinya terjembab. Ternyata kondektur bus berhasil membuka tali sepatu Dian sehingga Dian tersandung. Seisi bus tertawa kecuali sopir. Sopir harus berkonsentrasi ketika mengendarai bus.

“Pak Sopir! Berhenti! Penumpang kita tidak memiliki ongkos. Dia harus turun sekarang,” teriak kondektur dari belakang bus.

Dian dipaksa berdiri dan didorong-dorong agar dirinya segera keluar dari bus. Penumpang bus yang lain hanya tertawa melihat dirinya dipaksa keluar oleh kondektur. Dian melawan. Tapi kalah. Dia sudah berada di ambang pintu bus. Sebentar lagi dirinya akan terpelanting keluar.

“Kota Akhir!!!” seru sopir bus.

Dian mendengar seruan sopir bus sebelum dirinya jatuh dari bus yang ditumpanginya. Wajahnya menyentuh aspal. Tangannya lecet. Kakinya besot. Kakinya terasa ringan. Kakinya terasa janggal. Kakinya, sudah tidak memakai sepatu baru abu-abunya lagi! Kondektur itu ternyata sangat licik karena telah mengambil sepatu baru abu-abu miliknya. 

Dian mencabik-cabik aspal di depannya. Tapi kukunya malah patah. Jarinya berdarah. Sepatu baru abu-abunya hilang. 

Dian kesal. Meraung. Tapi tidak ada yang peduli. Orang-orang sibuk dengan urusannya masing-masing di awal tahun. Lagipula ini bukan tempat pejalan kaki. Hanya mobil-mobil yang melintas dari tadi.

Sambil sesegukkan, Dian berjalan gontai. Kakinya telanjang. Tapaknya mencium tiap jengkal aspal yang membentang. Tiba-tiba Dian sadar. Kota Akhir. Dia harus ke Kota Akhir. Mungkin saja sepatunya ada di situ.

Lalu Dian melangkah. Satu demi satu. Mencengkram erat tasnya. Jangan sampai harta satu-satunya itu juga hilang. 

Matahari sedang senang hari itu. Cahayanya menyilaukan. Membuat siapa saja yang menatap langsung menjadi buta. Cahayanya menghantam ubun-ubun Dian. Tapi Dian tidak merasa kepalanya panas. Kepalanya dari tadi dipenuhi pikiran-pikiran tentang dimana sepatu baru abu-abunya itu berada. Kota Akhir. Ya, Kota Akhir.

Selama berjam-jam Dian mengarungi seluruh kota menuju Kota Akhir. Kepalanya tertunduk lesu. Dian membiarkan kedua kakinya melangkah menjemput sang kekasih. Kakinya tahu kemana kekasihnya itu berada. Dian hanya ikut saja.

Kulit kaki Dian sudah mengelupas. Aspal yang Dian lewati menyisakan jejak kaki berwarna merah. Tentu saja tidak terlihat. Aspal berwarna abu-abu tua hampir hitam. Berbeda dengan sepatu barunya yang berwarna abu-abu. Dian tidak peduli dengan rasa menusuk di kakinya. Dian ingin sepatu baru abu-abunya kembali.

Senja berada di depan mata. Dian sudah sampai di Kota Akhir. Tidak berapa lama, sopir bus tadi muncul dengan sepatu abu-abu yang sudah Dian rindukan.

“Ambillah. Ini bukan hak kondektur licik itu,” ungkap si Sopir.

Dian tidak mampu menjawab. Bibirnya terlalu kering. Lidahnya kelu. Tapi matanya berbinar. Sepatu abu-abunya kembali. Dian langsung memakai sepatu baru abu-abunya itu. Tapak kakinya menciumi sepatu itu dengan ganas. Melumatinya dengan hasrat penuh kerinduan. 


***

Sesampainya di tempat kos, Dian disambut pemilik kosnya dengan mata penuh amarah. 

“Saya tidak punya uang. Saya tidak ingin membayar dengan sepatu,” jawab Dian jujur.

“Kalau begitu kamu pergi ke kamar saya sekarang,” kata pemilik kos dengan nama Bu Kunti.


(*) Pamulang, 7 Januari 2016

*Pernah dimuat di Jurnal Rusabesi, 2017


Data diri

Laras Sekar Seruni lahir di Jakarta, 18 Mei 1995. Penulis sering mengikuti perlombaan cerpen ataupun penulisan karya yang lain baik dalam tingkat nasional maupun provinsi. Beberapa cerpen penulis telah berhasil dibukukan dalam antologi penerbit indie.


0Comments

Previous Post Next Post

ads