Penulis: Ali yapi

Wajah buruk globalisasi terlihat dari caranya ia hadir yang membawa secara perlahan berbagai pengaruh luar yang dibungkus dengan berbagai jubah “tren”, kemajuan, gengsi ala barat, dan pernak-pernik mode lainnya.

Globalisasi bermata dua. Di satu sisi positif. Ia sebagai arus zaman yang membuka pintu gerbang masuknya berbagai paham pemikiran, mendekatkan kita dengan berbagai bangsa dari belahan dunia lain, menyajikan kemudahan akses atas berbagai macam informasi informasi, dan berbagai keuntungan yang tidak bisa dibayangkan oleh orang-orang di masa dulu.

Tapi, tak bisa dipungkiri, pada sisi yang lain, globalisasi juga membawa dampak buruk. Krisis di berbagai sector – ekonomi, pangan, energi, lingkungan, dan sector lainnya – tak bisa dibaca terlepas dari dampak buruk globalisasi. Sebab itu, sebuah himbauan bijak selalu bilang: “ambil baiknya (dari apapun itu, termasuk globalisasi), dan buang buruknya”. Tapi dalam kenyataannya, kita tak benar-benar mampu menjalankan petuah bijak itu. Bahkan kita bertanya-tanya seperti sosok peragu: bagaimana jika ternyata yang buruk ini (dari globalisasi) secara perlahan justru mengikis berbagai aspek sosial di masyarakat dan pada akhirnya memicu krisis-krisis yang lain?

Tanpa bermaksud mendiskreditkan dampak positif dari globalisasi, tapi kita merasakan salah satu dampak buruk yang diakibatkan oleh globalisasi juga telah menerobos ke dalam nilai-nilai atau norma kehidupan kita, yakni krisis ahlak/moral. Mungkin sedikit dari kita yang “ngeuh” atas krisis nilai-nilai rohani ini. Barangkali disebabkan proses krisisnya terjadi secara perlahan. Boleh jadi memang kita mulai hilang kepekaan untuk merasakan lemahnya gejolak dahaga rohani. Tapi kita – andai mau sedikit memperhatikan dengan mata dan perasaan – dapat melihat sendiri betapa gejala krisis moral saat ini sudah terjadi begitu telanjang. Di mana-mana ada banyak perilaku yang menunjukkan krisis moralitas seperti pergaulan bebas, maraknya penggunaan narkoba, pembunuhan, dan berbagai macam gejala krisis moral lainnya.

Globalisasi dan Dekadensi Moralitas

Wajah buruk globalisasi terlihat dari caranya ia hadir yang membawa secara perlahan berbagai pengaruh luar yang dibungkus dengan berbagai jubah “tren”, kemajuan, gengsi ala barat, dan pernak-pernik mode lainnya. Tidak semuanya buruk. Tapi, tak sedikit yang akhirnya mode atau gaya hidup baru ala luar yang tak cocok dengan budaya kita perlahan memaksa kita menjadi orang lain, menjadi tercerabut dari akar identitas dan pola hidup kita yang semula diterangi oleh nilai-nilai moralitas (ahlak) ketimuran kita.

Globalisasi – dalam konteks ini – membawa semacam imperialisme kultural. Ini jauh lebih berbahaya daripada imperialisme dalam wujud fisik. Imperialisme kultural bergerak dalam wujud yang sangat halus dalam wujud tren, nilai-nilai baru, produk fashion, dan lainnya. Karakteristik dari imperialisme kultural ini sejatinya memaksa kita – yang sejatinya berbeda, memiliki kebudayaan timur – untuk perlahan mengikuti gaya hidup atau tren/fashion produk dari barat. Wujud pemaksaannya tak selalu kentara. Sebab ia bergerak dalam arena kultural, melalui proses hegemoni secara kultural. Dalam wujud permukaan ini, yang terasa adalah gaya hidup barat terlihat lebih keren, lebih modern, lebih maju, dan daya-daya kecoh lainnya. Sebaliknya, gaya hidup lama – terutama yang sudah ada – dipandang sebagai tertinggal, kuno, dan macam-macam label peremehan lainnya.

Tak berhenti di situ. Globalisasi – dengan dampak buruk imperialisme kulturalnya – telah menerobos lebih jauh ke dalam pertahanan jiwa masyarakat, mendobrak elemen-elemen moralitas sebagai pijakan/pedoman hidup. Di sini, kita menyaksikan moralitas dirongrong dan yang terjadi adalah gejala krisis moral atau mundurnya moralitas. Maka bila ditanya di mana proses globalisasi menjungkirkan nilai-nilai atau norma moralitas kita, maka persisnya proses tadi itulah yang menandakan Riwayat kematian moralitas kita.

