Oleh : Sulaiman

Rontal.id

I


Terakhir kali aku melihatmu duduk di beranda rumahmu. Matamu sembab. Pandangmu sesekali jatuh pada sebuah objek yang kamu genggam. Sebuah figura. Ada foto kita dan sisa-sisa senyum yang bahagia. Garis senyum itu memancar begitu sempurna. Seolah semua yang kita minta bertahta manis di rumah kita. 


II


Sesekali ku dengar ada sesenggukan. Kupejamkan mataku menikmati suara itu. Terasa ada kepedihan tapi aku selalu suka mendengar suara itu. Aku akan duduk di sampingmu dan memberimu sepatah, dua patah, tiga patah atau berpatah-patah kata sebagai penghiburan saja. 

“Kesedihan adalah hal terkekal yang kita punya”, katamu keras kepala.

Aku akan mengatakan: “berhentilah bersedih, tak ada yang …bla-bla-bla”. 

Tapi aku tak mengatakan sesuatu apapun. Aku hanya kekasihnya. Bukan seorang pengkhotbah atau pemberi motivasi yang bisa menemukan segala kata-kata yang manjur sebagai penghiburan atau manjur sebagai jalan keluar dari kesedihan. 

Lagi pula, dalam pikiranku yang terdalam, aku suka dirimu yang terjatuh dalam kesedihan. Sebab itu hanya akan membuatku berarti di dekatmu. Memang kadang pikiranku se-anjing itu.


III


Tapi tetaplah akhirnya aku harus berkata-kata. Dalam khazanah percintaan, ada desakan konvensional bahwa seolah tak wajar bila seseorang membiarkan kekasihnya larut dalam kesedihan dan hanya diam menikmati semua adegan-adegan itu. 

Aku berkata-kata lirih dan persis di dekat telingamu. Kata-kata itu menyelinap di antara kita. Sedikit memberi “pelipur lara” sementara. Dan kita barangkali tiba-tiba berada dalam labirin kebahagiaan. Lalu terasa bermunculan hal-hal “fana” yang kini tinggal sebagai ingatan saja. 


IV


Kau masih duduk. Kini kau menggenggam buku. Aku belum lagi buta untuk sekedar memastikan itu buku apa dan milik siapa? 

Oh aku mengingatnya. Itu buku yang bertahun-tahun menemani kita. Isinya potongan kebahagiaan-kebahagiaan kecil dalam kata-kata yang mungkin tak sepenuhnya mampu menangkap seluruh kekayaan makna kebahagiaan. Kata-kata itu sungguh menyederhanakan apa yang kita rasakan. Tetapi untungnya, selalu ada imajinasi yang tak bisa diringkus oleh kata-kata, dan kita bisa menikmati selebihnya yang tak teringkus itu. 


V


Aku selalu ada di sampingmu hingga hari ke-40 sejak kematianku. Kadang aku memelukmu. Tapi kamu mungkin tak merasakan apapun. Kamu tak menyadari kehadiran sosok kesadaran immateri diriku sejak terlepas dari tubuh materinya tergeletak di bawah tanah itu. 


VI


"Jangan sedih, Lima", sesosok tubuh muncul di hadapanmu. Ia seorang lelaki. Seketika aku berteriak. Hanya butuh waktu beberapa menit untuk menyadari segalanya bahwa teriakan sosok diriku tanpa ditopang tubuh yang materi hanyalah wujud perayaan pada kesia-siaan. 

Aku marah. Marah sekali. Ia duduk di sampingmu. Ia lebih banyak mengumbar kata-kata. Hanya dalam sekitar sepuluh menit, kau seolah terbius oleh permainan kata-katanya. Aku bisa melihat kau tertawa kecil.

Lelaki itu bisa-bisanya meraih fotoku. Aku ingin berteriak lagi: itu foto kita. Tapi teriakan itu hanya terdengar di alam lain. Aku jadi pasrah dan hanya memperhatikan. Aku berusaha mendengarkan omongan-omongan apa yang muncul dari bibir lelaki itu. 

“Kau pasti sangat mencintai lelaki ini”, katanya. Aku mendengarnya dengan penuh emosi. “Dia pasti juga sangat mencintaimu”. Ah, bajingan kau. Dan dirimu kembali pada kesedihanmu.

“Tapi kamu harus mulai belajar melupakan”, katanya lagi. Aku sudah menduga. “Lelaki ini pasti menginginkanmu kembali ceria. Kamu tidak boleh kehilangan keceriaanmu. Kematian tak boleh menghentikan kebahagiaanmu untuk menjalani hidup”.

Aku sedikit bahagia saat kau terlihat marah dan menatapnya. Aku kagum. Kau pasti tersinggung dengan kalimat itu. Kau pasti ingin mengatakan: “aku tak bisa melupakan dia, aku tak bisa hidup tanpanya”. Kau pasti mengatakan itu, dan aku menunggu detik-detik kemarahanmu padanya.


VII


“Maaf, tak sepatutnya aku bicara itu saat ini. Tapi aku harap kau tetap jadi dirimu. Jangan tenggelam dalam kesedihan”. Lelaki itu berdiri. Sebelum pergi, ia memberimu senyum, menepuk lembut bahumu. Aku dibakar cemburu. Tepukan tanganmu yang materi pasti lebih terasa oleh tubuhmu yang materi juga. Sedangkan aku? Ku tatap diriku. Seperti sesosok wujud transparan. Melayang-melayang di udara. Aku berusaha membenturmu tapi tak ada dirasakan benturan apapun.

Aku semakin menyadari bahwa kehadiranku selama 40 hari di sisimu tak berarti apa-apa. Tapi aku masih punya sedikit kebahagiaan. Biarpun dirimu tak bisa menepuk tubuhku lagi, tak menangkapku lewat seluruh panca inderamu, tapi aku merasa diriku hadir dalam ruang ingatan dan imajinasimu. 


VIII


Tapi aku mulai menyadari kehadiran ketakutan yang tak dapat aku ingkari. Waktu akan menghapus kesedihanmu. Juga menghapus ingatanmu. Mungkin kau bisa mengingatku tapi kesan-kesan kuat dan harapan tentangku akan berkurang dari dirimu. Kelak akan pudar dan digantikan yang lain.

Saat memikirkan itu, aku baru sadar, kematianku sudah berumur satu tahun. Dan tamatlah riwayat sosokku dalam ingatanmu. Sebab, tetangga kuburanku, lelaki yang baru saja mati, datang kepadaku suatu sore dan bercerita tentang seorang lelaki yang datang mempersuntingmu.

Aku tak percaya. Dengan izin kepada rumah kuburanku, aku terbang secepat itu ke rumahmu. Aku kaget sungguh. Kamu tersenyum saat lelaki itu memakaikan cincin pada jari manismu. Aku tak melihat lagi gelang buatanku di tanganmu. Kamu benar-benar melupakanku.

Inilah kematian dua kali pada diriku. Andai diriku masih sesosok materi, aku akan datang dan merebutmu dari dia. Atau hal ini tak mungkin terjadi, karena aku bisa menjagamu. Tapi aku hanya sosok yang hanya bisa diraba dalam ingatan dan kenangan. Maka tamatlah diriku dan cintaku.

Aku kembali pada kuburanku dan berharap dirimu datang menyusulku.

0Comments

Previous Post Next Post

ads