Penulis: Deyna Mikaila Juba



Kopi itu dibiarkan terdiam sendiri. Nampaknya baru dua atau tiga kali seruput. Mungkin tidak sebanyak itu. Kopi itu masih panas. Si pemilik kopi itu seperti tertidur di atas mejanya. Tak bisa dipastikan bagaimana bentuk wajah yang tertelungkup ke meja. Mungkin tak berbentuk. Tak ada reaksi apapun dari orang-orang sekitar. Semua tenggelam dalam kehidupannya masing-masing.

Tak berapa lama seseorang berteriak. Ia yakin sekali lelaki yang wajahnya tertelungkup itu sudah mati. Ia mengenalinya. Lelaki itu memang tak punya nama. Tepatnya, tak ada yang tau siapa nama persisnya. Tapi orang-orang yang terbiasa menghabiskan kopi di tempat itu menyebutnya si lelaki pendengar kisah-kisah pilu. 

“Bagaimana kau tau orang ini meninggal, bukan sedang tertidur?”

Harusnya pemuda yang ditanya itu menjawab, ya aku tau. Aku bisa membedakan antara orang yang mati dan tertidur. Orang mati tak bisa mendengkur. Dan dia tidak mendengkur. Itu sebabnya, aku bisa berkesimpulan, orang ini mati. Orang-orang di sekitarnya mempercayai ucapan itu. Bahkan di belakang mereka, mahasiswa filsafat ‘ngangguk-ngangguk’ atas kemampuannya menggunakan susunan silogisme Ariestoteles di kala situasi panik menjelaskan orang mati.

Tapi tidak seperti itu yang keluar dari mulut pemuda itu. Saat ditanya, justru ia menatap diam beberapa detik pada kopi yang masih mengeluarkan asap-asap halus dari cangkir itu. Pada bibir cangkirnya, ada cairan kopi terakhir. Mungkin itu bekas seruput terakhir dari lelaki si pendengar kisah pilu ini.

“Kopi ini aneh”, kata pemuda itu. Orang-orang sudah tak peduli lagi dengan penjelasan pemuda itu. Mereka segera menggotong mayat itu untuk dibawa entah ke mana. Mayat itu akhirnya menghilang dari warung kopi menyisakan kerumunan dan sisa obrolan orang-orang yang perlahan menghilang digantikan obrolan-obrolan yang lain. Pemuda itu tak ikut membawa mayat itu. Ia terdiam di kursi lelaki si pendengar kisah pilu yang kini jadi mayat itu dan tertegun menatap kopi di hadapannya. 

Secangkir kopi itu menatap balik.

 

I/

Lelaki si pendengar kisah pilu itu tak pernah tak terlihat di warung kopi. Tapi tak ada yang tahu dari mana datangnya. Ia seperti datang begitu saja. Tak ada yang tahu tempat tinggalnya. Sebab ia hampir tak pernah kelihatan pulang. Juga tak pernah ada yang tahu sejak kapan ia menjadi pemilik sah satu kursi dengan satu meja yang berada di bagian pojok warung kopi itu. 

Perkiraannya: ia tiba-tiba datang begitu saja. Mula-mula ia hampir diusir oleh si pemilik warung karena sudah berkali-kali minum kopi tanpa membayar. Ia hampir berantem dengan seseorang yang memaksa duduk di tempat itu. Dua peristiwa itu sedikit demi sedikit mengungkap sosok lelaki itu.

Si pemilik warung kopi yang kesal datang kepada lelaki itu. Ia sudah kumpulkan seluruh emosi untuk mendampratnya. Ia sudah tahan kesabarannya beberapa hari ini. Tapi lelaki itu masih tak mau membayarnya.

“200 ribu”, pemilik warung itu melemparkan kertas catatan ke meja lelaki itu. Diambilnya kertas itu, lalu lelaki itu tersenyum sembari membaca catatan itu.

“Kasian sekali orang-orang miskin”, ucapnya sembari tersenyum. Diletakkannya kembali kertas itu. Lalu ia mulai menatap serius kepada lelaki di depannya, si pemilik warung kopi. Tak ada sesuatu yang diucapkan. Lelaki itu hanya mencoba menatapnya. Mata si pemilik warung seolah sebuah lorong kecil, sebuah jalan yang mengantarkan kepada lika-liku kehidupannya yang sangat pribadi, yang pernah penuh dengan warna kesedihan, patah hati, dan kisah-kisah pilu lainnya.

Si pemilik warung tertegun. Dan ia mulai merasakan suatu kepedihan yang terjadi di masa lalu. Ada bayang-bayang sosok perempuan yang membuatnya ingin lagi menulis puisi, kebiasaan lamanya. Tapi ia telah tinggalkan semua itu dan kini menjadi pengusaha warung. Tapi kali ini, ia melihat dirinya menulis kalimat-kalimat patah hati di instan story, di wa story, di story facebook, dan story-story lainnya. Ia ingat seluruh kalimat-kalimat yang menggugah jiwanya pernah ia tulis di mana-mana.

