Penulis: Akhmad Kholil


Genderang perang dua pasangan kandidat Pilkada 2020 di Sumenep sudah ditabuh. Pasukan keduanya siap tempur. Strategi sudah matang. Peluru perang berupa slogan untuk saling serang-tangkis lawan sudah disiapkan. Sejak ditetapkannya nomor urut masing-masing pasangan kandidat, para pendukung keduanya sudah memulai perang urat syaraf.

Dunia media sosial tak perlu ditanyakan lagi. Nyaris setiap saat beranda Facebook dipenuhi riuh ramai postingan mereka. Kata-kata dukungan, meme-meme paslon, slogan-slogan, dan debat-debat dari yang sedikit elegan hingga yang level picisan.

Seni Menyanjung dan Menjungkirkan

Politik adalah seni saling sanjung-puji dan sindir-menyindir. Itulah yang terjadi di antara para pendukungnya masing-masing saat ini. Tujuannya jelas, untuk melegitimasi pihaknya sendiri sekaligus mendelegitimasi pihak lain. Sanjung puji dan sindir-menyindir bisa terlihat dalam beberapa hal.

Pertama, nomor urut paslon. Bagi masing-masing pendukung, nomor urut tak cukup memuaskan bila sekedar jadi tanda biasa saja. Bagi mereka, nomor urut mesti diberi pengertian atau tafsir atau sekedar kata-kata biasa demi menguatkan kandidat yang didukungnya dan menyindir lawannya. Tafsir yang mereka buat tentu saja tak perlu berpijak pada kebenaran (the truth) yang tak terbantahkan, tapi lebih kepada efektifitas pengaruh dari kata-kata yang mereka buat baik kepada pendukung dan lawannya.  

Tentu saja pada kenyataannya, perlakuan mereka atas nomor urut masing-masing paslon tak benar-benar punya pengaruh kuat untuk mendulang suara. Tapi bila tafsir-tafsir itu dimaksudkan untuk menggelitik belaka, menimbulkan ingatan yang kuat di benak orang-orang, merangsang tawa, dan keriuhan perbincangan orang-orang, siasat mereka berhasil.

Paslon nomor urut satu adalah pasangan Achma Fauzi dan Nyai Eva. Mereka membuat kalimat yang provokatif: “se e coblos settong, mon dua’ tak essa”. Secara provokatif, paslon ini menegaskan bahwa yang dicoblos itu mesti satu (paslon Fauzi-Eva), bukan dua (Fattah-Fikri). Sebab bila mencoblos dua, itu berarti tidak sah.

Pasangan nomor urut dua, Fattah Jasin dan Kiai Fikri tentu tak mau kalah. Maka paslon ini pun membuat kalimat yang tak kalah provokatif. “Carana mile: nomor settong bukka’, nomor due’ coblos”. (Cara memilih: nomor satu buka, nomor dua coblos). Kalimat ini juga punya pesan memenangkan dirinya, bahwa sebagai suatu urutan, nomor satu cukup dibuka saja. Nomor dua lah yang mesti dipilih.

Politisasi Warna Zona Covid-19

Sindir-menyindir yang lain adalah mengeksploitasi istilah yang berkaitan dengan pemetaan wilayah terkait pandemi Covid-19: zona merah dan hijau. Paslon Fauzi-Eva yang didukung PDIP dan Gerindera disebut zona merah. Lantaran kedua partai tersebut berwarna merah. Sementara Fattah-Fikri, yang didukung oleh partai dengan dominasi warnah hijau, PPP dan PKB, disebut zona hijau.

Di dalam istilah Covid-19, zona merah digunakan untuk menunjuk pada wilayah yang angka orang-orang tersuspek virus sangat tinggi. Zona merah berarti zona darurat Covid-19. Sebaliknya zona hijau adalah istilah yang digunakan untuk menunjukkan pada wilayah yang relatif lebih aman dari angka suspek Covid-19.

Itu sebabnya, berdasarkan kategori itu, sepintas kita akan melihat posisi paslon Fauzi-Eva, yang dijuluki zona merah, tersudutkan dengan permainan politisasi warna tersebut, dan sebaliknya paslon Fattah-Fikri lebih diuntungkan. Memang demikian, paslon zona merah jadi bahan sindiran yang ‘empuk’ oleh pihak pendukung Fattah-Fikri.  

Tetapi politik adalah seni serang-tangkis lawan. Dalam posisi disudutkan, pihak pendukung Fauzi-Eva tidak mati kreatifitas pembelaan. Ketika pasangan ini bertubi-tubi disindir dengan sebutan zona merah, zona darurat Covid-19, pasangan ini justru membuat pembelaan dengan menggunakan perumpamaan yang lain. Senjata pembelaannya adalah berupa kata-kata: Buah semangka hijau, tapi dalamnya merah”.

