Penulis: Fauzan Nur Ilahi

Ternyata apa yang kita sebut kemajuan atau perkembangan tak selamanya kita lihat sebagai hal yang positif. Kemajuan dan perkembangan ini nampaknya hanya berlaku bagi kamus manusia.

DALAM masa yang banyak menyisakan waktu luang ini, IR, banyak hal yang ingin aku tuangkan dalam tulisan. Syukur-syukur kau dapat membacanya. Berbagai peristiwa yang kutemui di kampung halaman, setelah hampir 5 tahun kadung betah di daerah asing, cukup membuat pikiranku menyimpan banyak hal yang ingin sekali kuutarakan. Aku melihat banyak hal yang sejak kecil begitu dekat denganku, tetapi belum sempat kurefleksikan, kupikirkan dalam-dalam. Walaupun kini juga banyak muncul fenomena baru.
 
Selain itu, IR, waktu luang yang melimpah ini sangat berguna buatku setidaknya untuk menonton berbagai film menarik, serta bercumbu dengan buku-buku bagus yang belum kubaca. Pertemuanku dengan berbagai film dan buku ini juga merangsang jemariku untuk menulis beragam komentar, atau hanya untuk sekedar berbagi hasil bacaan dan tontonanku selama masa luang di kampung ini.
 
Nampaknya terlalu banyak hal yang ingin aku sampaikan padamu ya, IR. Tetapi biar kau tak jenuh, akan kusebutkan beberapa saja, IR. Selebihnya, mungkin akan kutuliskan dalam surat-surat selanjutnya. Semoga sempat dan gairah menulisku memiliki umur yang panjang.


Pertama adalah tentang aktifitas membaca. IR, dalam beberap minggu kemarin, aku sempat merasa bahwa hidupku terbilang mandek. Stagnan. Aku bahkan semakin berjarak dengan buku, atau dengan notebook sebagai media yang biasa kugunakan untuk menulis. Bahkan sekedar menulis catatan harian pun, yang notabene sudah menjadi habit bagiku sehingga sehari saja tak menulis catatan harian, maka perasaan tak nyaman muncul, itu pun jarang kulakukan. Otakku disesaki informasi media sosial yang sejatinya tak kubutuhkan, serta kegiatanku terbawa kebiasaan umum yang sejatinya sama sekali tidak mencerminkan diriku yang sebenarnya.
 
Kebiasaan manusia yang hidup di desa atau kampung seperti di daerahku juga begitu, IR. Media sosial, internet, serta teknologi nampaknya merombak banyak sekali aspek. Tiga hal ini nampaknya sudah mampu memasuki sela-sela kehidupan kita. Tentunya termasuk bagaimana cara kita hidup dan berinteraksi. Sehingga dengan kondisi yang demikian, sikap tidak bisa lepas dari tiga hal tadi patut untuk dimengerti.
 
Sampai akhirnya pada satu titik aku merasa sudah tidak waras, IR. Aku merasa otakku yang terlalu disesaki oleh medsos, internet, dan teknologi yang pada dasarnya tak kubutuhkan, akhirnya menjadi semacam tempat sampah. Waktu yang kuhabiskan untuk mengonsumsi hidangan dari telepon genggam bahkan mengalahkan waktu yang kugunakan untuk menulis dan membaca. Diskusi? Oh, aktifitas semacam itu tak bisa kita bayangkan seperti di wilayah sekitar kampus, IR. Kegiatan diskusiku di sini mentok hanya ketika berada di warung kopi atau saat ada pelatihan literasi saja. Selebihnya, ya sekedar makan-berak-tidur semata.
 
Pada titik seperti inilah aku merasa harus menarik diri agar kembali membaca. Dari kalimatku di atas kau mungkin akan mengerti, IR, bahwa saat aku berkata “menarik diri agar kembali membaca” itu bukan hanya soal menambah wawasan, tetapi lebih-lebih untuk menuju kewarasan. Untuk menetralisir racun medsos, internet, dan teknologi yang kian lama kian membuat candu.
 
Kau jangan salah sangka, IR. Aku tak berkata bahwa tiga hal yang kusebutkan itu tidak berguna dan hanya membawa efek buruk semata. Tidak, IR. Tidak. Aku hanya ingin bilang bahwa mengonsumsi secara membabi buta apa yang disajikan medsos, internet, serta teknologi adalah opium yang mematikan. Atau, dalam istilahku, membuat otakmu tak waras. Jadi membacalah, IR. Setidaknya kau ada harapan agar otakmu tak gila. Ini pesan yang juga akan kusampaikan ke anak-anakku kelak.
 
*
Hal kedua yang ingin kusampaikan adalah aku ingin berbagi hasil bacaan. Dua hari lalu aku baru saja menyelesaikan buku Sapiens-nya Harari. Cukup lama waktu yang kubutuhkan untuk merampungkan pembacaan terhadap buku ini, IR. Karena selain porsi jam membacaku sedikit, beberapa bulan terakhir ini, seperti yang kusebut di atas, tak tekun membaca. Ditambah buku ini memang cukup tebal, akhirnya aku baru menyelesaikannya dua hari lalu.
 
