Penulis : Deyna Mikaila Juba

Suasana sudah larut malam. Si penghuni rumah nampaknya sudah lelap di sebuah kamar loteng. Setengah jam yang lalu, kamar itu masih menampilkan kegaduhan yang berasal dari ranjang tidurnya. Ranjang tua itu menampilkan suara krek-krek, suara keletihan tua yang semakin tak mampu menampung beban dua tubuh menusia yang tiap malam saling tenggelam dalam dunia surganya.

Kegaduhan itu terdengar dengan baik oleh seekor kecoa yang dari tadi mengintip keseluruhan adegan kedua tubuh manusia itu. Kebosanan segera menyergap kecoa itu. Ia merayap menuruni dinding dan berjalan di lantai. Ia terus berjalan menyusuri lantai kamar itu dan keluar melewati celah kecil di bawah pintu. Ia terus berjalan sebagai kecoa gagah. Keenam kakinya yang kuat, sebesar lidi (mungkin lebih tipis), bergerak cepat membawa tubuhnya yang kecoklatan seperti buah kurma.

Kini kecoa yang disergap kebosanan itu berakhir di wastafel. Ia menikmati titik-titik air yang masih tersisa dari pancuran wastafel. Malam itu benar-benar sepi. Hanya titik-titik air yang terdengar. Kecoa menikmati suasana itu sambil lalu memikirkan banyak hal tentang betapa indahnya menjadi manusia.

Perasaan itu muncul begitu tiba-tiba. Mula-mula ia hanya memikirkan potongan-potongan sepasang tubuh pemilik rumah ini. Adegan satu jam yang lalu memberinya gambaran tentang kenikmatan itu. Lalu pikirannya terbang jauh dan hinggap pada bayangan beberapa hari lalu. Kecoa betina bernama Lina, dengan mata yang indah. Ia sangat menyukai cara Lina berjalan. Keenam kakinya begitu lincah. Tiap ketukannya pada tanah seperti melantunkan nada yang berirama. Jeko memejamkan mata menikmati gambaran indah tentang Lina dan merasakan detak hatinya seiring dengan bayangan ketukan kaki Lina.

Tapi tiba-tiba ia disergap kegelisahan. Lina tak mungkin muncul lagi di hadapannya. Ia tak mungkin lagi menyaksikan tubuhnya, kakinya yang bergerak lincah, sapaannya, pandangan matanya. Kini Lina adalah seekor bangkai. Terakhir kali, bangkainya dikerumuni semut dan digotong entah menghilang kemana. Jeko sempat mengejarnya. Tapi ia tahu, Lina tidak lagi berada di tubuh itu. Lina pasti sudah tenang di syurga. Begitulah Jeko memikirkan malam itu. Dan ia menitikkan air mata. Ingatan tentang Lina adalah siksaan tersendiri bagi hatinya. 

Ia kini menikmati status hidupnya sebagai Kecoa jomblo yang menunggu hari-hari kematian yang ia yakini sebagai jalan pembebasan dari kejombloan duniawi menuju kehidupan lain di mana kekasihnya, di sana, di syurga, pasti menunggunya. Ia tak sabar datangnya hari itu. Saat itu juga, ia tersenyum di antara butiran air mata yang tersisa.


“Tuhan menciptakan kecoa dengan umur yang tak panjang”, ucapnya tersenyum. 


Pikiran itu membawa dirinya untuk menjalani sisa hidup sebaik-baiknya. Ia ingin meninggalkan pikiran-pikiran penting kepada generasi-generasi kecoa berikutnya.

Jeko bergerak lagi. Istirahat sejenak telah memberinya energi untuk beraktivitas. Ia memandangi kedua sayapnya bergantian: kanan-kiri. Ia lalu mencoba terbang. Ia senang sisa kekuatan di masa tuanya masih memungkinkan ia terbang. Ia terbang dan hinggap pada salah satu tempat sampah yang ada di sisi pojokan lain di dapur. Hidungnya mendapati aroma sisa makanan busuk. Aroma itu begitu menggodanya. Ia bergerak memasuki tempat sampah itu, mengendus-endus segala yang ia temui di dalam. Ia urai isinya. Ia membuat berantakan sampah itu. 

