Penulis: Kholil Genandi

ADA yang bilang petani adalah pahlawan. Dalam cerita, terutama untuk sejenis cerita “happy ending”, sang pahlawan biasanya memperoleh kebahagiaan di akhir cerita.

Tapi cerita tentang petani dan tembakaunya, yang kami saksikan secara “live” dalam kehidupan nyata ini, nampaknya masuk jenis cerita yang lain. Jika petani adalah pahlawan, maka cerita ini tentang pahlawan yang tak menang-menang, tak ada kebahagiaan, hingga cerita mencapai ujung penghabisan. Sebab itu, saya simpulkan ini sebagai sejenis cerita tentang “sad ending”.

Masalah utamanya adalah merosotnya harga tembakau. Patokan harga tembakau saat ini jauh sekali dari harapan masyarakat tani. Daun-daun emas ini tak se-‘mengkilau’ ekspekstasi para petani. Jadi sangat wajar bila di mana-mana para petani saat ini mengeluhkan harga yang sangat tidak wajar sama sekali.

Situasi ini bisa dikatakan sebagai tragedi harapan bagi petani. Patokan harga yang diimajinasikan petani tak seirama dengan yang ada di batok kepala para pedagang. Di benak petani, daun-daun tembakaunya tetaplah daun-daun emas. Tapi di pedagang, daun-daun itu diperlakukan sebagai daun-daun yang cemas.

Dalih-Dalih Pedagang-Tengkulak

Dalam relasi ini, petani berada dalam relasi kuasa yang lemah. Mereka (petani) selaku produsen yang mestinya sebagai “pendikte” harga tidak mampu menghadapi kepungan pedagang-bandul-tengkulak tembakau. Petani, si pemilik tembakau, tak mampu mengimbangi dalih-dalih dan kuasa mereka.

Ada banyak dalih yang digunakan para pedagang-tengkulak ini untuk memainkan harga tembakau petani. Dalam keluh-kesah yang kami dengar dari petani, pedagang-tengkulak sering berdalih bahwa merosotnya harga tembakau disebabkan buruknya kualitas. Dalih-dalih yang digunakan untuk memperkuat dalih buruknya kualitas bisa meliputi faktor cuaca, situasi pandemi, dan faktor-faktor lainnya.

Musim tembakau saat ini sebenarnya tidak jauh berbeda dengan musim sebelumnya. Pada musim lalu, meski harga tembakau menurun, tetapi tidak separah sekarang. Di masa lalu, harga masih di kisaran Rp. 60 ribu hingga 65 ribu per kilogramnya. Bandingkan dengan musim sekarang yang harga tertingginya hanya mencapai Rp. 40 ribu/kg.

Dengan membandingkan dua situasi ini, dalih-dalih yang digunakan para pedagang dan tengkulak ini sebenarnya tidak kuat. Dalih bahwa kualitas tembakau menurun masih bisa dibantah & diperdebatkan. Kita boleh ‘positive thinking’ bahwa pedagang-tengkulak punya standar untuk menguji tembakau yang akan dibeli. Tetapi, bila standar itu hanya datang dari satu pihak, yakni pedagang-tengkulak, maka hal tersebut potensi bias kepentingan dagang. Pedagang mana yang tak ingin membeli semurah-murahnya, dan menjual setinggi-tingginya.

Dalih lain yang dimainkan pedagang untuk memerosotkan harga tembakau petani adalah melimpahnya tembakau di pabrik. Kabar tersebut seakan dihembuskan terus-menerus sehingga jadi semacam isu yang diyakini kebenarannya. Kabar membludaknya stok tembakau di pabrik bisa semakin dipoles ‘masuk akal’ dengan menyandingkannya dengan situasi pandemi.

Apakah kabar itu benar atau tidak? Itu soal lain. Tapi petani nampak dibuat khawatir dan dibawa ke dalam situasi yang cenderung membenarkan situasi tersebut. Sehingga merosotnya harga seakan jadi suatu kewajaran. Bila kabar itu cukup efektif menjangkau perhatian keyakinan publik petani, maka mereka dibawa untuk alternatif: menjual dengan harga murah atau tidak (dengan konsekuensi tidak laku)?

Dalih membludaknya stok tembakau pabrik di musim ini seharusnya tidak boleh dipercaya begitu saja. Kita perlu bertanya apa yang sekiranya menjadi faktor membludaknya stok tembakau di pabrik? Apakah ada kaitannya dengan pandemi? Berapa persentase penurunan angka perokok di masa pandemi?

