Penulis : Melky Mole

Pada momen 2020 ini saatnya kekuasaan dikembalikan ke tangan rakyat. Tentu rakyatlah yang memiliki kuasa untuk menentukan siapa yang layak menjalankan roda pemerintahan selanjutnya, maka gagasan dan strategi, isu politik yang bernada pesimis, isu politik yang bernuansa romantisme, yang sama pada isu-isu politik pilkada sebelumnya terdengar dimana-mana dengan tujuan supaya menarik simpati rakyat dalam momen pilkada 2020. Ketegasan menyampaikan janji, memenuhi harapan-harapan rakyat, dimana perbaikan ekonomi, kesehatan, pendidikan menjadi komoditi isu dengan ramuan-ramuan tertentu bahkan sampai pada pertarungan media menjadi menarik yang terjadi di beberapa bulan belakangan ini pada perhelatan Pilkada Halut.

Perebutan kekuasaan dengan mengakomodir kekuatan massa dan sosial media , menjadi menarik bahkan segala isu dipublikasikan saling menjatuhkan antar tim sukses kandidat menjadi senjata bahkan sampai pada penghinaan dan cibiran pada kedua belah pihak. Terlihat bahwa sikap politik seperti ini sudah dianggap biasa, jika momen politik dilaksanakan (Pilkada). Para Macsiavelli menebar kebohongan terlihat marak terjadi di sosial media, segala kekuatan yang bersifat komunal diakomodir untuk menegaskan loyalitas kepada kandidat yang usung. Tentu ini menjadi bumbu politik yang tidak mengenakan, atau bahkan dikalangan lain enak jika yang dilakukan ialah menambah keuntungan pada pihak cawabup dan cabup mereka.

Ini terjadi tanpa ada filter atau penyaring isu yang kuat dikalangan masyarakat, sehingga masyarakat banyak juga yang terprovokasi ikut melakukan hal-hal yang menyebabkan ikatan persaudaraan, ikatan kekerabatan, persahabatan renggang tanpa terkendali, maka fanatik sesat dimunculkan sebagai garis pembeda seperti kata penyanyi Brory marantika dalam lagunya berkata “aku disini engkau disana” tentu sama saja. Sama saja dalam pengertian bahwa mereka berbeda pilihan,  tetapi mereka bersaudara, mereka bersahabat, berdampingan dan bertetangga. Ketika momen politik ini berakhir, sudah tentu semuanya kembali beraktivitas dan mereka dan mereka akan saling membutuhkan satu sama lain, karena manusia adalah zon politikon atau manusia tidak bisa hidup tanpa manusia lain. (Aristoteles).

Hal ini terjadi bukan karena kesalahan kubu cawabup dan cabup, tetapi ini juga termasuk peninggalan (historis) jejak politik pencakokan ala kekuasaan Macsiavelli yang dipakraktekan kekuasaan orde baru (Orba) selama 32 tahun dan sudah mengakar pada jiwa elit politik kita, baik pusat maupun daerah. 

Politik Wajah orba yang masih tertanam dalam mental masyarakat kita, menegasikan bahwa masyarakat kita tercakoki politik orba mengakibatkan masyarakat tidak lagi kritis, yang pada akhirnya hanya menjadi komoditi politik pemodal dan kekuasaan semu yang murah, maka mereka bisa diprovokasi dan bersikap anarkis, bahkan mereka juga kehilangan rasa percaya pada penegak hukum, sifat fanatik kelompok, ideologi, bahkan media juga terjerembab pada pencakokan pradaban politik seperti ini.

Masyarakat kita terkotori oleh idealisme-idealisme yang bersifat ekonomis,  yang berujung pada money politik yang melahirkan peradaban tumpul kemanusiaan karena kemiskinan. Dengan demikian maka Halmahera Utara perlu mengimplementasikan revolusi mental, bukan pada kubu masing- masing cawabup dan cabup, tetapi juga Media massa.

Huru hara politik demikian adalah sebuah kewajaran dalam dunia politik (Macsiavellie). Tapi apakah slogan atau narasi-narasi demikian perlu dipertahankan dan dibiarkan sebagai budaya politik kita?? atau kita perlu merubah bahasa-bahasa itu menjadi bahasa yang segar didengar dan dikomunikasikan antar sesama anak daerah, bahwa politik yang berakar pada polesan citra dan komunikasi pembudaya sesat ditebas dan dihilangkan melalui kerja-kerja diskursus dikalangan akademisi, politisi, agamawan dan lain-lain yang miris terhadap budaya kepalsuan dan pencakokan pembelajaran politik yang tidak mendidik dan tidak manusiawi. 

Semoga mental politik kita seperti yang dipraktekkan sementara dalam perhelatan pilkada Halut, dapat diperbaiki kedepan, dari dasar kesadaran nurani dan rasionalitas, bukan pada dasar kesadaran palsu, karena "pemimpin adalah pelayan bagi rakyatnya, teladan bagi yang dipimpinnya". Semoga pilkada kali ini di Halmahera Utara dapat melahirkan pemimpin yang membawa rakyatnya ke kehidupan yang layak di hadapan Tuhan. Semoga politik warisan Orba pada praktek politik pilkada Halut dilawan dengan politik rasionalitas atau politik kewarasan.

0Comments

Previous Post Next Post

ads