Ia begitu menikmati sisa makanan busuk itu.

Ia terbang lagi keluar dari tempat sampah itu dan hinggap di tempat semula: wastafel, dengan titik-titik air dari pancuran. Kini ia lebih nyaman untuk diam dan mulai berpikir lagi. 

Ia kembali teringat kematian Lina. Lalu pikirannya teringat pada benda-benda membahayakan yang ada di rumah ini. Ia teringat botol ajaib yang bisa mengeluarkan butiran-butiran cairan yang sangat kecil tap sangat mematikan. Tepatnya, itu sebuah semprotan. Lina hanya bisa bertahan beberapa menit saat beberapa malaikat pencabut nyawa muncul dari semprotan itu seperti butiran-butiran air. 

Semprotan itu bisa mengeluarkan malaikat-malaikat maut? Jeko menguatkan pikirannya. Suatu hari, ia pernah tersesat di suatu tempat. Ia mendapati botol-botol semprotan maut itu berjejer di sana. Di botol itu, ia mendapati gambar-gambar sebangsanya, kecoa, sedang tergeletak dengan tubuh di bawah dan kaki-kakinya yang kurus di atas. Itu suatu gambaran yang mengerikan. Itu pertanda kematian. Apa hubungannya botol penyemprot dengan kematian?

Pertanyaan itu hanya menguatkan dugaan Jeko bahwa Lina sungguh-sungguh mati karena botol penyemprot maut itu. Lina tidak mati karena terlalu banyak bercinta dengannya. Jelas tidak mungkin. Lina tidak mati karena Tuhan. Lina mati karena ulah manusia yang menggunakan botol itu untuk menyemprot Lina. Manusia yang mengirimkan malaikat maut lewat botol-botol itu, bukan Tuhan, demikian Jeko mencoba menyimpulkan.

Kesimpulan itu begitu kuat, dan Jeko tidak bisa menahan lagi amarahnya. Ia mengutuk manusia dengan berbagai kosakata kecoa yang ia ketahui. Manusia pembunuh.


“Manusia-manusia memang biadab. Manusia menginginkan kematian kami. Bahkan mereka memperjual belikan alat-alat pembunuh yang dikhususkan untuk menghabisi seluruh bangsa kami”.


Jeko ingin membuat suatu tulisan yang berisi protes. Ia segera berpikir bagaimana menuliskan pikirannya? Ia ingat pernah memergoki si pemilik rumah memegang alat yang bisa mengeluarkan cairan hitam dan mencorat-coret sesuatu di kertas putih. Ia segera mencari kertas dan alat yang bisa mencoretkan pikirannya di kertas itu.

Ia terbang dan hinggap di sebuah rak yang berisi buku-buku. Dan ia mendapati satu kertas putih, tak bernoda. “Aku harus mengingatkan manusia”, pikir Jeko. Ia juga mendapati tongkat tinta. Tapi ia segera sadar, ia tak mungkin bisa menggunakan alat itu. Jeko tidak pasrah. Ia memutar pikirannya. Ia kecoa yang selalu optimis. Akhirnya ditemukanlah jalan alternatif. 

Ia mulai merayap-rayap di atas kertas itu. Ia mulai mencoretkan isi pikirannya dengan menggunakan cairan ludahnya. 


“Dugaanku benar. Selama ini, kematian kami bukan saja datang dari Tuhan, tapi dari intervensi kalian, manusia-manusia biadab. Kami bisa membuktikan dugaan kami. Kalian membunuh kami dengan semacam alat pemusnah yang bisa ditemukan di toko-toko. Kalian merencanakan pembunuhan atas kami tanpa kami tahu apa masalah yang paling purba di antara bangsa kami, kecoa, dan bangsa kalian, manusia”.

