Penulis: Deyna Mikaila Juba

Dahulu, di sebuah dataran La Mancha hidup seorang ksatria kelana yang tak muda, tapi tampil dengan kepahlawanan gila, penuh derita, dan bahaya, tapi mengundang sedih dan sekaligus gelak tawa. Nama aslinya, Alonso Quijano, sosok yang oleh Goenawan Mohammad disebut: “ada untuk ditertawakan”. Ia mengaku dirinya bernama Don Quixote de La Mancha. Keksatriaannya adalah sebuah kegilaan. Semua itu bermula dari buku-buku hikayat yang dibacanya dan membuatnya gila.

Sepintas, saya melihat politisi kita bisa didudukkan pada keremeh-temehan sang satria kelana Don Quixote ini. Tapi segera saya tangkis: tidak. Politisi kita jelas tak bertindak gila. Tak seperti Don Quixote. Seluruh tindakannya produk rumit dari kalkulasi sadar, rasional, dan penuh kepentingan seorang politisi.

Kedua, ia bicara dengan kosa-kata dan narasi yang juga umum di kalangan masyarakat. Bila Don Quixote dipenuhi nuansa kepahlawanan ksatria kelana yang hanya ada dalam kesusastraan Eropa abad ke-12, ketinggalan dari zaman masyarakatnya, politisi kita bicara dengan kepahlawanan di atas zaman ini: mewakili kepentingan politik kita hari ini.

Tapi sebagai sebuah keremeh-temehan belaka, saya tertarik untuk melihat Don Quixote dalam politisi kita: bagaimana jika politisi kita seorang Don Quixote?

Mengimajinasikan Masalah

Dalam kelananya, Don Quixote terpukau dengan banyak hal yang ditemui dan seluruhnya memukau dalam tafsir imajinasinya. Misal, kincir angin – ya betul-betul kincir angin belaka di mata pengawalnya, Sancho Panza – di mata Don Quixote menjelma sosok iblis yang harus diperangi. Banyak lagi kejadian menggelikan semacam itu dalam kelananya yang lain.

Dari sudut pandang ini, jika remeh-temeh tentang Don Quixote dibayangkan dalam politisi kita, maka muncul kecurigaan yang menyebalkan: jangan-jangan politisi kita seperti Don Quixote dalam menemukan masalah di sekitar kita: masalah yang sekehendak interpretasi imajinasinya belaka, bukan berdasar pandangan masyarakat. Jangan-jangan apa yang dianggap oleh politisi kita sebagai masalah dan perlu, di mata masyarakat bukan masalah dan tak perlu. Jangan-jangan. Sebuah kecurigaan.

Dasar kecurigaan itu dari sini. Pertama, politisi kita – tak semuanya, tapi tak sedikit – sering muncul berbaur dengan masyarakat – tentu dalam segala citra kepahlawanan dan kepeduliannya – hanya dalam sesaat dan tiba-tiba. Tiba-tiba jadi sosok kritis, prihatin, dan peduli dengan segala soal di sekitar kita. Tiba-tiba menyoal urusan “ngebul” atau tidaknya dapur kita tiap hari. Tiba-tiba peduli kesulitan ekonomi, pendidikan, infrastruktur, dan urusan-urusan kita punya lainnya. Di sini, ada “ke-serba-tiba-tiba-an” pada politisi kita. Tambahan, ketibaan-tibaan itu selalu menjelang momen hajatan politik.

Dalam keserbatiba-tibaan ini, banyak cara perkenalan mereka dengan masyarakat. Ada yang datang silaturrahmi dan tiba-tiba membicarakan banyak masalah. Keseluruhannya dramatis. Kata-katanya terdengar sungguh-sungguh. Intelek. Meski kadang tak kita pahami maksudnya. Adapula yang dikenal dengan tak sengaja saat menoleh dan menemukan sosoknya tersenyum intelek dalam suatu pamflet, banner, baliho, atau medium-medium iklan lainnya – baik yang menempel dengan paku di pohon, tempelen di tembok-tembok, atau di jalan-jalan raya – dengan sederet slogan dan program yang dipilih dari diksi yang sengaja hendak memukau kita.

