Penulis: Ali Yapi


Masyarakat sebetulnya hanya jadi korban dari ganasnya percaturan perebutan kekuasaan, mereka diperalat sebagai media untuk meng-goal­-kan nafsu berkuasa.

Masalah-masalah di negeri terus bermunculan. Dari soal bangsa, negara, agama, politik dan sederet masalah sosial lainnya yang mendera negeri tercinta ini: Indonesia.

Mari kira runut satu persatu persoalan yang disebutkan tadi. Pertama, masalah bangsa. Penulis kerucutkan ke masalah pemilu 2019. Kita buka kembali catatan perjalanan bangsa satu tahun ke belakang, di mana momentum tahun 2019 terjadi gelaran demokrasi ditandai dengan pemilihan umum khususnya pemilihan presiden.

Pemilihan presiden bikin keadaan bangsa gonjang-ganjing sana-sini, bangsa ini dibuat bingung. Satu di kubu A. Satu lagi di kubu B. Tiap kubu saling serang karena merasa jagoannya paling handal mengurusi negara. Banyak kejadian begitu menguras energi. Berbagai isu “digoreng”, dipelintir, menjadi sebuah komoditas untuk mengadu domba bangsa. Akibatnya: kondusifitas kehidupan berbangsa terancam.

Masyarakat sebetulnya hanya jadi korban dari ganasnya percaturan perebutan kekuasaan, mereka diperalat sebagai media untuk meng-goal­-kan nafsu berkuasa.

Kedua soal negara. Saat ini, Indonesia kekurangan sosok negarawan. Seorang negarawan adalah sosok yang berdiri di atas kepentingan umum, sikapnya bijak, tegas serta relatif terbebas dari kepentingan politik jangka pendek. Negarawan diperlukan sebagai figur yang dalam istilah sunda dikenal dengan “kokolot” yaitu sosok yang diharapkan mampu memberi solusi terhadap berbagai tantangan bernegara.

Figur negarawan sebagai tokoh panutan sering dijadikan “pamuntangan” dalam berbagai hal, keberadaannya diharapkan bisa memberikan keteduhan melalui pembangunan rekonsiliasi dengan berbagai elemen negara. Negara tanpa negarawan adalah keniscayaan.

Ketiga, masalah agama dan politik. Kondisi politik saat ini memberikan dampak terhadap agama dan terkhusus umat beragama islam. Ujian seiring berjalannya waktu dirasa terus mendera. Agama dan umat islam diserang dan diadu domba. Keadaan ini sudah pasti disadari oleh banyak kalangan, tetapi kenapa saling hujat di kalangan umat tetap terus terjadi?

Ada orang yang merasa paling benar, dan menganggap orang lain sebagai kafir, bid’ah dan segala cacian lainnya. Politik menjadikan agama sebagai kendaraan. Politik menjadikan agama sebagai komoditas.

*

Pelajaran pertama yang kita dapatkan dari keadaan ini yaitu adanya nilai-nilai tauhid. Kita dituntut kembali kepada hakikat bahwa segala sesuatu yang terjadi di dunia ini tak lepas dari kehendak Allah SWT. Semuanya telah terskenario dengan baik, dan ini wajib kita yakini.

Kedua kita dididik untuk bisa mengatasi masalah, sebagaimana kita ketahui bahwa masalah akan mendidik kita menjadi lebih dewasa. Ini sangat menarik karena dengan kita beripikir bahwa masalah adalah bagian dari pendidikan, ini mengajarkan untuk senantiasa berprasangka baik. 

Ketiga bahwa persoalan ini menuntut kita untuk selalu belajar serta mampu mengambil hikmah.

Selain itu, kita juga harus mengambil beberapa sikap penting sebagai pijakan menjalani hidup ke depan. Pertama, kita harus senantiasa berada di garis tengah (wasath) atau dikenal dengan istilah moderat. Yakni sikap menjunjung tinggi keseimbangan yang mengajarkan kita untuk tidak memihak ke satu pihak. Ini juga diyakini mampu mengantarkan manusia bersikap adil.

Kedua, dalam menyikapi setiap persoalan kita harus bisa saling menghargai sesama. Sikap ini menitikberatkan kepada cara pandang kita pada sesuatu supaya tidak merasa diri paling benar dan mudah menyalahkan orang lain, maupun sebaliknya.

Pada akhirnya, apapun keadaan yang terjadi harus disikapi dengan bijak. Kebingungan yang lahir atas keadaan ini mendidik kita untuk mempunyai pendirian yang tak memihak ke satu sisi berdiri di tengah tengah. Perbedaan yang terjadi harus dilihat sebagai anugerah bukan alasan untuk terpecah belah.

 

 

 

 

0Comments

Previous Post Next Post

ads