Jeko teringat dengan pesan kakeknya. 


“Jeko, manusia-manusia itu tak akan pernah memikirkan kehidupan kita. Dia melihat kita sebagai bangsa kecil yang harus dimusnahkan”.


Kakeknya Jeko banyak bercerita tentang pembantaian manusia atas bangsanya. Suatu hari, sekitar 10 kecoa disapu bersih dengan kejam melalui sapu lidi. Kesepuluh kecoa itu tidak segera mati. Tapi justru, mereka semakin tersiksa. Manusia pembantai itu justru begitu tenang. Setelah itu, ia duduk dan berbicara tentang kehidupan dan hak azasi manusia.


“Mereka kira kami tidak mencintai kehidupan? Jeko, keluarga kita adalah keluarga yang menjunjung tinggi kehidupan. Kami semua ingin mati sesuai nasib yang digariskan Tuhan, bukan nasib yang digariskan manusia. Jeko, kita harus sampaikan protes kita ini kepada manusia”.


Jeko menulis lagi:


“Kalian tidak punya pembenaran moral apapun untuk membunuh kami. Kalau kalian punya alasan moral untuk hidup, kami pun (bangsa kecoa) punya alasan yang sama. Kalau kalian bicara menggebu-gebu tentang hak asasi manusia, kami juga punya alasan untuk bicara tentang hak asasi kecoa. Kalian punya ham, kami punya hak”.


Tertanda, Jeko, mewakili protes bangsa kecoa.


Jeko puas dengan coretan pikirannya di atas kertas itu. Ia sejenak melepas lelah. Tapi sebentar kemudian, ia pergi untuk menemui kecoa-kecoa lainnya. Pikirannya harus diwariskan kepada kecoa-kecoa yang lain.


“Kau yakin manusia akan membaca tulisanmu, Jek?”.


“Kau harus yakin, Parno. Kita harus menyampaikan protes kita”.


“Jek, manusia tidak akan peduli dengan Kecoa. Pikiran mereka sudah tertutupi dengan tembok tebal kengerian kepada bangsa kita. Mereka jijik kepada kita. Mereka membunuh kita hanya karena mereka jijik”.


“Makanya kita harus mengingatkan kepada mereka, bahwa tidak bisa rasa jijik dijadikan landasan moral untuk membunuh kita. Apalagi sampai menjadikan pembunuhan kepada kita sebagai ladang bisnis”.


“Ladang bisnis?”


“Iya”.


“Maksudmu?”.


“Mereka membuat alat yang bisa memusnahkan kita semua. Pembunuhan terhadap kita itu sistematis. Dirancang sedemikian rupa. Manusia-manusia mempelajari kita dan mencari jalan untuk membunuh kita”.


Parno mendengarkan ceramah Jeko. Bagi Parno, kecoa yang seumur hidupnya tak pernah dihabiskan untuk belajar, hal-hal yang disampaikan oleh Jeko sungguh hal yang baru. Ia kaget, bahwa manusia merayakan kematian para kecoa.


“Keji sekali”, Parno mulai terbakar emosi, tapi ia tak terpikir untuk melakukan pembalasan kolektif kepada manusia. Dia tidak pernah tahu bagaimana cara membalas perlakukan manusia kepada mereka.


“Kita hanya bisa berdoa agar manusia segera menyadari kesalahannya”.


Jeko diam. Dalam hatinya, kecoa pintar itu tak percaya. Ia yakin bahwa tanpa upaya dan kesadaran sendiri dari bangsa kecoa, harapan kehidupan yang lebih baik, yang harmonis dengan manusia, terhindar dari pembantaian dan pembunuhan oleh manusia, harapan itu hanya utopia belaka. Indah dalam harapan-harapan saja.

Di rumah itu, pagi harinya, sang pemilik rumah menggerutu mendapati kertasnya belepotan dengan cairan yang sudah kering dan melekat. Ia meremas-meremas kertas itu dan melemparkannya ke tempat sampah.

0Comments

Previous Post Next Post

ads