Oleh: Ben Yowes


Kemarin, kawan saya mengirim gambar Eduard Douwes Dekker melalui whatsapp. Dalam sebuah kertas yang lecek. Penuh dengan bercak minyak sayur di sana-sini. Di garis tepi foto sebelah kanan, bercak minyak sayur yang syukurnya tak mengotori mulutnya yang dirimbuni kumis. Wajah Douwes Dekker itu terselamatkan dari bercak itu.

Kertas itu juga memuat keterangan yang bisa dibaca secara jelas. Kalangan yang menyukai bacaan sastra, sejarah, atau sejenis pelahap buku saja, mungkin tak asing dengan Douwes Dekker. Di kertas yang lecek penuh bercak itu, jelas informasi tentang sosoknya: ia seorang Belanda yang tak berpihak pada pemerintah kolonial. Ia bukan pribumi tapi lantang menyuarakan keberpihakannya kepada pribumi. Ia menulis novel berjudul “Max Havelaar”, novel liar yang kemudian hari menginspirasi pergerakan nasional.

Dari mana datangnya kertas lecek itu? Dari tangan seorang pedagang terang bulan (atau martabak manis. Itu setelah aku googling ‘terang bulan’, ternyata yang muncul martabak manis). Yang membuat kawan saya merasa sedih, atau mungkin sedih tapi juga ingin ketawa, kertas itu tak lain merupakan kertas pembungkus martabak manis itu. Wajah Douwes Dekker menjadi pembungkus martabak manis?

Tak ada yang patut disalahkan. Toh pedagang martabak itu mana tahu siapa sosok yang punya kumis rimbun di kertas yang jadi pembungkus dagangannya. Mana tahu kalau si Multatuli ini pernah menulis novel aneh dan liar bagi kolonial dan membangkitkan motivasi untuk bangkit bagi pribumi untuk melawan? Mana tahu kalo novel itu dikagumi sepenuh hati oleh Pramoedya Ananta Toer sebagai novel yang mengguncang kolonialisme Belanda? Mana tahu. Kepada Pram saja, mana tahu.

Andai saja kawan saya yang membeli martabak itu adalah Pramoedya Ananta Toer, dan ia mendapati secarik kertas itu bergambar wajah Multatuli, maka mungkin ceritanya akan mengalir seperti ini.

Pram kaget setengah mati. Ia hampir berteriak melihat tokoh pujaannya jadi pembungkus martabak. Lalu ia menyuruh si tukang martabak berhenti menggunakan kertas itu. Pram, dengan uang yang tak banyak, mungkin pas-pasan, tentu tak kan berkorban membeli kertas itu dan mengabaikan martabak manis itu. Sebagai opsi cerita, Pram mungkin mengingatkan kepada si pedagang.

“Bung, tolong jangan bungkus martabak itu dengan gambar Multatuli”, kata Pram dengan tegas, tanpa kompromi sebagaimana biasa. Si tukang Martabak bingung. Multatuli? What? Who? (Oh tentu, si tukang martabak tidak kaget dengan memakai bahasa Inggris. Itu hanya khayalanku yang keterlaluan).

“Bung bungkus martabak saya dengan kertas lain. Sedangkan kertas bergambar Multatuli itu”, Pram lagi-lagi harus menunjuk kertas bergambar lelaki dengan kumis rimbun itu. Sebab si pedagang martabak tetap tidak mengerti, “ya kertas itu, kertas itu buat saya”.

Selain bingung, si pedagang martabak juga tak mau memberikan kertas pembungkus martabaknya secara cuma-cuma. Dia bisa rugi. Toh juga dia dapat kertas itu bukan secara cuma-cuma, tapi beli dari tukang kertas-kertas tak terpakai, atau buku-buku terbuang. Pram mengerti. Tapi si pengarang novel Bumi Manusia itu tak punya cara lain selain menawarkan pendekatan ekonomi yang lain.

“Begini saja, bung kurangi jatah martabak saya. Kurangi seharga kertas itu. Tapi tolong jangan terlalu mahal. Lalu bungkus martabak saya dengan kertas lain. Sementara, kertas Multatuli itu”, Pram kembali menunjuk kertas itu, “serahkan kertas itu kepada saya”.

Negosiasi selesai. Win-win solution telah diambil. Si tukang martabak tidak rugi harus menyerahkan dua kertas, satu sebagai pembungkus, satu sekedar kertas biasa berisi wajah orang yang tak ia kenal. Pram juga tak rugi. Walaupun jatah martabaknya berkurang, tapi ia bangga bisa menyelamatkan wajah sang guru pendobrak kolonial itu, si penulis Max Havelaar, dari bercak minyak martabak.

Sebelum mereka berpisah, Pram menjelaskan kepada si tukang Martabak.

“Bung harus tau”, kata Pram memulai sambil duduk di atas sandalnya dan menikmati jatah martabaknya yang sudah berkurang. “Orang yang ada di kertas ini, orang besar, bung”.

Si tukang martabak meneliti. “Dia tidak gemuk”, katanya bingung.

Sialan kata Pram. “Bukan gemuk. Tapi orang besar. Dia orang pintar. Dia penulis hebat, yang berani membuat bangsa kita yang dulu terjajah, menjadi berani melawan si penjajah. Orang itu Multatuli. Nama aslinya Eduard Douwes Dekker”.

Si tukang martabak mencoba mengangguk-angguk, tapi mungkin tetap tidak paham. Tapi Pram tidak peduli. Memang ia harus sabar menghadapi situasi seperti ini di tengah perut masih kelaparan.

“Nanti bung, kalau nemu gambar seperti ini lagi. Ingat. Dia orang besar. Bung tidak boleh jadikan wajah dia pembungkus Martabak”, lalu Pram pulang, dan si tukang martabak melanjutkan dagangannya.

Ngomong-ngomong bagaimana nasib kertas lecek yang bergambar Multatuli itu di tangan kawan saya yang bukan Pram? Entahlah. Informasi terakhir, dia tak menyebutkan apa-apa nasib terakhir dari kertas bergambar Multatuli. Kalau dia menghubungi lagi, ku sarankan padanya agar kertas itu dibelikan figura dan dipajang di dinding kamarnya.

Sebab kalau salah tempat, atau ia lupa menaruhnya di tempat sembarangan, kertas berwajah Multatuli bisa jatuh ke tangan emaknya dan emaknya menjadikannya sebagai penutup rengginang di kaleng kongguan. RIP Multatuli.


0Comments

Previous Post Next Post

ads