Penulis : Deni

Ilustrasi : Lakonhidup.com

Tori selalu mengejekku. Muka anjing. Ya. Betul. Mukaku jelek. Tapi sumpah demi Tuhan, aku berkali-kali bercermin. Tak pernah aku mendapati bibirku memonyong semonyong bibir anjing. Tak pernah aku punya kebiasaan menjulur-julurkan lidah. Tapi Tori tak peduli dengan itu. Bagi Tori, mengejekku seperti sebuah hobi. Atau mungkin seperti rasa lapar dan ia bisa kenyang hanya dengan mengejekku. Muka anjing.

Tori adalah kawanku. Kami berkawan lama. Tapi ia seperti suka sekali melihatku terhina. Dia ingin sekali menghinaku. Aku tak dendam. Tapi aku tak bisa melupakan suatu peristiwa saat ia mengejekku di depan teman-temannya di sebuah tongkrongan. Aku tak terima dan aku mungkin tak akan melupakan peristiwa itu. Sebabnya, ada dia. Perempuan yang aku suka. Lihat betapa seseorang sepertiku sekali pun dengan wajah mirip anjing (itu kata Tori, bukan kataku), aku tetap ingin terlihat tampan, tampan sekali, di depan perempuan yang dipujanya.

Aku kembali memandangi diriku di hadapan cermin. Aku bisa katakan dengan yakin dan penuh percaya diri, kau lebih buruk dariku, Tori. Tapi sudahlah. Percuma. Aku tak bakal bisa menang melawanmu. Aku lebih memilih menjadi sosok yang dingin dan tenang. Aku tak akan menunjukkan tanda-tanda aku menyimpan kebencian. Kemarahan dan kebencianku pada Tori aku biarkan hidup dalam hati. Aku diamkan dalam satu perhitungan yang matang. Suatu saat, orang seperti Tori, juga bakal terjatuh oleh mulutnya sendiri. Suatu saat. Ini bukan do’a, ini hanya firasat atau mungkin khayalanku.

Aku bisa sabar untuk saat ini, atau mungkin saat-saat yang lain nanti, bukan karena aku punya kepribadian yang baik, penyabar dan terpuji seperti nabi, atau orang-orang bijak lainnya. Tidak. Aku hanya memikirkan: percuma aku melawan Tori. Dia dengan tubuh yang kekar, besar, berhadapan dengan tubuh kurus, kering, sepertiku. Maaf sekali. Ini bukan soal takut atau pengecut. Ini hanya soal perhitungan matang dariku. Betapa ini bakal menjadi pertandingan yang singkat jika aku harus melawannya. Aku bisa pingsan sekali tendang. Dan ia bisa makin sombong merasa tak terkalahkan. Jadi biarlah orang mengira-ngira saja apa yang akan terjadi jika aku marah dan mengambil langkah seribu melawannya. Hmmm.


i/


“Kring…kring…kring”, gawaiku teriak. 

Matahari melirikku dari jendela kamar yang terbuka. Sinarnya tepat di mata dan membuat mataku tak mampu menatap apapun. Aku kucek sebentar dan kualihkan segera pada layar gawaiku. Sederet huruf yang sudah aku kenal: Erwin. Layar itu menyala berkedip-kedip mengikuti irama dering.

"Iya Win, ada apa?" tanyaku dengan suara serak.

"Kau mau ikut bakar- bakar tidak? Teman-teman tahun baruan ke puncak", kata Erwin dengan suara yang antusias dan tentu sekali membujuk.

"Traktir tapi ya?" ucapku dengan santai.

"Tenang kalau soal itu. Aman".

"Oke siap" jawabku

Tapi segera terpikir olehku: istri. Tak ada yang tahu. Istriku pemarah. Sangat pemarah. Aku harus memikirkan bagaimana caranya aku bisa ikut teman-teman. Aku bisa saja mengajaknya ikut. Tapi terlalu banyak hal yang bisa membuatku tak nyaman. 

Tori. Orang itu menjadi yang pertama kali muncul dalam kengerianku. Aku bisa saja tahan dengan semua kebiasaan dan hobinya untuk mengejekku. Dia bisa saja menyebutku muka anjing, dan berbagai kalimat tak mengenakkan lainnya. Tapi Dini, istriku. Tidak mungkin. Dia tidak boleh jadi objek penghinaan Tori.

“Tori”, aku mengucapkan sepatah kata sambil berdiri dengan sok gagah di depan cermin. Dibuat segagah mungkin. “Tori, kau boleh ejek saya, tapi tidak dengan istriku”.

Terbayang segala kepahlawananku dan kebanggaan istriku melihat suaminya bisa berdiri dengan gagah melindungi istrinya dari gangguan Tori, si buruk itu. Terbayang Tori tidak bisa berkutik dengan sekali tatapan tajam dan ucapan yang gagah dariku. Istriku, Dini, akan memelukku. Dan aku jadi suami paling hebat di dunia ini. 