“Ceritakan saja. Kau akan jadi pesakitan, kalau semua itu dipendam”, kata lelaki di depannya. Pemilik warung itu menceritakan semuanya.

“Ia pergi. Hiks. Ia janji menungguku. Hiks. Tapi, tapi, hiks. Semua itu palsu. Hiks”.

Lelaki di depannya itu terus menggali kisah-kisah pedih-pedih itu. Anehnya, si pemilik warung, yang kini menjelma sebagai lelaki yang patah dan terluka, terbawa suasana pertanyaan itu. Dengan terbata-taba, dengan tangis dan air mata, pemilik warung kopi itu mengungkapkan seluruh kisah pilu yang sepilu-pilunya. Diungkapkannya seluruh kesedihan. Bahkan kisah pilunya itu telah merembet ke seluruh penderitaannya yang lain. Soal ayamnya yang hilang. Telor ayamnya yang selalu dicuri tetangganya. IPK-nya yang tak pernah tembus tiga, dan kesedihan lainnya.

Lelaki si pendengar kisah pilu itu matanya berbinar-binar setiap kali lelaki di depannya bercerita tentang kesedihannya yang mendalam. Semakin sedih kisah yang diceritakan, semakin bergairah lelaki si pendengar kisah pilu itu. Ia seolah menikmati kesedihan orang lain. Bila seluruh cerita sedih sudah habis, si pendengar itu giliran berbicara dengan bijaksana. Ia sediakan seluruh kata-kata yang manis, yang bijaksana. Ia kutip tokoh-tokoh besar. Ia ceritakan sisi kelam dan kesedihannya. Tentunya, ia tambahkan aspek-aspek dramatis yang susah dicek kebenarannya.

“Seluruh kesedihan itu hanyalah imajinasi tentang kesedihan”, katanya dengan penuh semangat dan intelek. “Lihat dirimu. Seluruh kesia-siaan di masa lalu telah membayar lunas kepadamu hari ini. Kau berhasil melewati jebakan imajinasi itu. Kau tau…”, lalu muncul sederetan tokoh-tokoh yang lain. Mulai dari filsuf, ilmuwan, hingga orang-orang biasa, bahkan nama-nama tetangganya yang tak mungkin diketahui oleh si pendengar mana pun di dunia ini.

“Sesuatu terus mengalir, kawan. Jadilah air. Mengalir terus”. Ia lalu mengutip ucapan tokoh filsuf Heraclitus tentang sungai yang sama akan berbeda saat kau turun di waktu kedua kalinya. Dan seterus-seterusnya, bermunculan tokoh-tokoh yang lain. Ia nampak hafal betul seluruh kutipan tokoh-tokoh besar. Maka, selain ia dijuluki sebagai pendengar kisah pilu, ia juga punya julukan lain, si pengutip tokoh-tokoh besar. Tak ada orang yang lain yang bisa menandinginya. Sebab setiap hari, saat tak ada orang yang datang kepadanya untuk ‘curhat’, ia habiskan waktunya dengan mengumpulkan kutipan tokoh-tokoh besar.

“Kelak, kutipan-kutipan ini berguna”.

 

 II/

Sejak hari itu, tenarlah namanya: si pendengar kisah pilu. Keberhasilan pertama sebagai si pendengar kisah pilu ditandai dengan telah dicoretnya hutang-hutang dia kepada si pemilik warung kopi. Momen pelunasan hutang itu ditandai dengan pesta kecil-kecilan di mana seluruh pengunjung memperoleh secangkir kopi gratis yang manis. Dalam pesta itu, hanya boleh ada kopi manis. Tak boleh ada yang pahit. Itu simbol terbebasnya si pemilik warung kopi dari derita masa lalu.

“Sebuah kehormatan untuk si pendengar kisah pilu”, kata si pemilik warung kopi.

Malam itu, dan malam-malam berikutnya, mulailah ia didatangi orang-orang secara bergantian. Mereka menceritakan kisah-kisah pilu mereka, sedalam-dalamnya, sepilu-pilunya. Semula satu orang satu jam. Semakin banyak orang, semakin dikurangi waktunya: satu orang, setengah jam. Orang-orang ingin membayar atas kesediannya mendengar kisah pilu mereka. Tapi ia menolaknya.

“Tidak. Tidak. Sungguh ini tidak benar. Kesedihan itu milikmu. Bahkan andai saja aku punya uang, aku akan membayarmu karena kau telah berbagi kesedihan itu untukku”. Dengan itu, tambah satu lagi julukan yang diberikan kepadanya: seorang bijaksana. Maka bertambahlah kekaguman orang-orang kepadanya.

Dalam hanya satu minggu, sudah ada seribu orang yang datang kepadanya untuk mencurahkan kisah-kisah pilunya. Seluruh kisah pilu itu, ia catat secara garis besarnya saja. Dia tak mencatatnya sendiri, tapi si pemilik warung kopi itu yang mencatatnya. Dia sekarang menjadi “partner” terbaiknya. Bahkan si pemilik warung kopi mengubah nama warungnya: “Warung Kisah-kisah Pilu”.

