Penulis: Yowes Ben

Di dekat rumah, Legoso, tiap selasa malam, pasar hidup. Satu cabang jalan ditutup. Hanya disisakan sedikit untuk pejalan kaki. Di pinggir-pinggirnya, digelar aneka macam jualan. Mulai dari jajanan, mainan, pakaian (termasuk pakaian yang paling dalam). Saat aku keluar dari rumah, tak tahu bagaimana wajah langit. Tapi beberapa menit kemudian, saat aku sudah berada di sebuah warung pecel ayam kremes di pojok pertigaan jalan, hujan yang baru beberapa detik jatuh ke bumi sebagai rintik-rintik, kini perlahan benar seperti sebuah siraman dari langit. Jalanan basah. 

Di jalan yang biasanya di pinggirannya tergelar aneka macam jualan, tak terlihat. Hujan yang deras menunda mereka. Siapa sudi berbasah-basahan di tengah hujan untuk jualan aneka macam yang untungnya barangkali tak cukup untuk beli obat masuk angin? Maka jadilan jalanan itu sepi. Motorku melenggang dengan tenang di bawah siraman hujan, dalam kendali pengendara yang menggigil diterpa hujan dan angin malam.

Aku sampai di rumah dengan pakaian dan celana yang sedikit basah, dan menggantinya dengan yang kering. Tapi mari kita kembali lagi pada warung pecel ayam kremes yang berada di pojok pertigaan jalan yang terhubung dengan lokasi pasar malam itu. Di sana, di seberang jalan, di depan sebuah ruko – barangkali rumah, tapi aku melihatnya seperti sebuah ruko – ada seorang bapak-bapak dengan dagangan balon. Ini memang pasar malam, tapi di tengah malam seperti ini dan di bawah guyuran hujan, nampaknya tak ada yang tertarik membeli balon. Hujan yang deras dan dingin, orang-orang tak membeli balon. Lebih masuk akal membeli makanan. Ayam dengan sambel pedas. Teh panas yang bisa mengguyur kerongkongannya. Boleh juga tubuhnya.

Terlebih lagi ini suasana PSBB jilid dua (oh tapi itu di DKI bung. Tangerang Selatan tidak). Maka lengkap kemungkinan bahwa jualan balon di tengah malam bukan pasar yang baik. Tapi semoga perkiraan abal-abal ekonomiku luput. Didorong oleh pikiran ekonomi itu, maka aku tergerak untuk menyeberang jalan, melintasi hujan, dan menanyakan harga satu balonnya.

“10 ribu saja”, demikian katanya. Ada duit selembar 10 ribu, dan dua lembar dua ribu di saku celana pendekku. Kurogoh selembar dan kubayar untuk satu balon. “Untuk cowo atau cewe?”, tanyanya. “Cowo”. Si pedagang balon itu memilihkan balon bis tayo. Aku tak membantah. Kuterima saja. Tayo mungkin adalah representasi balon yang cowo banget dalam pikiran si pedagang balon itu. Aku pulang dengan membawa tayo, si balon yang cowo, melintas lagi di bawah hujan dan menuju ke rumah untuk segera ganti baju dan makan malam.

Mendekati rumah, begitu motor baru melewati pagar kompleks depan yang dibiarkan terbuka, hujan yang deras menjelma rintik-rintik lagi. Rintik-rintik itu semakin jarang. Sesampai di rumah, rintik-rintik itu seolah sirna sepenuhnya. Barangkali tugasnya sebagai hujan yang deras telah selesai. Saatnya mereka istirahat. Saat hujan benar-benar reda, jam masih menunjukkan 20.00 WIB. Itu berarti pasar malam masih dimungkinkan untuk digelar lagi. Hitung-hitung, pasar malam jadi jalan bagi mereka untuk tetap dapat mencari penghidupan ekonomi di tengah pandemi.

Kepada hujan yang benar-benar reda dan seolah mempersilahkan kepada para pedagang untuk kembali menggelar dagangan di pasar malam, surat ini kuhaturkan sebagai cerita, curhatan, dan ucapan terima kasih. Sebagai cerita bahwa pasar malam adalah salah satu jalan bagi mereka – pedagang-pedagang kecil yang berjuang mencari penghidupan. Bahwa mereka berharap dapat tambahan-tambahan uang untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari, untuk uang jajan anak-anaknya, dan seluruh hal yang membutuhkan pembiayaan. Bahwa pasar malam adalah harapan kecil mereka yang dijalani tiap minggu sekali.

Dan sebagai ucapan terima kasih, sebab hujan dari yang mula rintik-rintik dan segera menjelma deras, tak berlangsung lama. Boleh saja hujan berlangsung lama, dan mereka mungkin mengeluhkan situasi itu. Tapi hujan tak lama, dan berharap mereka masih berpikir punya peluang untuk kembali menggelar dagangan. Ini situasi pandemi. Produktifitas ekonomi sedang turun. Tapi harapan semoga tak ikut turun. Pasar malam adalah saksi sederhana betapa mereka masih punya harapan sebagai pendorong mereka untuk hidup dan berjuang mencari penghidupan.


0Comments

Previous Post Next Post

ads