Penulis: Ben Yowes


ENTAH benar atau keliru, saya menyebut nama itu. Ra-ba-san. Tapi kira-kira itulah nama satu tempat yang bila di musim hujan, tempat itu terlihat seperti tanah lapang dengan di atasnya digelari rumput-rumput hijau yang tebal, dan di musim kemarau, warna rumput itu memudar dan mengering. Selain itu, Rabasan (Ra-ba-san) juga dipenuhi dengan pohon-pohon yang membuatnya teduh.

Tentu kalian yang pernah datang ke tempat itu, punya gambaran yang lebih detail. Saya – dengan usia dan ingatan yang terbatas – tak dapat menggambarkan lebih detail lagi. Tapi Rabasan, saya jamin di masa itu, merupakan tempat paling bikin santai.

Ini tentang saya merayakan hari santri dengan mengingat satu episode ingatan tentang Ra-ba-san yang letaknya tak jauh dari pondok pesantren dan merupakan tempat yang serba bisa. Disebut serba bisa, sebab santri macam saya yang datang ke sana bisa didorong oleh aneka macam motivasi.

Rabasan bisa jadi tempat untuk motivasi melepaskan penat, terutama sore menjelang maghrib. Mereka datang ke sana biasanya dihipnotis oleh udara terbuka yang mengalir pelan, yang membimbing dedaunan dan rerumputan untuk menari, menerpa tubuh-tubuh bau berkeringat para santri yang habis beraktifitas ringan hingga keras.

Rabasan bisa jadi tempat untuk motivasi mencari tambahan daun-daun segar untuk dimakan. Ingat, tak sembarang daun. Ini soal daun kelor yang biasa jadi bahan untuk makanan berkuah para santri. Aku punya kawan santri yang galaknya minta ampun. Tak ada yang lebih galak darinya. Bahkan ada desas-desus receh yang tak meyakinkan tapi cukup menyebar di kalangan santri bahwa tak ada yang bisa menandingi ekspresi paling galaknya.

Bayangkan, ekspresi paling galak sekalipun dari santri yang lain hanya sebanding dengan ekspresi senyumnya, ekspresi santainya. Bila ekspresi senyumnya saja sebanding dengan level paling galak santri yang lain, bayangkan seperti apa ekspresi saat dia benar-benar dalam kondisi galak.

Tapi kawan satu ini, punya kebiasaan bagus. Meskipun dia galak, tiap pagi atau kadang sore, dia selalu datang dari Rabasan – atau mungkin tempat lain – dengan daun-daun kelor segar untuk sayur. Jadi kegalakan dia tak jadi masalah sepanjang ia jadi mahluk yang datang dari Rabasan dengan daun kelor segar.

Rabasan bisa jadi tempat persinggahan sementara bagi mereka yang kebetulan didesak perutnya untuk menitipkan hajat (baca: tai atau ehem) –nya di suatu jamban raksasa di dekat tanah lapang Rabasan itu. Apa kabar Jamban raksasa kali ini? Masih adakah?

Namanya juga Jamban raksasa, bukan saja ‘ehem’ yang bisa masuk ke sana, tubuh kalian juga bisa nyemplung ke sana berenang bersama ‘ehem-ehem’ yang baunya minta ampun. Makanya, para santri yang buang ‘ehem’ di sana mesti ekstra hati-hati. Bila tergelincir sedikit, bisa ambyar. Harus mandi tujuh kali atau lebih, dengan sabun ekstra.

Tapi ini tidak mengurangi fakta segelintir santri yang masih bisa berakrobat dalam membuang ‘ehem’-nya di jamban raksasa itu. Di pinggir Jamban raksasa itu, ada pohon kecil tapi cukup kuat, dengan agak melengkung ke mulut jamban. Nah, sebagian santri dengan keberanian dan kegilaan akrobati , entah juga didorong oleh fantasi macam apa, memanjat pohon itu dan menembakkan ‘ehem’-nya dari pohon itu. Ini luar biasa berani. Bayangkan, bila terjadi petaka, pohon yang melengkung itu retak dan tubuhnya melayang dalam jamban raksasa itu, lagi-lagi harus dibersihkan berkali-kali.

Dan Rabasan juga bisa jadi tempat pelarian bagi sebagian santri yang menghindari tugas-tugas atau kewajiban. Semoga yang pernah terjebak pada kenakalan-kenakalan seperti segera menyadari dan bertobat. Saya juga sudah bertobat, tak ingin mengulangi.

Sekali lagi ini, tentang hari santri. Ini tentang saya merayakan potongan satu tempat khusus yang berkesan dan bersejarah. Kita doakan untuk kebaikan tempat itu dan si pemiliknya. Rabasan.

0Comments

Previous Post Next Post

ads