Saya baru saja membaca novel Dazai Osamu. Tipis. 153 halaman. Dibaca dua jam kelar (asal kau tak ngantuk dan pergi tidur). Judulnya: Gagal Menjadi Manusia.

Cerita diawali dari si penutur (narator) yang menggunakan sudut pandang orang pertama. Si penutur menyajikan tiga buah foto seorang lelaki, yang sebenarnya hanyalah satu orang yang sama. Hanya dibedakan usia: masa anak-anak (kira-kira umur 10 tahun), remaja (kira-kira duduk di bangku SMA), dan mulai tampak beruban (si narator menyebutnya ini foto paling gaib)..

Foto anak itu tersenyum. Tapi bagi si penutur, itu bukan senyum yang buruk. Ia tak percaya seorang manusia bisa tersenyum dengan tangan terkepal. Itu senyum seekor monyet, begitu kata si narator sangat yakin.

Si narator ini kurang ajar betul. Sudah bilang senyum si anak kayak monyet, dia juga bilang: muka anak itu menjijikkan, jelek, dan mengkerut. Ia juga sok-sokan bilang, kalo orang lain yang kemampuan daya tangkap estetiknya "jongkok" tak bakal bisa menangkap senyum "tak sejati" itu. Bayangkan kau yang baca, dan narator menuduh kau tak peka estetika dasar, hanya karena kau melihat anak itu tersenyum manis. Kurang ajar betul. 

Tapi baiklah. Mari kita tetap sabar (sabar itu disayang Tuhan). 

Dikutuk Manusia “Iya-Iya Saja” 

Jadi masalah utama si tokoh utama ini: ia mengalami kesulitan atau masalah di dalam dirinya. Apa yang dipikirkannya, diimajinasikannya, diyakininya, dirasakannya, berbeda sekali dengan orang-orang pada umumnya. Ia benar-benar tidak mengerti apa itu hidup menjadi manusia? 

Tapi, dan ini tambahan masalah lainnya, ia tipe orang yang --- yahhhh, membiarkan masalah kerumitan itu begitu adanya di dalam dirinya, dan ia menerima saja apa yang umum dipikirkan, dirasakan, diyakini orang lain. 

Misal, tokoh utama ini tak tahu apa itu sebenarnya lapar? Saat orang berbicara, kamu seharusnya lapar ya karena datang dari sekolah… kamu mau makan ini, itu, roti, nasi, bla-bla…, si tokoh utama ini hanya iya-iya saja. Biar pun ia tak tahu apa itu lapar, ia bilang saja ia lapar. Soal ini, si tokoh utama bilang begini:

“aku iya-iya saja, dengan mengedepankan watak khasku sebagai penjilat, bergumam bahwa aku memang lapar, lalu melahap sekitar sepuluh biji kedelai manis. Meski begitu, aku sama sekali tak paham apa itu lapar”.

Oh aku jadi tersindir. Seringkali aku iya-iya saja, seolah setuju atau mengerti pendapat seseorang, padahal sekedar untuk mengiyakan saja biar dia bahagia ---yahhhh kira-kira begitu mungkin sifat si tokoh utama. Makanya, si penerjemah dalam bahasa kita - Indonesia tercinta - menggunakan kata “PENJILAT”. 

Contoh yang lain. Si tokoh utama misalnya, demi sopan santun, selalu melahap makanan yang disajikan tuan rumah, meski terpaksa (aku jadi ingat diri sendiri, selalu memaksakan diri untuk makan banyak, meski sebenarnya suka “diet”). 

“Mungkin dapat disimpulkan bahwa aku sama sekali belum memahami mekanisme hidup manusia”, begitu pengakuan si tokoh utama. Aku jadi ingat kawanku yang tak paham mekanisme kenyang. Jadi, dia makan sepuas-puasnya, dan hanya bisa berhenti kalo ia merasa capai bukan kenyang (Ia tidak kenal konsep lapar/kenyang, tapi ia hanya tahu konsep capai atau tidak capai dalam makan).

Jadi banyak hal di dalam kehidupan manusia, hal-hal yang praktis, yang biasa dilakukan manusia, yang biasa dipikirkan, tata cara ngobrol, apa yang harus diobrolkan, apa yang lucu dan tidak lucu, dan hal-hal dasar lainnya, tokoh utama ini benar-benar bingung, tak paham. Dan bila ia memunculkan pertanyaan seputar itu, ya kedengarannya konyol. 

Jadi mungkin itu maksud dari judul novel ini: GAGAL MENJADI MANUSIA. (Ah, tapi kau di depan perempuan SUKA GAGAL MENJADI MANUSIA. Kau tak bisa memahami maksud: aku nggap apa-apa kok (diucapkan sambil mukanya mewek)


Bersembunyi dan Melawak

Dalam situasi itu, si tokoh utama tak mau membicarakan masalah kesulitan itu. Dia mengikuti saja konsep-konsep praktis dan umum yang ada di masyarakat. Kalo masyarakat bilang, lapar itu ya gini… cape ya gini… bla-bla. Ya memang begitu. Dia menyembunyikan kegagalannya dalam MENJADI MANUSIA dan segala mekanisme, nilai, norma, dan hal-hal praktis di kehidupan manusia.

