Penulis: Ainul Yaqin

 


Ibunya terdiam. Bukan apa-apa ya, si ibu seperti orang ketakutan. Ia lagi-lagi melihat sosok lelaki di belakang anaknya (melalui video call). Tapi si ibu tidak berani bilang. Situasinya, di samping dicekam rasa takut, ibunya juga khawatir bila harus mengatakan secara jujur apa yang dia lihat.

Ini adalah kisah nyata. Belum lama terjadi. Aku mendengar kisah ini dari kekasihku. Dia mendengar kisah ini dari temennya yang tinggal sendirian di kosan pada malam Jum’at. Temennya ini yang sesungguhnya berada di lokasi kisah yang akan aku ceritakan ini. Tapi dia justru mendengar peristiwa itu dari ibunya. Jadi, perempuan (kawan kekasihku) ini tidak sadar (atau tepatnya tidak tahu) bahwa ada peristiwa ini. Justru ibunya yang berada jauh dari lokasi, tepatnya ada di kampung, yang akhirnya memberi tahu kisah ini.

Bagaimana kronologi cerita ini? Ini kisah horor. Bung, kalau tak siap dengan misteri-misteri di malam Jum’at, tak usah baca cerita ini. Nah, saya menerima cerita ini dari kekasih yang saya cintai, dan sebab itu saya mempercayainya. Begini.

Suatu malam, saat suasana sudah mulai sepi, tepatnya malam Jum’at (Kamis Malam), aku duduk di beranda kontrakan (yang jadi beskem, atau kantor). Aku tak sendirian. Tapi andai aku sendirian, di malam Jum’at, di kantor yang sepi – sebab para penghuni kantor ini sudah pada pulang semua, mungkin aku juga akan “say good bye” pada kontrakan ini.

Waktu itu, sekitar jam sepuluh atau sebelas. Pokoknya suasana sudah sepi. Maklum wilayah kompleks elit. Tiba-tiba ada notifikasi pesan WA dari kekasihku. Dia menceritakan kisah yang dia dengar dari temannya, dan temannya dengar dari ibunya. Dan sampailah cerita itu pada diriku. Apa isi ceritanya?

Teman satu kosan kekasihku itu tinggal sendirian. Sepi. Sebab di masa pandemi, kuliah dilaksanakan secara online. Jadi, banyak yang pada pulang. Kuliah dari rumah masing-masing. Study from home. Nah, teman kekasihku – yang tinggal sendirian saja di kosan – tiba-tiba ditelpon oleh ibunya. Dari kampung. Ini bukan telponan sekedar jumpa suara ya, tapi jumpa muka juga. Tepatnya menggunakan fasilitas Video Call WA.

“Nak, kamu di kosannya sama siapa?”, tanya si ibu.

“Saya lagi sendirian, bu. Teman kosanku lagi pulang”, jawab anaknya (teman kekasihku itu).

“Loh, kalau kamu lagi sendirian, itu siapa cowok yang berada di belakangmu, Nak?”. 

Biar agak dramatis, kita hentikan sejenak di sini. Bayangkan, apa yang ada di benak sang anak perempuan itu, yang tinggal di kosan sendirian, benar-benar sendirian, tapi si ibu malah nanya aneh-aneh tentang siapa cowo yang ada di belakangnya.

“Tidak ada siapa-siapa bu, aku sendirian”, jawab sang anak.

Si ibu yang melihat sosok lelaki tak dapat menahan diri. Ia jadi gemetaran. Lalu, entah sengaja atau tidak, si ibu menutup telpon. Tapi tak lama, beberapa menit kemudian, si Ibu telpon lagi. Jelas, si anak penasaran (pake) banget. Apa-apaan ini ibu main matiin telpon segala?

“Kenapa dimatikan telfonnya, bu?”

Ibunya terdiam. Bukan apa-apa ya, si ibu seperti orang ketakutan. Ia lagi-lagi melihat sosok lelaki di belakang anaknya (melalui video call). Tapi si ibu tidak berani bilang. Situasinya, di samping dicekam rasa takut, ibunya juga khawatir bila harus mengatakan secara jujur apa yang dia lihat. Yang si ibu lihat sekarang lebih aneh lagi. Sosok lelaki itu kini bisa merayap-rayap (mungkin seperti cicak) di dinding. Cicak-cicak di dinding…(eh malah nyanyi). Lelaki itu benar-benar merayap. Di kamar tengah. Di kamar tidur si anak perempuannya. Sosok manusia cicak eh manusia perayap itu benar-benar jelas di mata sang ibu. Dia melihatnya dari layar ponsel yang sedang aktif video call dengan sang anak.

Apakah sang ibu segera berterus terang? Treng..treng..treng…! Tidak semudah itu, Ferguso. Sang ibu harus berputar-putar untuk mencari kalimat yang tepat bagaimana cara berterus-terang kepada sang anak. Sang ibu tak segera berterus-terang. Mula-mula, sang ibu meminta anaknya istighfar, sholat, dan ibadah lainnya kepada Allah SWT.

Ibunya hanya bilang, sedang ada yang tidak beres di kosan itu. Perbanyaklah ibadah. Lalu sarannya, sebaiknya si anak pindah dari kosan itu. Anak perempuan itu menuruti saran ibunya. Lalu ia pergi membiarkan kosan itu sepi. Dalam bahasa si ibu, kosan itu rupanya ada penunggunya. Sosok yang bisa merayap-rayap di dinding. Bukan cicak, tapi manusia. Entahlah manusia semacam apa yang dilihat oleh sang ibu. Pokoknya. Sejak itu, anak perempuan itu tak mau lagi tinggal di kosan itu.

0Comments

Previous Post Next Post

ads