Bila benar, ada penurunan angka perokok, kita juga bisa menyodorkan bukti menurunnya kuantitas petani yang menanam tembakau di masa ini. Kondisi pandemi yang berakibat pada ekonomi menjadi hambatan bagi petani. Sehingga dengan berkurangnya petani menanam tembakau, situasi ini harusnya memberikan daya tawar. Pabrik yang membutuhkan produk tembakau pasti juga berpikir bila tembakau petani langka, maka harganya mestinya lebih tinggi – atau setidaknya tidak merosot jauh.

Menghadapi Dalih Pedagang-Tengkulak

Memang posisi petani yang ‘inferior’, terdesak, dan diliputi suasana galau tidak mungkin bisa diajak berpikir kritis untuk melakukan ‘counter’ atas dalih-dalih kualitas tembakau dan dalih kuantitas stok di pabrik yang dimainkan oleh pedagang-tengkulak. Sebab itu, di sini pemerintah tetap harus mengambil peran sebagai pihak tengah sebagai regulator.

Pemerintah harus hadir untuk mencegah praktik-praktik pedagang yang memainkan dalih standar kualitas tembakau. Di sini, perlu kehadiran satu ‘tester’ yang objektif dan independen jika memang betul-betul diperlukan untuk menghadirkan komoditas tembakau yang berkelas. Pemerintah punya kepentingan untuk mengetahui sejujur-jujurnya tentang jenis tembakau di wilayah yang dipimpinnya.

Pertama, ini menyangkut hajat hidup petani. Kewajiban pemerintah memastikan kemakmuran warganya dengan cara memastikan bahwa komoditas penting yang datang dari petani memperoleh proteksi yang benar demi kemakmuran mereka. Kedua, ini juga bisa memberi citra yang positif bagi daerah tersebut. Bila daerah tersebut, sebutlah punya komoditas tembakau yang bernilai tinggi, maka itu bisa memberi nilai tambah citra positif dan juga pemasukan bagi daerah.

Selain itu, kehadirannya sebagai pihak penengah (pengatur), pemerintah juga bisa menetapkan patokan harga yang menguntungkan kedua belah pihak: pedagang dan petani. Pemerintah bisa menjadi win-win solution bagi masalah mereka. Dengan adanya patokan yang jelas perihal harga, dan memastikan hal itu dijalankan dengan benar, maka dimungkinkan kepastian dan stabilitas harga, dan seterusnya bisa menciptakan rantai ekosistem bisnis yang baik antara petani tembakau dan pengusaha rokok.

Jangan Biarkan Petani Tembakau Berjuang Sendiri

Di tengah situasi harga tembakau yang tak mendukung, kita masih mendengar optimisme mereka bahwa mereka selalu punya keyakinan kuat bahwa tembakau akan mengubah nasib mereka. Ada prinsip yang begitu kuat diyakini oleh mereka. Yakni sejauh masih ada orang yang merokok (perokok), maka sejauh itu pula tembakau dibutuhkan.

Prinsip tersebut nampak berlaku efektif bagi petani tembakau. Terbukti tiap musim tembakau, apapun kondisi cuacanya, apapun kabar yang beredar dari pedagang, pengusaha, pabrik atau pemerintah, sebagian petani tembakau tetap ‘keukeuh’ memilih menanam tembakau. Etos kerja yang besar ini mestinya direspon dengan baik oleh pemerintah dengan memberikan mereka perlindungan yang jelas. Produktifitas mereka menunjukkan gairah hidup masyarakatnya dan memberi nilai tambah bagi daerahnya.

Selain itu, perkumpulan atau asosiasi pertembakauan mesti berhimpun lebih solid dan bergerak lebih progresif dalam mengawal kepentingan petani tembakau. Asosiasi Petani Tembakau Indonesia (APTI) merupakan salah satunya. Setiap provinsi hingga tingkat kabupaten punya perwakilan khusus.

Sayangnya sementara ini kita bertanya-tanya, kemana mereka? Apa formulasi gerakan mereka dalam mengawal petani? Apa langkah kongkrit yang diperankan oleh APTI ini?

Kita berharap pertanyaan ini lekas dijawab dengan kerja kongkrit oleh APTI. Tentu saja kita berharap kepada serikat-serikat lain, dan perkumpulan-perkumpulan yang lebih punya akar yang kuat di masyarakat. Apapun caranya, harapan besar kita, jangan biarkan petani tembakau berjuang sendiri.


0Comments

Previous Post Next Post

ads