Penulis: Ben Yowes


Bila anda adalah seorang John. Jangan patah semangat. John adalah simbol sesungguhnya dari prinsip: banyak jalan menuju roma. Roma. Roma. Ro-ma.

Banyak jalan menuju roma (ini bukan nama klub sepak bola). Kisah ini seperti menegaskan ungkapan itu. Sebut saja namanya John (tentu nama ini terlalu bagus untuk orang yang saya ceritakan ini). Tak apalah, nama John cukup terkenal.

Si John ini sedang menghadapi ancaman D.O. Waktu yang diberikan oleh kampus untuk menoleransi kegagalan keterlambatan dia lulus hanya tiga bulan. Waktu yang cukup untuk ngopi menulis skripsi. Tapi sayangnya, John sejak kuliah tidak pernah terlatih menulis. Kuliah-kuliah hanya asal saja. John masuk kelas, mendengarkan materi, lalu sampe di kosan, lupa apa yang baru saja disampaikan di kelas. John anak yang cuek bebek.

Nah John baru sadar bahwa menulis itu penting saat mau lulus kuliah. John dituntut menulis skripsi. Di sini John kebingungan. Kadang John berpikir: kenapa keluar (lulus) dari kampus kok serasa susah? Kok lebih mudah pas mau masuk dulu? Kadang John frustrasi. John ingin bunuh diri. Tapi selalu gagal. John berpikir panjang: kalo dia bunuh diri, apa indahnya? John tak ingin mati konyol. John selalu ingin menuliskan profil perjalannya dengan kisah-kisah yang heroik. Bunuh diri jelas tak masuk dalam pikiran John.

Entah bagaimana suatu hari John bimbingan skripsi. Tiap minggu dia datang ke kampus menemui dosen pembimbingnya. John kelihatan sangat antusias sekali. Apakah dia mengalami perkembangan? Itu rahasia. John tak pernah terbuka pada siapapun. Kalau ditanya, dia cuma jawab: lagi proses skripsi.

Rupanya belakangan diketahui, John menulis skripsi. Tapi John sungguh sangat sabar menulis skripsinya. Tiap hari dia menyelesaikan satu halaman. Jelas dosen pembimbingnya khawatir. Maka, si dosen yang semula galak ini turut membantu mendorong John untuk cepat lulus. Tapi tunggu dulu. Sampai di sini, kenapa si dospem John ini menjadi baik hati sekali.

Di sinilah rahasia besar John. Rupanya John tiap kali datang untuk bimbingan, bertatap muka dosen pembimbing, John tak pernah secara serius membicarakan soal-soal skripsinya. Tak ada bimbingan skripsi. Yang John lakukan hanyalah memasang muka sedih di hadapan dospem. Muka paling sedih yang bisa ditunjukkan oleh John. Saking sedihnya, siapa pun yang melihat John tergerak hatinya untuk memberikan receh (tentu saja ini bercanda). Maksudnya, siapa pun yang melihat muka sedih John, tak tega untuk menghukum John dengan D.O.

Selain kemampuan si John untuk membuat mimik paling sedih, dramatis (mengalahkan drama korea), John juga pandai mengungkapkan cerita tentang dirinya. Tentang perjalanan hidupnya. Kesehariannya. Bahkan tentang berapa hari ia lupa tidak makan nasi (tapi makan gorengan). Ia pandai mengatakan semua itu seakan berasal dari hati. Tapi mungkin itu benar-benar berasal dari hati, soalnya saat mengatakan itu (menurut saksi mata yang hingga saat ini dirahasiakan), John menangis. Ada beberapa titik air mata yang jatuh dari matanya?

Suasana menimbulkan keharuan. Diskusi soal skripsi akhirnya membawa pada kisah-kisah sedih nan menyayat hati. Si dospem-nya John – yang rupanya ibu-ibu – tak dapat menyembunyikan perasaan keibuannya. Si John akhirnya tak jadi di-D.O. John mampu menyelesaikan skripsinya dengan baik (soal bagaimana skripsi John bisa selesai, sementara setiap bimbingan si John hanya memasang wajah sedih dan curhat, biarlah si John, dospem John, dan Tuhan yang tahu).

Akhirnya John mampu melewati hadangan sidang yang mengerikan. Di hadapan dosen penguji yang kritis, John mampu melewati situasi tegang dengan berani menunjukkan sikap diam ketika dikoreksi. Setiap kali, skripsi John dikritik dan dianggap dangkal, kurang pas, atau masalah-masalah lainnya, John hanya menunjukkan sikap diam dan berkali-kali minta maaf, dan sambil lalu terus bersedih.

“John, skripsimu apa-apaan ini? Ini sangat kurang pas. Analisismu kurang tepat, John….”, dan bla-bla kritik yang lain. Tapi John hanya menjawab: maaf. Berkali-kali.

Hari itu, John dinyatakan lulus - meskipun dengan tembakan peluru dosen penguji yang bikin John terlihat compang-camping. Nilai John sangat-sangat-sangat tidak waw. Tapi John sangat bersyukur. 

Saat ditanya, apa cita-citamu setelah ini, John?. John hanya menggeleng dan dengan rendah hati menjawab: cita-cita saya sudah selesai sejak dinyatakan lulus skripsi.

0Comments

Previous Post Next Post

ads