“Tori, berani kau menghina istriku, kau bisa buktikan sedikit kehebatanku. Silahkan pilih di mana tempat terluas yang kau mau untuk meladeni sikap paling jantan ini”.

Aku masih dibuai imajinasi itu. Tapi beberapa menit kemudian, seluruh khayalan itu ambruk. Aku tak mungkin bisa mengalahkan Tori. Andai aku mencoba memberanikan diri mengatakan kegagahan itu di depan Tori dan Tori benar-benar meladeniku, aku bisa apa? Kalau aku mundur, istriku pasti mengutukku sebagai suami pengecut. Penakut. Kalah sebelum melawan. Kalau aku maju, mati aku. Babak belur aku. Sudah sakit babak belur, aku juga harus menanggung malu berlipat-lipat. Brengsek betul hidup dengan tubuh yang tak gagah, dan tak ditakuti.

Sudahlah semua imajinasi itu. Aku harus memikirkan cara yang baik agar istriku tak harus ikut. Mau tak mau, aku harus membohongi istriku lagi. Ini sudah kebohongan yang kedua di minggu ini. Semoga istriku mau percaya dan memaafkanku.


ii/


“Hei cantik”. Dini sedang sibuk dengan kucingnya. Tapi ia menoleh dan kulihat wajahnya seolah menebak sesuatu pada diriku.

“Kenapa kamu senyum-senyum?”, tanyanya sembari matanya masih menatapku seperti orang yang mencurigai sesuatu.

Senyum-senyum. Ah? Aku pikir tadi aku sedang berusaha tersenyum, bukan senyum-senyum. Apakah istriku selalu akan membaca senyumku sebagai tanda-tanda berbahaya, isyarat yang menjijikkan atau apa? Lalu senyum seperti apa? Baiklah kuperbaiki biar lebih natural. 

“Aku tidak senyum-senyum, aku senyum. Se…nyum. Emang tak boleh suamimu tersenyum? Mau cemberut kayak kamu terus?”

“Loh, loh, loh, kok jadi nuduh aku suka cemberut”. Jurus pertama mengalihkan perhatian istriku dari kecurigaannya adalah menciptakan situasi ribut. Istriku sekarang jadi fokus ke masalah cemberut. 

“Kamu emang suka cemberut, kok”.

“Itu cemberut karena akang. Sukanya tidur. Sukanya kelayapan. Jarang pulang. Ya cemberut. Itu juga kadang-kadang ngga tiap hari”, Dini mulai menggerutu hebat. Aku mengalihkan ke soal lain dengan wajah yang serius. Kali ini, tak ada senyum atau senyum-senyum.

“Besok, aku mau ke puncak. Mau kirim barang-barang ke sana”.

“Oh…”.

“Gak apa-apa, ya?”

“Iya, gak apa-apa”.

Dini menyibukkan lagi dengan kucingnya. Kadang aku cemburu dengan kucing itu. Tiap hari selalu dapat belaian gratis dari istriku. Tapi tak apa. Pagi ini, aku anggap Dini tidak curiga apapun. Itu artinya aku bisa berangkat ke puncak dengan santai, dan tenang. Aku sudah lolos dari masalah besar yang pertama. 

Dan yang penting juga, aku bisa lolos dari masalah kedua. Erwin baru saja mengabariku, Rita juga ikut. Aku harus tampil ganteng maksimal di hadapan dia. Oh Dini. Oh Rita. Engkau kebahagiaanku. Dan kau Tori, tubuhnya yang besar tak bisa mengalahkan aku yang kurus kecil begini dalam urusan merayu Rita. Perempuan itu pasti lebih suka duduk di sampingku. Dan urusan seperti ini, tak bisa dikalahkan oleh ototmu. Tapi otak. Dan aku begitu bangganya pagi ini.

Dini kembali dari dapur dengan segelas teh manis kesukaanku. Lalu ia duduk di hadapanku. Aku seruput teh itu. Panas dan manisnya pas. 

“Mungkin aku balik ke sini tanggal 1 pagi. Kamu baik-baik ya di rumah selama aku pergi”.

Dini hanya mengangguk. Aku senang sekali. Dini tak curiga lagi. Tak ada tanda-tanda curiga lagi. Ia sepenuhnya jadi Dini yang dulu, yang lugu, dan lucu sekali. Aku tertawa dengan kebahagiaan ini.

“Akang hati-hati juga di sana”.

Aku tak menjawab. Tapi kupeluk ia dengan penuh mesra.

“Besok, aku berangkat pagi. Jam delapan pagi. Kamu di sini saja kan?”

Dini beranjak ke dapur. 

“Iya besok aku di sini saja. Lagipula, Tori besok siang mau ke sini”, teriaknya.

Tori?

0Comments

Previous Post Next Post

ads