Variasi Respon Masyarakat

Tanggapan warga terhadap perang sindir-menyindir sangat variatif. Ada yang santai, bercanda, ada juga yang berusaha menjawab dengan sedikit lebih argumentatif hingga yang serius sekali. 

Bagi yang merespon santai, perang di media sosial hanya hiburan semata. Untuk menggelitik otak. Mereka tak begitu terlibat langsung dalam dunia perpolitikan. Pendukung ini biasanya hanya mengikuti apa yang dianggapnya paling baik di antara pilihan yang ada. Bisa juga karena belum memantapkan pilihannya. Sehingga tak perlu membela mati-matian.

Tanggapan yang argumentatif, biasanya datang dari mereka yang sudah menentukan pilihan. Mereka punya pengetahuan terhadap latar belakang, jejak politik, visi-misi, dan program yang diusung. Sehingga jika kemudian muncul argumentasi terkait dengan calon pilihannya, ia akan membelanya dengan penjelasan panjang lebar dan sedetail mungkin soal kandidat pemimpin yang dijagokannya.

Sedang pendukung yang serius dan fanatik, biasanya muncul dari kalangan orang-orang yang terlibat langsung dalam politik sebagai pendukung, selalu mengikuti perkembangan isu-isu dunia politik. Semangat keterlibatannya memang betul-betul bulat. Di antara mereka biasanya loyalis militan sang calon dan tim pemenangan.

Alasan lain yang dianggap penting adalah soal keterkaitan batin seperti halnya membela guru dan lain sebagainya. Sehingga tidak salah jika muncul kalimat yang menyinggung junjungannya, apalagi dianggapnya menjatuhkan kredibilitas sang calon, ia akan membelanya secara membabi buta.

Berharap Politik Santun

Hal yang mengkhawatirkan di dalam persinggungan politik adalah suburnya fanatisme dukungan. Situasi ini menjadi tidak sehat sebab mereka (para pendukungnya) berada di dalam suasana ‘cinta buta’ kepada junjungannya. Sudah cinta, ditambah buta lagi. Maka menjadi ‘sensitif’ sekali terhadap hal-hal yang bisa mendiskreditkan jagoannya.

Sialnya, situasi ini jadi arena gelap yang seringkali ditumpangi kepentingan elit. Kepentingan kekuasaan mengabaikan situasi ini. Strategi untuk meraup dukungan dan memperoleh kekuasaan secara ambisius mengakibatkan mereka buta pada situasi bahaya laten yang bisa muncul dalam suasana ketegangan dan keterbelahan politik. Bila suasana ini menuju pada satu titik ekstrem, korban pertama yang merasakan tentu saja masyarakat kelas bawah.

Tentu saja situasi ekstrem tersebut tidak kita harapkan. Sebab itu, semoga semua pihak menyadari untuk tetap menjaga situasi politik tetap santun, aman, dan damai. Meskipun politik adalah arena yang tak bisa lepas dari kuasa untuk saling sindir, saling serang-tangkis, tarik-menarik dukungan, dan kuasa rebutan lainnya, kita berharap situasi itu melaju di atas jalur yang masing-masing kita saling mampu mengendalikan diri dan situasi. 

Kontestasi ini tidak hanya melibatkan dukungan dari masyarakat dan elit politik, tapi juga melibatkan tokoh-tokoh dan para ulama. Kita berharap keterlibatan mereka bisa menjadi ‘rem’ kendali agar perseteruan politik tetap di jalur yang dibenarkan. Para kiai yang terlibat politik tentu saja adalah sosok guru yang barangkali dengan pemahaman keagamaan mereka jauh lebih terkendali untuk menjadi pengendali rem laju kompetisi. Sehingga kompetisi ini tetap dalam suasana yang santun.

Para ulama harus meyakinkan dan menyerukan kepada seluru elemen masyarakat dan juga masing-masing calon beserta tim pendukungnya, agar sama-sama berkomitmen menciptakan suasana kondusif selama jalannya pesta demokrasi.

Mengedepankan politik santun dan tata krama itu menunjukkan bahwa Sumenep adalah kota santri. Masyarakat yang bermartabat, religius dan menjunjung tingga rasa cinta dan kedamaian.

*Penulis anak petani asli Sumenep, lulusan UIN Syarif Hidayatullah Jakarta.


0Comments

Previous Post Next Post

ads