Penulis: Abd. Rohim (Anak Gunung)

Pangrango adalah suatu keindahan. Gie – sosok aktifis yang begitu digandrungi anak muda, yang juga menyukai pendakian gunung – menuangkan dalam puisinya.

"Aku cinta padamu, Pangrango yang dingin dan sepi. Sungaimu adalah nyanyian keabadian tentang tiada. Hutanmu adalah misteri segala. Cintamu dan cintaku adalah kebisuan semesta".

Aku membayangkan: Gie menuliskan itu sembari tubuhnya dibelai oleh tangan-tangan alam Pangrango. Dimanja dengan desiran angin yang menyejukkan. dengan keindahan alamnya yang tak bikin dia bosan untuk melihatnya. Penggalan puisi itu seakan menggambarkan semua rasa itu. Gie begitu menikmati suasana di gunung itu.

Puisi itu terus hidup dalam lembaran buku catatan hariannya dan barangkali terus menebarkan sihir tentang Pangrango kepada para pembaca dan terutama pendaki-pendaki yang lain. Sehingga Pangrango semakin menjadi daya tarik yang setiap waktu tak pernah sepi dari manusia-manusia pendaki.

Gunung itu memang eksotis, menyenangkan, dan melenakan. Ada dua puncak di sana, yakni puncak Gede dengan ketinggian 2.958 di atas permukaan laut dan puncak Pangrango sendiri dengan ketinggian mencapai 3019 di atas permukaan laut.

Dua puncak ini berada dalam satu ruang lingkup taman nasional Gede Pangrango, yang memungkinkan para pendaki mengunjungi dua puncak sekaligus. Dua puncak tersebut lumayan dekat. Keduanya juga menawarkan keindahannya masing-masing.

Untuk mencapai puncak Gede, biasanya para pendaki melalui jalur putri untuk memulai pendakian dengan tujuan sampai pada tempat bermalam (camp) yaitu alun-alun Surya Kencana, begitulah sebutan para pendaki untuk padang rumput yang dipenuhi bunga edelweiss (anaphalis javanica) itu.

Sedangkan untuk mencapai puncak Pangrango, pendaki melalui jalur gerbang utama yaitu Cibodas. Jalur tersebut disebut sebagai jalur teraman dan terdekat kepada puncak. Para pendaki ditawarkan beberapa pos untuk beristirahat. Tetapi kebanyakan mereka memasang tenda dan bermalam di pos kandang Badak.

Bukan (Lagi) Pangrango-nya Gie

Salah satu gunung di Jawa Barat yang tertinggi kedua ini begitu dicintai oleh Gie. Puisi di atas adalah wujud kekaguman Gie tentang Mandalawangi Pangrango. Mungkin di zamannya, gunung Pangrango atau Gede masih belum banyak didatangi pendaki yang menapakkan kakinya di sana sehingga keindahan di sana masih sangat terjaga. Tapi bagaimana kini?

Sabtu, 04 Mei 2019, saya dan dua teman pendaki lainnya berangkat dari Jakarta menuju camp registrasi pendakian Gede Pangrango. Jam 12 malam, kami tiba di sana. Kebetulan kami mau menuju puncak menggunakan jalur putri. Dua puncak yang jadi tujuan pendakian kali ini jadi sepenggal permohonan doa keselamatan terhadap sang maha kuasa. Setelah istirahat, sekitar jam tujuh pagi kami bersiap-siap dan merapikan semua peralatan dan perlengkapan pendakian. Kami memulai pendakian dengan pendaki lainnya yang mayoritas dari Jakarta dan juga dari Bandung.

Hari itu, keadaan terlihat sangat berbeda dengan yang digambarkan Soe Hoek Gie. Di sepanjang jalan, menuju area Surya Kencana, suasana teramat ramai. Pangrango terlihat seperti pasar, tempat nongkrong, atau tempat keramaian lainnya. Belum lagi ada sebagian pendaki yang menggunakan sound aktif dengan volume keras sehingga mengganggu ketenangan suasana alam dan pendaki lainnya.

Selain itu, yang cukup menjengkelkan, sepanjang jalur pos bawah sampai Surya Kencana tak jarang kami melihat serpihan sampah plastik bekas dan kaleng bekas bahkan tumpukan sampah yang mengganggu kehijauan hutan di gunung itu.