Refleksi (Lagi) tentang Ahlak

Perlu pemahaman yang komprehensif terhadap ahlak. Ahlak (dalam ejaan Arab, akhlak) adalah dasar pijakan manusia hidup di bumi. Ahlak mengatur seluruh tindakan kita. Sebab itu, apapun yang dilakukan oleh setiap umat manusia, sejatinya tak bisa dilepaskan dari ahlak. Di Indonesia, kita punya banyak kosa kata untuk menggantikan kata ahlak. Kadang kita menyebutnya moral, atau budi pekerti yang luhur.

Sebagai masyarakat Indonesia, sejak dini kita diajarkan tentang penting budi pekerti luhur atau budi luhur. Dalam kacamata kita, lembaga-lembaga pendidikan diciptakan dengan tujuan utama untuk mendidik budi luhur ini. Bila ada tujuan-tujuan yang lain dari pendidikan, seperti untuk kecerdasan (berhitung, membaca, dan kecerdasan lainnya), itu adalah tujuan-tujuan deretan nomor ke sekian setelah pendidikan ahlak. Sebab itu, keberhasilan dari dunia pendidikan pertama-tama diukur dari sejauhmana mampu berperan dalam membentuk manusia berbudi luhur (ahlakul karimah).

Secara umum, pendidikan bertujuan memberikan pemahaman tentang nilai-nilai ketuhanan, menjelaskan bahwa setiap pribadi merupakan manusia di antara makhluk Tuhannya yang punya tanggung jawab terhadap perjalanan hidupnya, mempertegas peran manusia sebagai mahluk sosial yang bertanggungjawab atas hubungan kehidupan pribadinya dengan masyarakat, memberikan kesadaran bahwa manusia punya koneksi yang tidak bisa dilepaskan dengan alam, dan muaranya adalah berahlak.

Sebab itu, tugas dunia pendidikan saat ini adalah Kembali menggelorakan semangat pendidikan berahlak. Saat ini pemerintah memang sedang mengadakan program pendidikan berkarakter (pendidikan yang menjunjug nilai-nilai ahlak). Tentu ini harus kita dukung. Sebab tanpa pendidikan yang didasari ahlak, kita hanya akan jadi korban ganasnya arus globalisasi yang melunturkan nilai-nilai pijakan kita (dan kita bisa hidup dalam terombang-ambing sebab tiadanya pijakan moral yang kuat. Dampak buruk yang lebih mengerikan, tentu saja adalah lahirnya generasi yang tanpa moral. Apa yang bisa kita harapkan dari generasi tanpa pijakan moralitas (ahlak) yang kuat?

Pesantren, Pendidikan Berkarakter, dan Masyarakat

Tentu saja kita tak boleh putus pengharapan. Pendidikan yang menjunjung semangat ahlak tak sepenuhnya hilang dari muka bumi ini, terlebih dari bumi Indonesia. Pertama, kita punya pesantren. Sejak dulu, pesantren dikenal mengedepankan Pendidikan ahlak. Kitab-kitab klasik (dari para ulama terdahulu yang tidak hanya alim tapi sangat religious) masih menjadi pedoman yang dibaca dan dikaji tiap hari di pesantren. Pengajarannya begitu berhasil. Ditunjukkan dengan kemampuan para santri untuk membumikan pengetahuan moral itu kedalam sikap, dan tindakan keseharian. Sebagai contoh, para santri begitu ‘ta’dzim’ kepada para guru.

Dunia Pendidikan modern juga perlahan menyadari pentingnya pendidikan moral. Sehingga lambat laun kita melihat upaya dari pendidikan modern yang membawa semangat pendidikan berkarakter. Pola yang diterapkan dekat dengan apa yang diterapkan di pesantren. Pendidikan berkarakter menekankan pada bagaimana melahirkan manusia-manusia yang punya budi pekerti yang luhur.

Selain dunia pendidikan pesantren dan pendidikan modern, masyarakat juga merupakan salah satu penjaga moralitas. Lingkungan masyarakat juga punya peran penting dalam pembentukan moralitas manusia. Unit sosial terkecil yang sangat diharapkan sebagai medium pendidikan moral, tentu saja adalah keluarga. Sebab itu, kita semua harus menyadari peran penting keluarga dalam memupuk moralitas.

Harapan kita adalah pesantren, pendidikan modern, dan keluarga dapat saling bersinergi untuk memperkuat tujuan utama pendidikan yakni terbentuknya manusia-manusia yang punya ahlak. Kolaborasi dari ketiga pilar ini dapat secara efektif menjaga kehidupan kita dari ancaman krisis moral akibat globalisasi dan ancaman-ancaman lainnya.

Mari kita bersama sama, saling bahu membahu untuk menyongsong perkembangan zaman yang penuh tantangan ini, dengan senantiasa menjunjung tinggi budi pekerti luhur. Saling mengingatkan dalam kebaikan agar kehidupan penuh dengan ketentraman dan kedamaian. Membumikan ahlak bukan berarti menguburnya di dalam tanah layaknya orang yang meninggal, tetapi membumikan ahlak adalah bagaimana menjadikan ahlak tertanam dalam setiap tindakan yang kita perbuat.


0Comments

Previous Post Next Post

ads