Penulis: Deni

Meskipun waktunya tak persis bersamaan, tapi beberapa hari ini, kita menyambut beberapa momen penting. Di antaranya momen Hari Sumpah Pemuda dan Maulid Nabi.

Forum Mahasiswa Madura (Formad) sendiri telah menggelar acara Maulid Nabi dengan tema: “Maulid Formad: Spirit Kemajuan dengan Menjadikan Ahlak Nabi sebagai Suri Teladan”. Namun dalam momen ini juga, semangat untuk meneladani semangat dari Hari Sumpah Pemuda dibicarakan.

Meneladani Ahlak Nabi

Dr. Humaidi, mantan Ketua Umum Formad, dalam ceramahnya menyinggung pentingnya meneladani Nabi Muhammad SAW. Ia menyebut bahwa Nabi adalah manusia agung yang disebut di dalam al-Qur’an.

Bagi kita seorang muslim, tidak sulit untuk mengakui ungkapan tersebut. Sejak kecil, kita mendengar dari orang tua, para guru, dan buku-buku sejarah bahwa Nabi Muhammad adalah nabi yang mulia. Kita wajib tahu dan meneladani. Setidaknya, ada empat sifat terpuji nabi yang sering kita baca dan hafalkan yakni: amanah, sidik, tablig, & fatanah.

Selain berdasarkan hafalan, kita pun disuguhi oleh penjelasan-penjelasan yang lebih mantap, melalui firman Allah atau berdasarkan hadits-hadits Nabi. Tentu saja sebagai Muslim, pedoman yang kita pegang teguh adalah al-Qur’an dan al-Hadits.

Dari begitu banyaknya bukti dan pelajaran penting dari keteladanan nabi, hal yang sering kita tanya pada diri: adakah kita menjalankannya? Terutama di era yang semakin krisis figur yang bisa diteladani, kesadaran untuk membaca sejarah nabi, menyerap semangat, dan meneladaninya menjadi semakin mendesak buat kita. Ungkapan nabi menjadi semakin relevan untuk didengarkan. Kata Nabi: “Sesungguhnya Aku diutus untuk menyempurnakan ahlak”.

Dunia pendidikan – yang sejatinya tempat untuk mendidik diri (manusia) menjadi berbudi luhur – terutama di pesantren sangat menekankan pada pentingnya pendidikan ahlak. Penekanan pada adab (norma, aturan) bertingkah laku menjadi prioritas. Sehingga ada ungkapan: adab lebih tinggi nilainya daripada kecerdasan.

Tentu saja kabar buruknya, dunia pendidikan – terutama yang semakin menekankan pada kecerdasan – semakin kurang mampu memperkuat pendidikan ahlak ini. Sebab, ahlak bukan soal ajaran yang datang dari ucapan (mulut) belaka, tapi jauh lebih dirasakan – oleh sang murid – bila itu diucapkan melalui tindakan nyata oleh sang guru.

Ungkapan bahasa Arab: “Lisanul hal afshahu min lisanil maqal” (Keteladanan itu lebih kuat daripada ucapan). Yang lebih populer di telinga kita: bila guru kencing berdiri, maka murid kencing berlari. Sejalan dengan semangat ini, silahkan tengok para kiai di kampung. Mereka begitu kuat melakukan tindakan yang menjunjung tinggi adab. Sebab mereka menyadari betapa tindakannya

Semangat Sumpah Pemuda bagi Mahasiswa Madura

Selain menyinggung soal meneladani ahlak Nabi, Dr. Humaidi juga menyebut pentingnya mengambil semangat dari momen Sumpah Pemuda. Ia secara spesifik menyebut salah satu tokoh penting pemuda Madura yang termasuk dalam penggagas Sumpah Pemuda yakni Muhammad Tabrani.

Pemuda ini merupakan putra asli Pamekasan. Salah satu peran pentingnya: ia keukeuh untuk memasukkan bahasa Indonesia sebagai bahasa persatuan di dalam tiga Sumpah Pemuda. Tak bisa kita pungkiri, jaring kebangsaan kita terjalin kuat dalam anggitan bahasa yang menyatukan kita. Dari ujung Timur ke ujung Barat, kita memiliki kekayaan budaya dan bahasa lokal yang unik. Bila tidak dijalin dalam ikatan bahasa pemersatu, komunikasi apa yang bisa mempersatukan kita, bangsa Indonesia?

Sebab itu, sejarah tentang sosok M. Tabrani bukan saja dilestarikan dalam ingatan, tapi diambil poin penting dari semangatnya, diresapi, dan dijadikan motivasi agar kita – sebagai Mahasiswa Madura (Formad) – semakin aktif berperan untuk daerah, negara, dan bangsa.

 


0Comments

Previous Post Next Post

ads