Ada yang kita temui di arena-arena pertemuan, di panggung-panggung kampanye, dengan mulut menebarkan janji-janji dan diakhiri dengan berbagai macam hiburan yang membuat kita lupa bertanya apakah esensi kampanye: perayaan hiburan atau janji politik masa depan?

Melalui perjumpaan yang sepintas dan tiba-tiba ini, bisakah mereka (politisi kita) berada di sudut pandang masyarakat dalam menangkap masalah di sekitar mereka? Bisakah mereka membaca apa yang dibutuhkan oleh masyarakat? Jangan-jangan mereka layaknya si Don Quixote yang menganggap kincir angin adalah sesosok iblis dan harus diperangi?

Narasi Kampanye yang Tak Dipahami

Dasar kecurigaan kedua, tak sedikit narasi kampanye mereka tak lengkap dan tak jelas maksudnya. Tentu politisi kita tak buruk dalam memilih diksi yang bagus dan sekaligus akrab di masyarakat. Buktinya yang kita temui dalam pamflet-pamflet adalah deretan slogan yang enak dibaca dan mudah diingat belaka. Tapi, dan ini ironis, politisi kita nampaknya hanya berlomba bagaimana membuat akronim politik belaka. Bukan bersungguh-sungguh untuk kampanye politik. Barangkali mereka sekedar mengejar apa yang sungguh menarik publik, bukan yang sungguh dibutuhkan publik.

Dengan kampanye sloganistik belaka, tak sedikit kita yang sekedar menangkap sedikit dari narasi janji-janji politik mereka, tak utuh dan mendalam. Dengan situasi ini, seluruh slogan dan program kampanye nampak sebagai produk retorika belaka, hasil “kecap” mulut yang akhirnya tinggal berbusa-busa. Untung kalau tak bau. Retorika kampanyenya minus substansi janji politik, dan nampak sekedar kontestasi omong kosong si gila Don Quixote di atas kuda bernama Rocinante di mana orang-orang mendengar dan menyaksikan dengan tawa geli, terhibur, dan sisanya sekedar mengiyakan sebagai tanda orang normal yang repot dengan basa-basi penghormatan.

Situasi ini dipecahkan lewat tangan lain, dengan mengutus konsultan politik untuk memperkirakan apa yang diingini oleh masyarakat. Si tangan lain ini lalu menyodorkan hasilnya: masyarakat suka A bukan B, ingin A bukan B, dan lain-lain. Si tangan lain ini – sebagaimana politisi kita – juga turut memukau dari sejak bagaimana mereka merumuskan cara menemukan jawaban masyarakat. Mereka berlindung dalam balut jubah “survei ilmiah”. Padahal cara mereka tak kalah “instan”-nya. Bayangkan, anda masyarakat, duduk di beranda rumah. Tiba-tiba seseorang datang dan beberapa menit berikutnya membuka lembar kuesioner yang isinya sederet teks dan pilihan-pilihan tertentu. Lalu berlangsung tanya jawab dengan si pemilik rumah tentang A,B,C dan D dan dari sekian banyak orang, akhirnya disimpulkan: itulah yang mereka mau.

Semoga Kita (Bukan) Sancho?

Sancho adalah manusia bernasib sial. Setelah dijanjikan menjadi raja di sebuah pulau yang belum diketahui tapi memukau dan meyakinkan, ia akhirnya terbujuk untuk mengikuti petualangan tuannya, Don Quixote. Ia terjebak dalam “kibul” intelek dari si gila sang satria. Andai politisi kita Don Quixote dan kita adalah Sancho Panza, maka nikmatilah politik yang penuh dengan kegilaan dan imajinasi kampanye ini. Bersiap-siaplah mengikuti seluruh kemalangan nasib yang harus diterima oleh Sancho Panza. Dan meskipun perlahan terkuak tabir kepalsuan dan kegilaan dari si Don Quixote politisi kita, kita sebagai Sancho Panza harus terus menerima nasib yang dimainkan oleh si Don Quixote.

Cerita Don Quixote diakhiri dengan sesuatu yang menggembirakan tapi bakal tak lagi menghibur: sang ksatria kelana pulang ke rumah dengan meninggalkan kegilaannya. Adakah akan seperti ini nasib politisi kita andai mereka seorang Don Quixote?


0Comments

Previous Post Next Post

ads