Penulis: Deni


Satu-persatu rokoknya dihisap. Entah ini sudah rokok ke berapa. Ia hanya tak ingin berhenti menikmati asap yang melewati mulutnya, menuju kerongkongannya, dan entah melalui jalur mana lagi hingga asap-asap itu bisa nongol lagi berkepul melalui hidung dan mulutnya. Kadang kepulan itu seperti membentuk lingkaran, kadang lingkaran agak lonjong, kadang tak berbentuk, dan akhirnya memang hilang tanpa bentuk dileraikan oleh udara.

Di depannya, puntung-puntung membentuk bukit kecil di atas asbak. Ia biarkan gundukan puntung itu menjadi dirinya sendiri. Tapi gundukan itu seperti bukit pasir atau mungkin lebih rentan dari itu sehingga angin yang sekedar menyapanya merupakan ancaman yang segera membuat puntung itu berhamburan, melayang-layang, mengotori meja dan ubin di rumah itu.

Lelaki itu jelas tak peduli pada apa yang terjadi dengan gundukan puntung rokok di asbak, pada permainan udara yang memborbardir gundukan puntung itu, pada asap-asap yang terus datang dalam kepul-kepul dan hilang. Seluruh pikirannya sedang mengelana pada jalan pertanyaan yang tak menemukan titik terang. Ia hanya bertanya, tanpa menemukan jawaban.

Ia memikirkan kehidupan suramnya yang tak berbentuk. Ia merasa telah menjalani labirin perjuangan, tapi seakan tak berbuah banyak. Ia mengutuk nasibnya sendiri. Nasibnya yang membuatnya demikian.

“Ah. Sialnya hidup ini”, ini umpatan ke sekian di tengah upayanya membakar sebatang rokok yang juga entah ke berapa.

Ia sudah berusaha mengikuti apa yang orang-orang ajarkan. Motivasi. Bangkitkan motivasi. Ya seperti itulah. Tapi ia tak tahu bagaimana membangkitkan motivasi. Setiap kali ia berusaha membangkitkan motivasi untuk menjaga semangat hidupnya, rasanya sama saja. Sia-sia. Jangan-jangan motivasi adalah mahluk pemalas yang datangnya tak tentu, semau-maunya.

“Ah. Bengis sekali hidup ini”, ia membakar lagi rokoknya.

Ia kadang mengutuk orang-orang yang bisa hidup mapan. Kadang ia timbul pertanyaan-pertanyaan yang mencoba membanding-bandingkan dirinya sendiri dengan mereka. Apa yang berbeda? Apa yang kurang dari usahanya hingga ia tak bisa seperti mereka? Bila ia tak menemukan titik penjelasan, maka ia hanya bisa mengutuki diri atau mengutuki mereka, mengutuki orang-orang. 

Mengapa orang-orang bisa hidup mapan? Mengapa mereka yang menodai kertas putih mereka dengan pena kotor, lalu bisa duduk nyaman di kursi yang empuk? Siapa yang ia maksud? Entahlah, kadang ia tak mengerti siapa yang ia maksud. Tapi ia membenci orang-orang yang hidup nyaman, dan mengutuki dirinya yang seakan terjebak dalam labirin hidup kesengsaraan.

“Ah. Sungguh tidak adil sekali hidup ini”, ucapnya lagi setengah menjerit tapi dengan suara yang seakan tertahan.

Rokok di tangannya sudah habis. Tapi ia masih menyalakan sebatang lagi yang terakhir sembari membenarkan duduknya. Ia mulai berpikir lagi mencari solusi dari keterpurukannya. Mencari solusi? Ia pengen menertawakan kata itu. Solusi? Mahluk apalagi itu?

Ia tak jadi peduli memikirkan solusi. Ia tak tahu masih adakah solusi. Ia terus lagi menghisap dan menghisap rokok yang penghabisan itu. Kini ia mulai kaget mendapati asap seperti tak bergerak di kamar yang tertutup. Asap-asap itu seperti sekumpulan mahluk yang kebingungan mencari jalan keluar. Rasa kagetnya segera berubah menjadi tawa. Ia begitu terhibur dengan kebingungan asap-asap yang terjebak itu.

 “Ah. Goblok, rokokku sudah tinggal sebatang”, ia memaki dirinya sendiri tapi segera membakarnya lagi.

Ia masih menyaksikan asap-asap itu melayang-layang tidak tentu. Tapi matanya segera teralihkan oleh langit-langit kamar yang sudah mulai rusak. Asap-asap yang tadi kebingungan kini mulai terlihat keluar melalui lubang-lubang yang dibuat kutu kayu. Tapi ia segera mendapati suatu pikiran yang lain, sebuah jalan keluar. Bukan untuk dirinya tapi untuk asap-asap yang berebutan keluar dari lubang-lubang sempit itu.

“Ah. Bodoh sekali mereka, kenapa tidak lewat pintu saja?” lalu ia beranjak membuka pintu kamarnya.

Asap-asap itu seakan begitu gembira dan segera menyambar pintu yang terbuka dan berlari keluar melalui pintu itu.

Lelaki itu teringat kalau ada janji dengan temannya. Tanpa berlama-lama, ia langsung mencuci mukanya yang kusut. Dan pergi dengan membawa korek api dan membuang bungkus rokoknya ke tempat sampah yang dipenuhi dengan sampah-sampah lain.

 



0Comments

Previous Post Next Post

ads