Penulis: Ben Yowes

Tiba-tiba, jendela yang ia bayangkan televisi itu menampilkan sebuah kepala. Bukan. Bukan kepala Mak Lampir. Bukan kepala Sembara, atau Ki Ageng Prayogo. Bukan. Tak ada tawa yang melengking. Tak ada rambut yang putih. Saya tak tau persisnya, itu kepala macam apa yang nongol di jendela itu

Dulu di pesantren. Di blok D. Nomor …. Tepat di belakang rumah Pak Kades. Di situlah, kawanku tinggal. Tak ada cerita horor. Sampai suatu hari, seonggok kepala tiba-tiba muncul dari jendela belakang. Kepala itu nongol dari sana. Cerita ini sudah sangat lama. Saya hanya mendengarnya setelah sekian generasi datang dan pergi. Mungkin juga waktu itu, posisi pondok tak seperti itu.

Begini. Suatu Malam. Di malam Jum'at (malam yang diyakini sebagai malam berpestanya hantu-hantu dan para jomblo yang membenci malam minggu), seorang santri tiduran di kamarnya sendirian. Tepatnya di kamar blok D. Tidak terlalu malam. Mungkin sekitar jam 20.00 WIB. Tapi suasana sepi. Bila ada yang terdengar, ya sekedar suara gemerisik daun yang bermanja-manjahan dengan angin malam. Suara jangkrik yang istirahat di sela-sela batu. Kadang diselingi cicak yang kayaknya berpiknik ria di sekitar lemari atau tembok.

Eh tapi suara cicak itu, kadang diyakini sebagai tanda-tanda datangnya roh halus. Oh tapi si santri tak peduli itu. Mungkin dia tak terlalu mengikuti tren tentang mitos-mitos seperti itu.

Si santri yang sedang terlentang di kamar pondoknya itu, matanya tertuju pada jendela yg tak tertutup (sebab memang tak ada tutupnya). Tatapannya persis mengara ke lubang. Mungkin dia juga bisa melihat kegelapan di luarnya. Atau bayangan gerak-gerik daun juga tertangkap oleh pandangannya meski samar-samar.

Si santri ini membayangkan sedang menonton televisi. Jendela yang berbentuk persegi itu memang mirip dengan layar televisi. Karena ia begitu sering dan suka menonton film "Misteri Gunung Merapi", maka ia membayangkan sedang menonton film itu. Anda yang akrab dengan film itu, mungkin terbayang dengan sosok-sosok seperti Ki Agung Prayogo, Sembara, Basir, Mardian, dan tentu saja Mak Lampir yang punya suara indah nan menggetarkan jantung.

Meskipun Mak Lampir merupakan tokoh antagonis, tapi sosok ini begitu digemari. Hampir-hampir kalo susah menyebut judulnya yang agak panjang, kita biasanya menyebut film Mak Lampir. Sosok nenek-nenek ini, dengan wajah menyeramkan (sebenarnya kalo tanpa make up seram dan dipoles cantik, saya pun jatuh cinta), berbusana jubah putih kotor (jadi telihat abu-abu), dan dengan tongkat (yang sudah seperti ponsel dan charger di tangan anak muda sekarang) selalu dibawa kemana pun pergi.

Pemuda itu terus berkhayal. Matanya tetap tertuju ke lubang persegi itu. Tiba-tiba, jendela yang ia bayangkan televisi itu menampilkan sebuah kepala. Bukan. Bukan kepala Mak Lampir. Bukan kepala Sembara, atau Ki Ageng Prayogo. Bukan. Tak ada tawa yang melengking. Tak ada rambut yang putih. Saya tak tau persisnya, itu kepala macam apa yang nongol di jendela itu.