 

III/

Seluruh kesibukannya didedikasikan untuk menjadi pendengar yang baik atas kisah-kisah pilu orang lain. Ia hanya istirahat untuk makan, merokok, kopi, dan tidur. Sisanya, ia habiskan waktunya untuk mendengarkan kisah-kisah pilu. Satu keuntungan dari mendengar kisah-kisah pilu, ia jadi tak punya waktu untuk mendengar jeritan luka kisahnya sendiri. Justru ini membuatnya bahagia. Ia menjadi fokus mendengar kisah-kisah orang lain dan lupa dengan kepiluan kisah sendiri.

Tapi setelah dua hingga tiga minggu berlalu, suara hatinya mulai memberontak lagi. Hatinya seakan tahu bahwa di hari-hari menghadapi curhatan orang lain, suara hatinya sendiri tak bakal mendapatkan kesempatan untuk didengar oleh si pendengar kisah pilu itu. Maka mulailah suara hati itu mengganggunya di kala ia istirahat, terutama saat ia tertidur. Maka tidurnya menjadi tersiksa. Seringkali seperti mimpi, ia teringat dengan seseorang yang pernah singgah di hatinya. Tak benar-benar singgah. Hanya perempuan itu pernah begitu lama ngobrol dengannya, dalam sebuah percakapan di whatssapp, dan seluruh percakapan itu terasa begitu asik. Dan ia merasa, seluruh percakapan itu berarti cinta, dan berikutnya mereka akan menuju pada pelaminan.

Seluruh impian itu begitu menguat dalam beberapa hari. Sampai akhirnya percakapan mereka mulai berkurang secara perlahan dan benar-benar hilang setelah enam bulan. Enam bulan berikutnya, perempuan itu muncul dengan pesan yang pendek.

“Aku suka puisi-puisimu. Aku pinjam beberapa ya untuk aku tulis di undangan pernikahanku”.

Kalimat itu membuatnya tertegun. Mematung. Dan orang-orang mengira ia mengalami sakaratul maut. Orang-orang mengira dia mati dalam keadaan berdiri. Andai ia memegang tongkat, maka orang-orang yang teringat kisah nabi Sulaiman, mungkin akan berusaha mengambil tongkatnya untuk memastikan apakah ia bisa berdiri tegak atau tergeletak. Tapi tak ada tongkat di sana. Dan dalam beberapa menit berikutnya, saat orang-orang mau mengambil tindakan, ia sudah bergerak lagi dan berjalan begitu saja entah ke mana. 

Siapa yang tahu kisah itu?

 

IV/

“Tak ada yang tahu”, kata kopi itu kepada pemuda di hadapannya. “Dia pernah bilang. Ia tak kan pernah mau bercerita kepada siapa pun yang punya mulut. Andai dia tau bahwa secangkir kopi seperti ku dapat bercerita seperti ini, mungkin dia pun tidak akan pernah bercerita tentang kisah hidupnya yang pilu kepadaku”.

Secangkir kopi itulah yang menjadi kawan hidupnya. Ia hanya percaya padanya. Sehingga setiap ia merasa perlu mencurahkan isi hatinya kepada secangkir kopi itu. Sahabat yang tak akan bercerita kepada siapa pun.

“Aku tak mungkin bercerita kepada siapa pun. Hanya kau, secangkir kopiku, yang bisa aku ajak bicara tanpa banyak bertanya. Hanya kau yang berusaha mengerti ucapan-ucapanku yang terdengar aneh ini. Jadi, tolonglah dengarkan kisah si pendengar kisah-kisah pilu ini”.

Lalu ia kecup cangkir kopi itu. Secangkir kopi itu ingat betul semua itu. Tapi ia seperti manusia, ia tak dapat menyimpan sendiri kisah-kisah pilu dari tuannya, si pendengar kisah pilu itu.

“Hari ini, seluruh kisahnya, telah aku ceritakan kepadamu. Terserah, mau kau apakan cerita itu”.

Secangkir kopi itu kembali menjelma secangkir kopi biasa. Lelaki itu segera tersadar, orang-orang sudah mengerumuninya. Mereka sempat menganggapnya gila. Dan mereka tambah yakin saat si pemuda itu mengumpulkan orang-orang dan mengatakan kepada mereka:

“Mulai saat ini, di tempat ini, kita bangun patung untuk si lelaki pendengar kisah pilu itu”.

Orang-orang akan segera menginterupsinya. Tetapi salah seorang mahasiswa filsafat yang kagum dengan keanehan pemuda itu menahan orang-orang dan membiarkan pemuda itu meneruskan ide gilanya.

“Patung dia akan menjadi bukti betapa kisah-kisah pilu itu hanya perlu didengarkan. Perlu dikuatkan. Bukan untuk dihina-hinakan”.

Sebagian membenarkan. Sebagian lagi hanya menggeleng dan pulang.


0Comments

Previous Post Next Post

ads