Penulis: Yuvelian Septidewi Tan


Salah satu akibat dari gap akses atas teknologi adalah gap kebudayaan, di mana cara berpikir kalangan yang menikmati teknologi mungkin bisa jauh berkembang lebih maju (maju dalam pengertian aksesnya atas informasi dan pengetahuan lebih besar) ketimbang mereka yang tidak punya akses atas teknologi.

Pancasila – yang membawa prinsip kesatuan dalam kemajemukan – telah menjadi anugerah semangat bagi bangsa Indonesia untuk terikat dalam suatu imajinasi kebangsaan yang kuat. Berbagai perbedaan suku, budaya, ras, agama, adat-istiadat yang merentang dari Sabang sampai Merauke melebur dalam satu ikatan persaudaraan. Perbedaan-perbedaan ini yang melahirkan bangsa Indonesia.

Sila pertama yang berisi “Ketuhanan yang Maha Esa” adalah penanda penting tentang pengakuan keberadaan keanekaragaman agama dan keyakinan di Indonesia. Di Indonesia, kurang lebih ada lima agama yang diakui di Indonesia. Belum lagi dengan sistem keyakinan-keyakinan yang lain yang idealnya dilestarikan sebagai wujud pengakuan atas kekayaan yang dimiliki bangsa Indonesia ini.

Fakta tentang keanekaragaman keyakinan agama ini – dan keanekaragaman lainnya – yang tak menjadi hambatan untuk kita terikat satu sama lain sebagai saudara membuktikan keluarbiasaan bangsa ini. Fakta ini juga menunjukkan bahwa Indonesia adalah negara yang unik, yang mampu menampung kemajemukan dalam kesatuan.

Era Revolusi Industri 4.0. dan Masalah-masalah yang Perlu Diantisipasi 

Tapi saat ini, kita di pintu gerbang memasuki era revolusi industri 4.0. Mungkin juga sebagian tubuh bangsa ini sudah masuk ke arena era digital ini. Apapun itu, yang pasti teknologi di era ini yang sangat pesat telah berpengaruh pada perkembangan bangsa ini. Dengan memasuki atau membuka diri terhadap era ini, sejatinya bangsa ini sedang bertaruh menuju masa depan melalui hadirnya generasi muda yang mampu menggunakan teknologi dengan benar. Tapi tentu ada suatu kekhawatiran, apakah dengan perkembangan ini, kebinekaan dan perdamaian bangsa ini bisa tetap bertahan?

Kekhawatiran ini beralasan. Perubahan demi perubahan sebagai akibat revolusi industri 4.0. begitu cepat, dan terlihat di mana-mana dan mengubah banyak hal. Teknologi maju tidak hanya mengubah sarana teknologi, kegiatan ekonomi, sosial-politik. Tapi kemajuan teknologi juga mengubah kebudayaan umat manusia. Sampai di sini, yang ditakutkan dari pesatnya kemajuan teknologi ini adalah mengikisnya semangat generasi muda dalam mengamalkan semangat luhur dari Pancasila. Generasi mudah menjadi kurang mengenali semangat Pancasila, pendidikan karakter, jati diri nasional, dan semangat kebinekaan bangsa ini. Akibat lebih jauhnya adalah potensi menipisnya ikatan persatuan bangsa Indonesia.

Tak sedikit kalangan muda pengguna teknologi yang tak mampu memanfaatkannya secara bijaksana. Mereka menghabiskan hari-harinya terbuang secara sia-sia dengan terus terjebak dengan teknologi yang memanjakan, lupa dengan banyak hal, lupa dengan kehidupan sosial, semakin jauh dari dunia realitas, terjebak pada dunia imajiner teknologi, dan lain-lain. Ada ungkapan: teknologi menjauhkan yang dekat, dan mendekatkan yang jauh. Ungkapan ini semakin relevan bila kita baca dalam konteks penggunaan teknologi di sebagian kalangan muda hari ini. Mereka peduli dengan obrolan dunia virtual yang diciptakan teknologi. Mereka aktif membangun pertemanan lewat dunia virtual itu. Tapi mereka makin jauh dari lingkungan sosial fisik yang ada di dekatnya. Teknologi seakan menarik kita dari dunia realitas fisik dan membawanya ke lingkungan virtual.

