Penulis: Melky Molle (Dosen Universitas Halmahera, Maluku Utara).

Martin Luther menempelkan 95 nota protes di pintu gereja. Di situlah Kristen Protestan bermula.

Kristen Protestan tidak muncul dari ruang kosong. Ia lahir dari gerakan protes terhadap ajaran Katolik Roma. Dalang gerakan protes itu adalah Martin Luther.

Ia lahir di Eisleben, Saxony (sekarang Jerman), daerah kekuasaan Holy Roman Empire, pada 10 November 1483. Memang banyak pemikir besar yang lahir di antara abad ke-14 sampai ke-17—suatu periode yang dikenal dengan nama Renaisans. Kala itu, tak akan ada yang menduga Luther juga akan tercatat dalam sejarah sebagai salah satu pemikir besar bidang keagamaan.

Ayah Luther, Hans, tidak mau Luther ditahbiskan menjadi pastor. Ayahnya bertekad bahwa suatu saat Luther bisa menjadi pengacara. Kemudian setelah 3 tahun, Luther lanjut pendidikan ke Universitas Erfurt dan mendalami aritmatika, astronomi, geometri, dan filsafat. Karena itulah urusan keagamaan dan teologi semakin jauh dari Luther.

Cerita lama bahwa suatu ketika dalam kisah keterpanggilan Luther seperti di bulan Juli 1505, Luther terjebak di tengah badai besar yang hanya berjarak beberapa jam naik kuda dari Erfurt dan petir hampir menghantamnya.

Luther jatuh dari kudanya. Kuatir dan takut akan kematian mendera Luther yang berumur 21 tahun dan membuatnya bersumpah atas nama St. Anne, ibu dari Bunda Maria, bahwa dirinya akan menjadi rahib jika nyawanya selamat.

Momen inilah yang membuat Luther menempuh jalan asketisme. Dia masuk ke biara St. Augustine di Wittenberg dan menggumuli teologi meski sudah selesai dari sekolah hukum. Saat itu tak ada satu orang pun yang membayangkan Luther akan menjadi salah satu mimpi terburuk Katolik Roma.

95 Nota Protes

Pada 1512, tiga tahun setelah Luther mengajar di Universitas Wittenberg, Paus Leo X menjalankan praktik indulgensi yang baru di mana pengampunan dosa bisa didapat oleh siapa pun dan kapan pun. Syaratnya hanya dua: mau dan punya uang.

Paus Leo memang sedang menggalang dana untuk rekonstruksi Basilika Santo Petrus di Roma. Salah satu yang sangat mendukung langkah ini adalah biarawan Johann Tetzel dari Ordo Dominikan.

Jangankan kepada yang masih bernapas, Tetzel meyakini indulgensi bisa diberikan kepada mereka yang sudah wafat, asalkan dengan bayaran uang.

Renaisans membuka pengetahuan dalam skala yang lebih luas. Efek yang bersamaan timbul adalah aktivitas pelayaran dan perdagangan antar samudra menjadi lebih sering dilakukan daripada abad-abad sebelumnya.

Di era ini juga memunculkan intelektual seperti Luther yang menentang tindakan gereja yang dianggap tidak masuk akal. Luther yang geram terhadap pemahaman indulgensi gereja kemudian melakukan tindakan nekat. Baginya, indulgensi macam itu justru bertentangan dengan doktrin bahwa pengampunan datang dari iman dan karunia ilahi. Luther membawa palu kemudian mengayunkannya keras-keras ke paku di pintu gereja Wittenberg pada 31 Oktober 1517.

Protes Martin Luther adalah sikap gelisah terhadap praktik ritual penghapusan dosa yang dibaluti kepentingan sesaat untuk menuntaskan proyek Paus saat itu.

Bahwa sesungguhnya keselamatan manusia itu terjadi bukan karena besaran uang yang diberikan ke gereja, tetapi oleh karena anugerah Allah sendiri yang berlaku bagi manusia, sebab kasih dan kemurahan-Nyalah, anugerah keselamatan Allah memperlengkapi manusia supaya selamat lahir batin.

Dari Martin Luther, kita belajar bahwa otoritas keselamatan Allah tidak dapat diatur oleh manusia,. Manusia tidak bisa merampas otoritas dan kemahakuasaan Allah, walaupun pada kenyataannya, manusia sering menggunakan kecerdasannya sendiri untuk membawa nama Allah demi kepentingan dirinya dan kelompok orang tertentu.

Hari reformasi Martin Luther kelima abad yang lalu memberi informasi dan refleksi soal keberpihakan gereja di saat itu. Bahwa gereja harus selalu siuman terhadap perilaku elit kekuasaan gereja maupun kekuasaan negara yang bersifat memaksa.

Dari reformasi Gereja, lewat protes Martin Luther kala itu, mengajarkan kita, betapa bahayanya kompromi kekuasaan gereja dan negara untuk kepentingan manipulasi supaya hasrat keuntungan elit tercapai.

Karena itu, sejarah seperti ini seharusnya menginspirasi kita supaya kita belajar, bahwa gereja adalah sumber hikmat Allah untuk memperlengkapi hamba-Nya dan umat-Nya untuk menggugat kesewenangan, kompromi sesat, dan manipulasi keuntungan elit. Semangat Hari Reformasi: "Hanya karena anugerah Allah kita diselamatkan".

Selamat Memperingati hari Reformasi yang kelima abad.

0Comments

Previous Post Next Post

ads