Penulis : Mamanovsky

Teknologi betul-betul memanjakan kita. Seorang pelukis wajah tak lagi perlu menggunakan kuas, tak perlu belepotan cat warna-warni meskipun tentu itu semua punya makna tersendiri.

Sekarang ia hanya duduk di depan notebook, membuka aplikasi desain, melakukan setting berbagai macam yang dibutuhkan dan ia bisa mulai bekerja. 

Tapi tetap ada satu hal yang tak berubah: kemampuan mengidentifikasi. Tarohlah hari ini saya berbicara tentang melukis wajah atau teknik memodifikasi wajah dari gambar aslinya yang - entah tepat atau tidak - kita menyebutnya art vector, seni melukis, menarik garis wajah dengan desain vector.

Salah seorang temanku, sebutlah namanya MAD, cukup pandai memodifikasi wajah dengan berbasis vector. Apa yang dia lakukan?

Dalam perkiraan saya, jelas ia begitu kuat untuk merekam sang objek, wajah yang dimodifikasi itu. Mata si seniman vector itu ibarat teknologi yang memiliki kemampuan memindai. Sehingga seluruh detail objek yang ditatapnya teringkus ke dalam pandangnya. Detail-detail garis mata, garis hidung, bibir, dan garis-garis lainnya.

Setelah seluruh objek itu terekam secara detail, masih ada tugas berat si seniman vector ini. Ia harus menuangkan hasil "pemindaian" matanya kedalam garis-garis yang tepat. Tidak semua garis dituangkan, jelas yang dibutuhkan hanyalah beberapa garis yang dapat membentuk dan menegaskan identitas sang wajah. 

Bila ia keliru menuangkan garis atau berlebihan, pertaruhannya adalah kaburnya sang wajah dari identitas lainnya. Selain itu, ia tidak sekedar dituntut mampu menghadirkan identitas sang wajah, melainkan ekspresi sang wajah.

Aku sendiri sudah beberapa kali mencoba membuat duplikasi wajah menggunakan vector. Berusaha membubuhkan garis-garis pada objek wajah itu. Tapi aku gagal. Seluruh garis-garis itu hanya berhasil membentuk wajah, tapi tak menegaskan identitas sang objek. Sang wajah hasil kreasi vectorku menjadi berbeda sama sekali dari objek aslinya. Menjadi wajah baru. Hahaha.

0Comments

Previous Post Next Post

ads