Penulis: Deyna Mikaila Juba



Aku masih muda. Aku masih muda. Kerut di dahiku adalah pertanda seni aku suka berpikir bukan tanda aku sudah tua. 

Dulu pernah patah. Sudah kutulis sebagai riwayat. Kini riwayat lain mungkin akan kutulis lagi. Riwayat hati yang patah, mungkin, lagi. Aku tidak memikirkan seberapa banyak kertas dan tinta yang kubutuhkan. Tapi seberapa besar aku bisa meniti jalan licin yang bakal dipenuhi air mata. Ah, tapi tidak mungkin aku menangis. Bahkan dalam sendirian pun aku tak mungkin menangis. Aku pernah melewati itu tanpa menangis, tapi setengah gila aku melawannya.

Riwayat yang lain itu bermula dari sini: seseorang datang kepadaku. Menyapaku dari satu jarak yang tak bisa kuukur kecuali dengan permainan imajinasiku. Katakanlah, ada jarak. Membentang. Tapi itu hanya bentangan jarak fisik. Jarak seperti tak pernah penting dalam pikiranku. Aku bisa mendatanginya kapan pun aku mau. Tapi jarak yang lain, mungkin butuh waktu untuk bisa dipangkas. Pelan. Sedikit demi sedikit.

Sapaan itu seperti sebuah sambutan gerimis di saat kemarau hampir diyakini semua orang akan memilih umur panjang. Aku memang mengenalnya. Tapi aku tak pernah menyapanya. Sapaan dari orang yang tak pernah saling akrab harusnya hanya akan berjalan biasa dan penuh basa-basi tanpa arti. Hambar.

Aku tak suka hambar. Aku ingin suasana menjadi tawa. Maka kupilih kata-kata yang mengundang keakraban. Tapi aku sadar aku sudah lama tidak bermain-main kata dengan seorang perempuan. Maka pikiranku meraba-raba dengan keraguan: mungkin caraku menata kata-kata tak mampu menembus hasrat dia untuk tertawa? Mungkin caraku bercanda adalah cara bercanda generasi 80-an yang terdengar kering di telinga perempuan yang jauh lebih muda ini?

Kesadaran itu membuatku mengambil cermin. Aku memperagakan senyum berkali-kali, sambil mengatakan pada diri: aku masih muda. Aku masih muda. Aku masih muda. Kerut di dahiku adalah pertanda seni aku suka berpikir bukan tanda aku sudah tua. Aku menampik seluruh kekhawatiran itu. Aku membuka-buka kata-kata gaul, kalimat-kalimat yang aku pikir lebih up-to-date. Aku sadar kendala berbahasa, obrolan yang tidak nyambung, hanya akan berakhir sebagai obrolan yang menjemukan.

Aku tak peduli.

*

Tapi, bagaimana aku tak peduli? Kuurungkan ketakpedulian itu. Toh, itu baru kuungkapkan dalam hati. Tak ada orang melihatnya. Tak akan ada orang menjatuhkan hukuman kepadaku sebagai seorang yang tidak konsisten dengan kata-kata.

Baiklah, aku peduli.

Ia menyapaku lagi. Pagi ini. Aku tahu, ini pertanyaan-pertanyaan tidak penting. Kata-kata yang dulu pernah datang, dari orang yang lain. Dan kata-kata ini sudah kujatuhi hukuman sebagai kata-kata yang tidak perlu. Tidak penting.

Aku hanya akan menanggapinya sekedarnya saja.

Ia membalasku. Aku membalasnya. Seterusnya seperti itu.

Kata-kata saling berjumpa di layar handphone-ku. Mungkin di layar handphone dia, andai tak sedang di tangan kekasihnya. Mataku menatap layar itu. Mungkin matanya juga begitu, andai bukan mata kekasihnya. Aku membalas dengan, kadang, tergesa-gesa. Mungkin juga dia, andai yang balas bukan kekasihnya. Spontan, aku tersenyum-senyum sendiri. Mungkin juga dia. Mungkin senyumnya manis. Sudah pasti aku tak membayangkan senyum cowoknya, andai ia punya.

Semula, kata-kata hanyalah serangkaian kalimat komunikasi biasa. Balas-membalas di antara kita hanyalah serangkaian kalimat biasa.

Tapi setelah semua basa-basi biasa tersampaikan, mengapa kata-kata terus melintas dan ingin saling berjumpa? Mengapa ketika kita dipermainkan oleh godaan sinyal yang tak peka dengan kita, aku menjadi gelisah? Mungkin dia juga. Mungkin saja. Mengapa ketika balasanku tak kunjung diteruskan oleh aplikasi chatting-ku, aku menjadi menunggu. Sambil berharap kata-kata apa yang bakal melintas di layar handphone-ku.

*

Kurasakan: kata-kata mulai menjadi gila. Dari semula lurus-lurus saja, kini kata-kata mulai bersayap-sayap. Kata-kata itu tak penting, tapi aku tersenyum membacanya. Aku mulai terbawa diri untuk membalas dengan kata-kata yang tak penting dan aku tersenyum membalasnya.

Lalu lintas kata-kata itu, dari aku dan dia, berlangsung di layar handphone-ku. Tapi aku merasakannya menjadi semakin lain: kata-kata itu seperti datang dan singgah dari sesuatu yang dekat sekali denganku. Mula-mula kata-kata itu sebagai produk pikiran, permainan pikiran. Tapi lama-lama, kata-kata itu seolah berpindah. Kata-kata itu tak lagi melompat-lompat dari pikiran, tapi dari sesuatu yang aku rasakan getarannya.

Mengapa kata-kata balasan memiliki efek getaran?

Saat itu aku berusaha mengembalikan kedigdayaan pikiran. Aku mengingat kembali catatan-catatan yang sudah kusam dan kusimpan di laci lemariku.

Riwayat patah hati dimulai dari hati.

Kalimat itu seperti memberiku peringatan. Aku berdoa: Tuhan, bebaskan aku dari jerat perangkap permainan kata.

Tuhan belum membalas. Detik ini aku semakin khawatir kata-kata akan menyeretku pada penjara rasa.

0Comments

Previous Post Next Post

ads