Petaka lain yang bisa muncul dari teknologi adalah tidak sedikit mesin canggih ini justru menjadi biang perpecahan. Ujaran kebencian, percekcokan melalui sosial media, propaganda, fitnah, dan lain-lainnya saat ini mudah sekali terjadi. Konflik-konflik SARA dan lainnya (yang akhirnya berskala besar) banyak bermula dari ketidakbijaksanaan dalam menggunakan sosial media. Sekali lagi, dampak buruk ini akibat kurang sikap hati-hati dan dewasa di dalam memanfaatkan teknologi.

Pemerataan Teknologi

Dalam kasus lain, perkembangan teknologi juga diiringi dengan gap antara kalangan yang memiliki akses menikmati teknologi dengan mereka yang tidak bisa menikmati. Ada ketidakmerataan dalam hal akses atas kehadiran teknologi. Teknologi lebih banyak dinikmati oleh kalangan atas. Sebaliknya, kalangan bawah kurang memperoleh akses atas teknologi. Salah satu akibatnya adalah gap kebudayaan, di mana cara berpikir kalangan yang menikmati teknologi mungkin bisa jauh berkembang lebih maju (maju dalam pengertian aksesnya atas informasi dan pengetahuan lebih besar) ketimbang mereka yang tidak punya akses atas teknologi.

Gap akses atas teknologi tidak hanya dirasakan secara personal tapi juga masyarakat secara luas. Masyarakat di daerah-daerah maju (kota/pusat) dilimpahi oleh fasilitas infrastruktur teknologi, apa-apa menggunakan teknologi, mau ini dan itu serba dimanjakan oleh teknologi. Sehingga banyak pekerjaan dapat diselesaikan dengan cepat dan mudah. Sedangkan daerah-daerah yang jauh dari pusat, masyarakatnya kurang menikmati fasilitas/infrastruktur teknologi. Semua aspek banyak yang akhirnya dikerjakan secara manual, dengan lamban (tidak efektif, tidak efisien).

Gap ini akhirnya juga berpengaruh pada tingkat kemajuan dalam berbagai aspek terutama aspek pendidikan dan ekonomi. Daerah yang berlimpah sarana teknologi tentu saja bisa lebih maju baik dari segi pendidikan maupun ekonomi. Sebaliknya, daerah yang tertinggal dari teknologi, bidang-bidang pendidian dan ekonomi menjadi kurang maju. Gap ini – bila tak diatasi – bisa memberi dampak negatif yakni menguatnya kecemburuan sosial, rasa kurang diperhatikan (dari kalangan masyarakat daerah pinggiran), dan kecemburuan atas fasilitas makmur dan maju yang dimiliki oleh daerah-daerah lain.

Memanfaatkan Teknologi dengan Baik

Ada ungkapan “a man behind the gun”. Teknologi demikian juga. Di tangan orang/masyarakat yang baik dalam menggunakan teknologi, maka keberadaannya bisa memberikan manfaat yang besar, manfaat bagi dirinya sendiri maupun untuk lingkungan sekitarnya. Kesadaran semacam itulah yang harus kita sadari sebagai warga masyarakat Indonesia dalam memasuki era digital atau era revolusi industri 4.0. Kita harus mengambil sebesar-besarnya aspek manfaat dari kemajuan teknologi ini sehingga dapat memberi kontribusi positif bagi kemajuan bangsa ini.

Teknologi juga hendaknya dapat dimanfaatkan oleh para pengambil kebijakan untuk bisa dimanfaatkan dalam menunjang pendidikan terutama pendidikan karakter yang berpijak pada semangat Pancasila. Terutama kalangan muda sebagai generasi masa depan, tentu saja mereka harus dekat dan tidak gagap dengan kemajuan teknologi. Pemerataan teknologi diperlukan sehingga semua generasi muda dapat merasakan dan menikmati akses terhadap keberlimpahan teknologi. 

Tapi yang tidak kalah penting, pemuda tetap harus menyadari bahwa pendidikan karakter adalah yang sangat penting, dan prioritas. Tentu yang kita harapkan di masa depan adalah generasi muda yang cerdas dalam menggunakan teknologi, dan tetap tidak kehilangan identitas dan jati dirinya sebagai bangsa Indonesia yang dilimpahi semangat menjunjung tinggi Pancasila.

0Comments

Previous Post Next Post

ads