Jangan-jangan si tokoh utama ini bukan manusia tapi menjelma tubuh manusia? Jangan-jangan… ah, itu tak ada di dalam cerita. Intinya, karena ia bingung dan tak mengerti dengan berbagai dunia manusia pada umumnya, makanya ia ikuti saja aturan main menjadi manusia. Biarpun ia tak paham, ia tak mau protes. Ia jadi manusia yang tak pernah membantah.

Biar pun ia dimarahi, ditegur, diprotes, diejek, dan lain-lainnya, ia tak protes. Malah ia merasa, mungkin yang orang lain tunjukkan kepadanya, itulah kebenarannya. Kalau dia ditegur dan dianggap salah, mungkin memang ia yang salah. Begitulah akhirnya ia menjalani hidup. Ia tak mengerti hidup manusia, tapi terpaksa harus ikut mekanismenya. Dan karena tak tahu jelasnya seperti apa mekanismenya, ya ikut arus saja hidup dan ikut aturan manusia tanpa protes.

Dan dalam hidup yang ia tak bisa pahami itu, tau-tau ia mendapatkan anugerah sebagai kemampuan natural melawak. Nah, apakah melawak baginya sebuah anugerah atau malapetaka?

Mari kita lanjutkan sambil nyemelen kasur tetangga. Jadi begini. Kalau anda membayangkan si tokoh utama ini punya ambisi jadi seorang komedian - mau jadi Radit, Dodit, Sule, Andre, dan komedian lainnya, kemampuan alamiah melawaknya bisa di-uang-kan. Bisa hidup mewah dengan melawak.

Tapi si tokoh utama ini tak punya pikiran ke sana. Bahkan ditanya tentang hidup mewah, miskin, menjadi sukses, berprestasi, hidup bahagia, dan susah...semua itu konsep-konsep yang ia sendiri bingung. Tau-tau jadi pandai melawak dan orang terpingkal-pingkal mendengarnya, itu sama sekali bukan soal dijadiin proyek melawak. Tidak seperti itu, guys. Lagi pula, dia itu tak kekurangan makan. Tak kekurangan duit. Jadi, kemampuannya melawak tak bisa didudukkan di depan mata kita yang doyan menjadikannya proyek yang bisa di-uang-kan. Tidak seperti itu.

Justru, melawak baginya bisa mengaburkan kesulitan dalam diri si tokoh. Ingat, kesulitannya bukan hilang ya, tapi tersembunyikan. Jadi, orang tak melihat si tokoh utama sebagai sosok yang kesulitan memahami hidup, sosok yang ganjil, tapi orang lain melihatnya sebagai sosok yang biasa, sama dengan mereka, dan kelebihannya pandai “melawak”.

Pada sisi lain, kemampuan melawak yang tiba-tiba itu, justru jadi malapetaka. Si tokoh utama setiap kali mendapat musibah besar, lalu ia merasa pedih dan sedih (kok bisa sedih juga ya), ia tak berhasil mengutarakannya secara serius. Bukan ia tak mampu mengatakannya secara benar, tapi justru ucapannya yang serius, yang sungguh-sungguh, selalu ditangkap secara berbeda oleh orang lain: dianggap lucu, dan penuh lawak.

Bayangkan anda sebagai tokoh utama, anda sedih sekali, dan anda minta tolong orang lain untuk mengerti (sudah pake ekspresi paling sedih yang bisa ditunjukkan), tapi kenyataannya orang lain malah tertawa. Sungguh-sungguh tertawa. Sebab yang muncul bagi mereka (orang-orang) yang mendengarkan curhatmu, melainkan sesuatu yang lucu. Lucu sekali. Apakah itu anugerah? Oh Tuhan. Siksaan macam apa ini.

Ya kira-kira begitu masalahnya, wahai sobat yang budiman.


Disukai Banyak Perempuan

Kesulitan yang lain: si tokoh utama ini begitu mudah membuat perempuan-perempuan jatuh hati (jatuh cinta) kepadanya dan mau menjadikannya sebagai kekasih atau sekedar ehem dalam kehidupannya. Lagi-lagi apakah ini anugerah?

Pembaca budiman yang sangat doyan “ehem” mungkin berpikir demikian: anugerah bangettttttt. Tapi bagi tokoh utama ini tidak (saya juga demikian). Meskipun kadang menikmati hal ini, tapi justru ia semakin lama semakin merasakan kegelisahan, dan kerumitan hidup, dan banyak masalah lainnya yang ia hadapi dalam hubungannya dengan perempuan.

Ia tak dapat menolak perempuan. Ia tak bisa protes, tak bisa membantah. Dan paling sering, ia jadi korban pemerkosaan perempuan. Itu sebabnya, si tokoh utama ini suatu hari berkata begini: “Aku ingin pergi ke tempat yang tak ada perempuan”.

Keluhan ini disampaikan dengan sepenuh-penuhnya kesedihan. Ia sungguh-sungguh. Tapi justru ini ditanggapi dengan tawa.

Karena permintaannya untuk dijauhkan dari perempuan, di akhir cerita ia dijauhkan dari perempuan ke suatu tempat dan dijaga oleh seorang perempuan buruk rupa. Tapi ia akhirnya diperkosa juga oleh perempuan itu. Sial

0Comments

Previous Post Next Post

ads