Penulis : Deni

Sungguh bahagianya mereka yang mati muda, atau sama sekali tak pernah dilahirkan ke dunia ini. Dia tidak akan berhadapan dengan misteri brengsek ini. Berbeda denganku yang sudah tua bangka dan Tuhan belum puas melihatku berada di dunia ini.  


1


Hanya keluarga dekat saja yang datang ke rumahku. Kulihat semua tampak tak sedih malah risih. Saat mereka bertemu denganku yang duduk termenung di kursi depan rumah, raut iba muncul pada mereka. Jika ada yang tak sanggup menahannya, mereka akan mendekapku dan bilang: "Yang sabar ya Pri. Walau tak ada yang mendampingimu sekarang, kau harus kuat". Demikian ucap mereka.

Aku terpaksa tersenyum menyambut ucapan itu. Memperlihatkan seolah ucapan mereka berhasil mengusir sedih tunggang-langgang dariku.

Tiga hari berlalu. Seminggu. 40 hari. Para orang dewasa, keluarga besar ayah dan ibu, berkumpul di rumah. Mereka membicarakan sesuatu yang serius. Meski pelan dan santai untuk mengelabui orang yang tidak ingin diberitahu, namun mereka tidak bisa menyembunyikan raut muka tegangnya. Sekalipun begitu, aku tidak menghiraukan mereka. Aku tidak pernah menanyakan perkara orang-orang dewasa itu. 

Aku hanya duduk di depan TV yang sedang menyala. Aku adalah anak kecil yang mereka anggap tak akan pernah tahu persoalan orang dewasa sebelum waktunya. 

Sementara mereka terus berbincang-bincang tanpa memperhatikan jarum jam yang sudah menunjukkan jam 12 malam, aku sudah tertidur di depan televisi yang masih sabar menampilkan acaranya. 


2


Kamar yang mewah, lemari yang besar, tempat tidur yang kelihatannya sangat empuk, seakan langsung menggodaku dan berbisik: "marilah ke sini,  Pri. Aku adalah kasur yang paling empuk dan kau harus merasakannya". 

Koper, tas, dan sebagainya yang melekat pada tubuhku, kecuali pakaian yang kukenakan, langsung ku taruh ke lantai. Tempat tidur yang rapi itu segera menjelma lekukan-lekukan kusut dari tubuhku yang lelah ini. 

Tiba-tiba dari bawah kasur muncul beberapa tangan yang mengerikan. Kuku hitam panjang, dengan darah segar dengan bau amisnya, memenuhi tangan-tangan itu. Tangan itu mencengkeram pergelangan tangan dan kakiku. Menarikku dengan kuatnya ke bawah hingga kasur itu hancur. Tangan itu tumbuh dari bawah lantai dan terus menarikku ke bawah. Lantai itu berlubang oleh tubuhku. Tubuhku terus tertarik ke bawah, menembus batu-batuan tanah. Terus ke kerak Bumi. 

"Pri…Pri…Pri...". Seketika itu, aku membuka mata. Nafasku berkejaran.

"Ada apa nak? Kau bermimpi?" tanyanya. 

"...".

"Ada apa nak?  Kenapa kau diam saja?", Bibi mulai cemas karena aku masih diam.

"Tidak apa-apa Bi. Aku hanya bermimpi saja", jawabku akhinya untuk membuatnya tidak cemas. 

"Syukurlah kalau begitu. Mari kita pergi ke tempat tidurmu". 

"Semua orang ke mana, Bi?  Sudah pergi?".  

"Mereka sudah pulang".

"Bibi juga mau pulang?" tanyaku lagi. 

"Enggak, sayang, Bibi akan menemanimu kok". Lalu ia memelukku. 


3


Suara kokok ayam mulai terdengar. Kegelapan memudar. Berganti terang. Matahari sudah berdiri di ufuk timur. Aku yang masih mengantuk harus terbangun karena dibangunkan bibiku untuk sebuah alasan. 

Kulepaskan satu-persatu pakaian yang melekat di tubuh. Baju, celana lalu celana dalam yang kuganti dengan sehelai handuk dan langsung pergi ke kamar mandi. Air yang begitu dingin yang paling kubenci nampak begitu hangat ke tubuh. 

"Pri. Ini bajumu kuletakkan di sini untuk kau pakai. Kita pergi".

"Baik Bik". Sahutku dari dalam kamar mandi. 


4


Tanah yang dulunya adalah tanah lapang dan rata, dengan singkatnya dipenuhi gundukan-gundukan yang rata-rata panjangnya lebih dari satu meter. Di bawahnya, ada tubuh-tubuh kaku tak bernyawa. Suatu peristiwa yang mengerikan terjadi dan masih berlanjut sampai sekarang. Bagiku, jalinan peristiwa itu seperti potongan-potongan yang tak aku mengerti.

Di antara banyaknya gundukan. Ada dua gundukan, yang tak banyak berbeda dari gundukan lainnya, tidak ada rumput yang tumbuh di atasnya, sehingga tidak perlu dibersihkan. Aku duduk di antara kedua gundukan yang saling bersampingan.

Tak terasa mata sudah berair, bertetesan karena tak kuat menampung debit air yang semakin bertambah dan membasahi pakaian yang dijatuhinya. Kubacakan al-Fatihah untuk mereka. 

Setelah selesai dengan semua ini, aku dan Bibi segera pulang. Meninggalkan mereka berdua dengan air yang dicampur dengan pandan, bunga melati yang telah basah pada kuburan mereka berdua. 



Banyak orang dewasa datang ke rumah membawa suasana hati yang tidak baik-baik saja. Tatapan mereka sinis. Tertuju kepadaku. Melebihi biasanya. 

"Pergi-pergi. Tak sudi kami bersama anak pembelot Negara dan Agama".

"Apa salahku? Kenapa aku bersalah? Apa yang telah kulakukan pada kalian hingga kalian membenciku? Apa ini karena orangtuaku? Apa yang sudah dilakukan mereka?" pertanyaan itu bermunculan dalam benakku. Mencari jawaban.

Sinisme itu mewujud kekejaman: rumah peninggalan kedua orang tuaku dilempari batu. Kaca-kaca pecah. Lalu dihancurkan. Dibakar. Lenyap jadi abu. 

Sejak itu, kami hidup berpindah-pindah. Bibi, yang semula tidak ada sangkut-pautnya dengan semua ini, dan hanya ingin merawatku, juga mendapat perlakuan yang sama. Kami berpindah-pindah demi menghindari tatapan mata yang mengenali identitas kami. Kami harus menjadi orang lain, melepaskan seluruh kaitan dengan identitas masa lalu, demi menghindari tatapan yang sinis dan kejam. Kami harus menjadi orang asing untuk bisa hidup.

Tapi aku tak pernah mengerti. Tiap kali aku bertanya, bibi tak pernah memberikan penjelasan yang bisa aku mengerti. Tak ada titik terang. Aku hanya merasakan tatapan kebencian orang-orang yang mengenaliku. Aku hanya tahu aku harus berpindah-pindah. Selebihnya perkara sumber kebencian tak jelas bagiku.



Sungguh senangnya orang yang mati muda atau tak pernah dilahirkan sama sekali. 



0Comments

Previous Post Next Post

ads