Sekitar jam dua siang, kami tiba di alun-alun Surya Kencana. Kami memasang tenda untuk beristirahat, memasak, dan memulihkan tenaga untuk perjalanan esok hari menuju puncak. Jarak dari Surya Kencana ke Puncak Gede sekitar 3-4 jam. Di tempat itu, kami mengecek sumber air satu-satunya. Keadaaanya sangat miris. Sumber air untuk keperluan memasak dan minum itu kotor, dipenuhi sampah plastik dan sisa-sisa makanan dari pendaki yang tak bertanggung jawab.

Terpaksa kami harus menggunakan tali untuk mengambil air ke hulu sumber air demi mendapat air bersih. “Sumber airnya biasanya sangat bersih dan terjaga, tetapi saat ini sangat kotor”, begitu keluh salah satu kawan pendaki. Terakhir kali ia mendaki tahun 2017. Dan airnya tak seperti saat ini.

Kesesokan harinya, kami summit (berjalan menuju puncak) sekitar jam lima dan sesampainya di puncak keadaan yang sama terlihat oleh kami seperti keadaan sebelumnya: keramaian dan sampah mengotori pemandangan dan ketenangan gunung. Sehingga keadaan yang dibayangkan kami lewat gambaran puisi Gie amatlah berbeda.

Mungkin bila Gie datang lagi ke tempat ini, ia tak lagi menulis “aku cinta padamu Pangrango yang dingin dan sepi”. Mungkin ia akan menulisnya begini: “aku tetap cinta padamu Pangrango meski sudah ramai dan menepi”.

Setelah tidak begitu menikmati Puncak Gede, kami menuruni puncak dengan arah menuju puncak Kandang Badak, karena di situ pertigaan menuju puncak selanjutnya yaitu Pangrango. Di Kandang Badak, kami menemui suasana yang agak lumayan sepi. Tapi masalah sampah masih sama seperti Surken. Kami melanjutkan perjalanan menuju puncak Pangrango. Sekitar 4 jam, kami tiba di puncak Pangrango.

Di sana, kami bertemu dengan empat pendaki dari Lampung. Bersama-sama kami menuju Mandalawangi, tempat Gie merenungkan keadaan bangsa ini dahulu. Di Mandalawangi, kami disambut kabut yang lumayan tebal disertai gerimis yang cukup untuk sekedar membasahi tubuh yang dibalut jaket. Terpaksa kami harus menggunakan jas hujan. Mandalawangi sepi. Tak banyak sampah. Hamparan edelweiss membuat mata kami tertuju pada keindahan itu.

Sembari menunggu gerimis reda, kami saling bercerita dan mengeluhkan tempat-tempat yang tidak lagi bersih dari sampah: mulai dari alun-alun Surya Kencana, keadaan kandang badak yang cukup ramai dan banyak sampah dari pendaki.

Tak lama berselang hujan pun mulai reda dan kabut juga mulai menipis. Benar kata teman kami dari Lampung tadi, tak lama usai hujan reda, satu persatu pendaki pun mendatangi lembah mandalawangi. Teriakan dari pendaki yang baru datang mengusik pendengaran kami. “Tak lama lagi mandalawangi juga akan ramai”.

*

Banyak orang menamakan diri mereka pendaki tetapi tidak tahu atau tak menyadari hakikat pendakian yang semestinya. Keegoisan diri untuk menikmati alam dengan segelintir pengetahuan mengakibatkan hutan dan kesunyian menjadi korban. Bahkan tak jarang nyawa mereka melayang karena kecerobohan dirinya di hamparan kebebasan alam.

Mencintai alam bukan hanya menikmati keindahannya tetapi juga turut untuk menjaga tradisi yang ditanamkan para pendaki yakni membawa sampahnya kembali, menjaga ketentraman para pendaki lainnya. Ingat jargon pendaki: “bawa sampahmu, padamkan apimu dan hanyalah jejak yang berhak ditinggalkanmu”.  

Mungkin keindahan dan kesunyian puisi Gie tak seperti realitas Gede Pangrango sekarang dan tidak dapat ditemukan lagi di lembah Mandalawangi. Tetapi kami tetap cinta Gede Pangrango dan yakin masih banyak destinasi alam lain khususnya gunung yang persis digambarkan di puisi  Soe Hok Gie. Salam lestari. 

0Comments

Previous Post Next Post

ads