Penulis : Ben

Ilustrasi : jofania.wordpress.com

Kini saat kegelapan terurai dengan datangnya terang, kita segera tahu bahwa tempat yang ditinggalkan kedua sosok itu adalah tanah luas dengan taburan kuburan. Rumah abadi untuk mereka yang mati.

“Bung, apa sudah ada kabar kematianmu?”

Lelaki yang ditanya tidak segera menjawab. Hening. Sesekali suara desir angin malam dan gemerisik daun-daun di sekitar kedua orang itu yang mengisi keheningan. Di bawah langit yang disiram gelap gulita malam, dan hanya sedikit pancaran bulan, kedua lelaki itu hanya terlihat sebagai sosok hitam. Mereka tampak seperti siluet hidup.

“Susah bung”, jawab ia akhirnya. Lelaki itu lalu seolah sibuk mencari sesuatu. Ia terlihat merogoh kantongnya. Kanan dan kiri. Dan saat ia menyadari yang dicari tak ada, ia menyerah.

Kepada temannya: “Bung ada korek?”

Lelaki di sampingnya mengeluarkan korek. Ia menyuguhkan api ke ujung rokok kawannya.

“Tak usah bung”.

“Jangan tolak bung. Ini bentuk kekagumanku pada bung”, jawab lelaki itu penuh kesungguhan.

Lelaki perokok itu akhirnya membiarkan saja ujung rokok disulut api. Terbakar. Titik kecil membara di ujung rokok itu. Bila angin dalam sebentar melintas, maka bara di ujung batang rokok itu sedikit menyala lebih terang dan bunyi “kretek-kretek” terdengar lebih kuat. Demikian juga, saat sosok hitam itu mengisap perlahan. Lalu asap hitam mengepul dari mulutnya. Melayang-layang sebentar di udara. Lalu berpendar. Memudar. Menghilang. Menyatu dengan alam.

Lelaki itu nampak menikmati betul tiap-tiap hisapannya. Seperti tak pernah lepas dari mulutnya. Bara dan kepulan asap seperti tak pernah istirahat dari tugasnya. Yang menunda rokok membara dan mengepulkan asap hanyalah saat si perokok berat itu merasa menemukan kata-kata di otaknya untuk dituturkan atau dibayangkan. Tapi itu tidaklah lama. Sela antara berpikir, membayangkan sesuatu, atau menuturkannya, selalu dipergunakan untuk menikmati hisapan rokoknya.

“Bung, sudah tanya ke orang-orang, siapa yang membunuh bung?”

Lelaki yang ditanya nampak tersenyum. Gerak bibirnya seperti menunjukkan gerak ekspresi itu sehabis melepas beberapa kepulan asap rokok. Lalu ia menggeleng. Berubahlah gerak bibirnya pada yang semula dengan ekspresi datar. Ia mengalihkan pandangnya sebentar pada langit. Di sana, langit dilumuri warna gelap. Bulan terlihat terang bersama titik-titik bintang yang bertaburan. Pandangnya pada langit tidak lama. Ia segera turunkan pandangnya pada segala yang di bumi, pada objek-objek yang duduk di sekitarnya, pada tempat kini ia berpijak.

“Saya sendiri tak pernah bertanya bung. Hanya orang-orang yang peduli pada diriku yang bertanya. Mereka mencari tahu. Bahkan sampai saat ini, mereka masih setia mencari tahu”.

“Lalu?” 

“Kematianku sangat jelas bung. Semua orang tahu. Seluruh negeri ini tahu. Tapi cuma satu yang orang-orang tidak bisa menjawab tentang siapa pembunuhku”

Bara di ujung rokok di tangannya kembali menyala sedikit lebih terang. Barusan angin malam menyelinap dan menggodanya. Lalu meremang lagi. Lelaki di sampingnya nampak menyimpan sejuta pertanyaan dan keheranan. 

“Tapi, bukannya aku dengar sudah ada yang bertanggung jawab atas kematian bung?”

Lelaki itu menggeleng tegas. Tapi ia nampak segera mengoreksi gelengannya.

“Iya, bung betul. Tapi itu bukan…”, ia melanjutkannya dengan isyarat telunjuk yang ia tempelkan ke dahinya. Kawannya mencoba memahami maksud isyarat itu. 

“Itu masalah besarnya”.

“Masalah bung apa?”

“Rumit bung”, sambil ia menarik nafas berat.

Dia lalu berbicara seperti berbisik-bisik. Kata-kata yang disampaikannya begitu panjang. Ia seperti menyampaikan riwayat panjang sebelum ia dibungkam dengan kematian. Lelaki yang mendengarnya nampak beberapa kali mengangguk-anggukkan kepalanya. Ia nampak memperhatikan betul detail-detail cerita yang disampaikan kawannya.

“Hanya karena protes bung?”

“Ya, protes”.

“Dianggap mengganggu bung?”

“Ya bagi segelintir orang”

“Siapa bung?”

Ia menggeleng. 

“Entahlah”.

Tiba-tiba sesosok hitam, dengan rambut gondrong, dengan wajah terlihat kurus, dan menderita menghampiri mereka.

“Bung, ada rokok?”, tanya tamu itu.

Si perokok merogoh kantongnya dan menyuguhkan kepada sang tamu. Si pemilik korek menyalakan api untuknya. Sang tamu menikmati hisapan pertamanya dengan waktu yang agak lama. Gumpalan asapnya lebih tebal. Kedua orang itu menduga-duga tamunya adalah perokok berat yang bertahun-tahun tak berjumpa dengan rokok.

“Kapan terakhir kali bung merokok?”

“Sejak aku dihilangkan”

Kedua orang itu saling bertatapan. Mereka mencoba mencerna maksud ucapan dari sang tamu. Saat mereka memutuskan untuk bertanya, sang tamu mendahului izin pamitan dan segera pergi entah ke mana. Lelaki asing itu begitu cepat menyatu dengan kegelapan. 

“Dia…?”

“Ya, ya aku seperti ingat? Tapi siapa?”

“Si penyair?”

“Yang bilang merdekat itu nasi, dimakan jadi tai…??”

“Ya, ya, ya…betul”

Kedua orang itu memikirkan nasib penyair itu. Mereka sangat menyesal tidak bertanya di mana si penyair itu tinggal. Lama sekali ia menghilang, dan nampaknya kehilangannya bakal selamanya menjadi misteri. 

 “Kabarnya penyair itu meninggalkan sejumlah puisi yang berisi kutukan”. 

“Ya, kutukan bagi segelintir orang. Bagi segelintir yang lain, puisinya berisi kemarahan”.

Mereka masih ingin melanjutkan dialog mereka. Keganjilan-keganjilan puisi dan kematian, protes dan kehilangan, dan keganjilan-keganjilan lainnya menumpuk di kepala masing-masing. Tapi mereka segera menyadari panggilan waktu. Sebentar lagi, warna hitam yang menyelimuti malam ini bakal memudar digantikan semburan warna putih untuk menyambut datangnya pagi. 

“Kita ketemu lagi lain waktu bung. Jangan lupa kabari perkembangan kematianmu”.

“Baiklah bung”.

Kedua sosok siluet itu berjabatan tangan. Mereka saling berpisah dan berjalan ke arah yang berbeda. Kini saat kegelapan terurai dengan datangnya terang, kita segera tahu bahwa tempat yang ditinggalkan kedua sosok itu adalah tanah luas dengan taburan kuburan. Rumah abadi untuk mereka yang mati.

0Comments

Previous Post Next Post

ads