Terlalu banyak informasi baru jika aku harus menjelaskannya satu per satu. Jadi mungkin aku akan memaparkan beberapa saja, IR. Yang aku anggap pantas kau baca, serta ingin sekali aku bagikan saja.
 
Buku ini cukup untuk menutupi kehausanku terhadap sejarah kita, homo sapiens; para manusia. Tak banyak buku sejarah yang kubaca, IR. Dan aku sangat bersyukur dapat berjumpa dengan buku satu ini. Setidaknya, Sapiens masuk dalam daftar buku yang membuatku terkesan di samping tetralogi Pulau Buru-nya Pramoedya Ananta Toer. Aku dibuat tercengang dengan penelusuran serta pemaparan Harari tentang sejarah kita, dari awal – artinya masa di mana sejauh sejarah dapat menjaungkaunya, hingga masa di mana kita hidup saat ini.
 
Sebagai orang yang sedari dulu tak mengikuti perkembangan sains dan memang tak mendalaminya, aku tertegun dengan pemaparan tentang perkembangan sains yang begitu cepatnya. Sains tidak hanya mampu mengurangi angka kematian yang diakibatkan oleh penyakit dan perang, tetapi sains sudah sampai pada apa yang Harari sebut dengan proyek Gilgamesh – satu mitologi yang menceritakan seorang raja bernama Gilgamesh dari Uruk yang hendak menaklukkan maut. Ya, IR. Sains hari ini sudah sampai pada tahap itu.
 
Bahkan, teknologi yang merupakan anak kandung sains, sudah berkembang sampai pada tahap menggabungkan antara teknologi (non-organik) dan dzat organik semisal tubuh manusia (cyborg), atau non-organik dengan non-organik semisal robot.
 
Beberapa kemajuan ini terjadi beberapa milenium terakhir sejak manusia mengalami revolusi kognitif. Sungguh perkembangan yang luar biasa bukan, IR? Aku bahkan tak mampu membayangkan dengan pasti bagaimana kehidupan yang akan dihadapi anak-anak kita kelak? Apakah mereka akan memiliki teman-teman robot – walaupun sejatinya saat ini kita tengah berteman dengan robot-robot bernama HP, laptop/PC, kendaraan mesin, serta teknologi lebih canggih lainnya? atau kita akan punah dan digantikan oleh robot-robot ini? entahlah, IR.
 
Ini adalah penjabaran sekilas. Kau akan menemui banyak peristiwa lebih mencengangkan jika memasuki penjelasan Harari pada buku ini. Kau sangat mungkin akan membayangkan bagaimana jika pikiran kita sebagai manusia mampu ditransfer ke dalam suatu rakitan besi/logam yang disambungkan dengan kabel-kabel sehingga rakitan ini mampu memiliki kesadaran semisal kita. Lantas apakah mereka layak disebut manusia, atau justru mereka akan menganggap kitalah yang bukan manusia? Kau juga sangat mungkin akan tercengang dengan suatu proyek yang disebut creyogenics – suatu proyek yang menyediakan jasa menyimpan mayat (dibekukan) yang nantinya siap “dibangkitkan” kembali apabila sains sudah mampu menjawab dan menaklukkan maut. Bagaimana, IR? Kau berminat?
 
Tetapi di samping perkembangan dan kemajuan ini, ada yang menarik, IR. Aku tak sabar menjelaskannya kepadamu. Begini. Ternyata apa yang kita sebut kemajuan atau perkembangan tak selamanya kita lihat sebagai hal yang positif. Kemajuan dan perkembangan ini nampaknya hanya berlaku bagi kamus manusia. Sementara mahkluk atau spesies semisal badak, harimau, landak, jerapah, tumbuhan, serta ekosistem di sekeliling kita justru mengalami pengrusakan seiring dengan apa yang kita agung-agungkan dengan “kemajuan” dan “perkembangan”.
 
Harari berbeda dengan sejarawan lain. Dalam penjelasannnya, dia juga menyentuh persoalan kebahagiaan. Dia bertanya, apakah kemajuan dan perkembangan ini juga membawa dampak kebahagiaan terhadap manusia? Kau tahu apa jawabannya, IR? Jawabannya adalah tidak! Banyak data untuk membuktikan ini, IR, dan aku sepertinya tak usah jelaskan di sini. Kau bisa mencarinya di internet atau membaca bukunya langsung.
 
Dengan ini, kita nampaknya sudah harus menafsir ulang tentang “kemajuan” dan “perkembangan”.  Bukan untuk menolak perkembangan sains. Menghalau perkembagan sains sama tidak mungkinnya dengan menghalau ombak di lautan. Perkembangan sains bermula dari keingin tahuan dan keinginan manusia untuk menaklukkan maut. Jadi tentu mustahil untuk menghindarinya. Akhirnya yang bisa kita ambil, meminjam perkataan Harari, adalah dengan “mempengaruhi arah” dari perkembangan sains itu sendiri. Artinya, kita tidak ingin sains hanya menjadi alat pemuas kerakusan manusia, tetapi lebih jauh dari itu, sains juga menjadi jawaban dari kerusakan ekosistem kita.
 
Walaupun, IR, rasa-rasanya bermimpi dunia yang nir ketidak-adilan serta nihil kerusakan nampaknya mustahil. Sejarah telah membuktikannya. (Bung)

0Comments

Previous Post Next Post

ads