Penulis: Fauzan Nur Ilahi 


Puas dalam ilmu pengetahuan rupanya memang tak baik, IR. Dahulu aku merasa ungkapan ini begitu klise. Dan karenanya, aku menilai bahwa tak pantas adagium ini digaung-gaungkan, lebih-lebih untuk ditelaah mendalam. Sampai akhirnya aku berada pada titik seperti sekarang.

IR, kenyamanan memang tak selamanya berbanding lurus dengan dahaga terhadap ilmu pengetahuan. Buktinya adalah aku pribadi. Di saat situasiku kini terbilang normal, mengingat di kampungku efek pandemi tak terlalu terasa (karena memang banyak yang tak peduli), progresifitasku dalam pengetahuan justru mandek. Sama sekali tak menunjukkan perkembangan seperti masa-masa ketika aku berada di Ciputat, di mana segala macam kebutuhan dan keharusan mengejar-ngejar ibarat parasit sialan yang hendak menghisap energiku. Namun alih-alih rasa haus terhadap pengetahuanku menurun, aku justru merasa tertantang untuk tetap melaksanakan kegiatan-kegiatan yang literatif di tengah seabrek agenda yang menghimpit.

Berkaca pada fenomena ini, tentu kita tidak bisa langsung buru-buru menarik konklusi. Kasusku ibarat satu contoh kecil. Dalam ilmu logika, untuk konteks tertentu terlebih dalam urusan sosial, satu contoh kecil tidak bisa kita jadikan satu-satunya data untuk menggeneralisasikan suatu kesimpulan, dan pantasnya kita posisikan sebagai bahan pertimbangan saja. Artinya, kita tidak bisa menganggap bahwa satu-satunya faktor dari minimnya aktifitas-aktifitas yang literatif adalah karena situasi yang mapan dan memanjakan. Kita harus melihat fragmen lainnya.

Situasi yang mapan dan memanjakan sejatinya adalah anugerah bagi mereka yang memang gandrung terhadap pengembangan ilmu, pengetahuan, dan wawasan. Situasi yang mapan dan memanjakan mungkin bagi sebagian orang memabukkan. Tetapi sepertinya, jika kita mau menelaah lebih dalam, situasi seperti apa pun dapat menjadi opium bagi kita hanya apabila kita merasa puas terhadap sesuatu. Salah satunya adalah perihal ilmu dan pengetahuan. Sehingga pada titik ini mungkin kamu mengerti IR bahwa persoalannya bukan pada situasi yang bagaimana, tetapi – seperti yang kutulis di awal surat ini, terletak pada perasaan cukup bahkan puas terhadap pengetahuan dan ilmu.

Berbicara soal perasaan puas ini IR, aku juga masih mampu menjelaskan kepadamu lebih rinci. Dalam kasusku, perasaan puas ini muncul akibat pikiranku yang menganggap bahwa kemampuanku sudah berada di atas rata-rata dengan mengacu pada tongkronganku di kampung. Nampaknya lingkaran pergaulanku yang masih terbilang abai terhadap kegiatan-kegiatan yang literatif lebih-lebih dalam konteks keilmuan membuatku merasa cukup dengan apa yang kuketahui kini. Padahal aku sadar betul bahwa apa yang kupahami ini tidak ada barang secuil. Aku insyaf bahwa aktifitas membaca, menulis, dan berpikirku masih jauh dari kata baik dan cukup. Tetapi begitulah manusia, IR. Tak bisa dapat berada di atas sedikit, pikirnya sudah merasa berada di puncak paling tinggi.

Inilah pentingnya kita berupaya membangun iklim atau lingkungan yang mendukung terhadap kegiatan-kegiatan literatif. Kita berharap bahwa dengan masifnya kegiatan literasi dalam suatu lingkungan atau daerah, dapat membantu membangun kesadaran bagi setiap individu di dalamnya tentang ilmu dan pengetahuan yang telah melaju dengan pesatnya. Bahwa masih banyak hal yang mesti kita pelajari. Bahwa posisi kita masih jauh dari kata cukup dan baik untuk merasa puas terhadap ilmu dan pengetahuan.

Kembali pada ungkapan awal yang mengatakan bahwa merasa puas dalam konteks ilmu dan pengetahuan adalah kekeliruan, aku rasa perlu kembali digaungkan, IR. Setidaknya bagi diriku pribadi. Ungkapan ini bak pentungan bagi kepalaku agar sadar bahwa masih banyak buku yang harus aku baca, banyak hal yang perlu kupelajari, serta banyak hal yang masih harus aku tulis. Aku tidak bisa berpuas diri dengan kemampuanku saat ini yang bahkan tak ada seujung kuku. Oh, aku rasa ukuran itu terlalu besar. Memperbandingkannya dengan satu titik debu pun aku masih belum pede. Jadi poinnya, aku masih sangat perlu untuk lebih meluangkan waktu untuk membaca, menulis, dan berpikir.

0Comments

Previous Post Next Post

ads