Yang pasti, menurut cerita yang berkembang tentang kisah si santri itu, kepala itu... ya kepala. Kepala manusia. Seberapa menyeramkan? Oh Tuhan, jangan tanya lagi soal ukuran. Pokoknya, saat kepala itu nongol, dan mempertontonkan diri di jendela yang dikhayalkan televisi itu, si santri ini tak bisa bergerak. Ia tak bisa teriak. Tak ada orang di sekelilingnya. Siksaan itu ditambah dengan kesadaran dalam dirinya bahwa ini malam jumat. Rupanya si santri ini juga punya keyakinan bahwa malam Jum’at adala malam berpestanya hantu-hantu.

Selain itu, dia juga sadar bahwa tiap malam Jum’at, sudah pasti para santri pada keluar. Biasanya ke rumah tetangga untuk menikmati malam liburan. Jadi, dia yakin dia betul-betul sendirian. Tidak, bukan sendirian, tapi berdua dengan kepala tanpa tubuh yang nongol di jendela itu. Alamak!

Entah berapa lama si santri itu tersiksa dalam keadaan ketakutan. Terjebak dalam horor tanpa bisa bergerak, berteriak, dan seakan seluruh tubuhnya mati. Hanya pikirannya yang hidup dan matanya yg menangkap sebuah kepala. Oh Tuhan.

Andai si santri itu adalah aku, maka ini yang akan aku lakukan strategi ini. Pertama, aku akan pura-pura pingsan, atau setengah mati. Aku pejamkan mata. Berharap dengan cara ini, sang hantu kasihan melihat aku tersiksa. Tak tega melihat aku ketakutan dan pingsan. Kedua, aku akan baca ayat kursi, atau ayat-ayat lain, surat-surat pendek. BIla tak hafal, baca do’a juga tak masalah. Do’a yang pendek. Bila Cuma hafal do’a mau tidur, atau mau makan, tak apa juga. Sikat. Maksudnya, bac aitu. Tak apa. Intinya, biar hantu itu lari tunggang-langgang. Bukannya begitu di film-film. Hantu-hantu jadi takut, atau kebakar sendiri kalau kita baca do’a atau baca al-Qur’an.

Tapi belum tentu cara pertama efektif. Kalau hantunya kejam, dan tak punya sedikit pun empati kepada si santri yang ketakutan. Apalagi kalau hantunya memang tipe-tipe hantu yang suka mem-bully manusia, atau suka main-main? Sudah tentu, 99,9 persen cara itu akan gagal (saya sisakan 0,01 persen sebagai harapan, siapa tahu?).

Bagaimana dengan cara yang kedua? Kebanyakan berhasil. Kalau di film-film, sudah pasti berhasil. Tapi biasanya yang baca bukan sembarang orang, biasanya orang-orang yang bersorban, dan pakai tasbih. Tapi kadang-kadang cara yang kedua ini tak efektif juga. Pernah aku sekali waktu, malam-malam, waktu tidur kayak ketindih setan, eh hantu. Entahlah apa namanya. Pokoknya seperti tertindih, dan tidak bisa nafas. Mata terpejam. Tapi perasaan dan pikiran seakan sadar. Maka waktu itu, aku berusaha membaca ayat kursi. Baca basmalah. Dan macam-macam bacaan lainnya.

Apa yang terjadi? Sosok tak terlihat itu rasanya mengejekku. Aku seakan mendengar, dia membaca ayat kursi juga. Setiap kali aku baca ayat kursi, maka ia juga mengikuti. Saat aku baca do’a yang lain, ia juga seolah mengikutiku. Syukurnya itu tidak lama. Dan saat itu, aku jadi takut untuk tidur lagi. Trauma.

Kembali pada kisah si santri yang tersiksa dan terjebak dalam horor tanpa bisa bergerak dan berteriak, entah berapa lama kemudian, si kepala itu perlahan hilang. Yang tersisa hanyalah jendela itu, dan kegelapan yang muncul dari luar. Dan seiring itu, si santri mulai bisa bergerak. Langkah pertama, saat ia terpulih dari kondisi tubuh yang mati itu adalah: ia mengambil langkah seribu. Kaburrrrrrrrr....

0Comments

Previous Post Next Post

ads