Penulis: Ben Yowes


Aksi-aksi ini sudah dimulai sejak kecil. Di ruang kelas tiga SD. Jendelanya terbuat dari jalinan kawat-kawat kecil yang rapuh dimakan usia tak mampu menahan ulah dobrakan tangan mungil dari seorang bocah SD kelas tiga.

Dalam ingatanku, aksi-aksi itu tidak hanya sekali. Tapi berkali-kali. Bak aksi spiderman, bocah itu melompat ke arah jendela. Memanjat bangku kelas. Lalu kedua tangannya – yang mengeluarkan sentuhan-sentuhan ajaib – mencengkeram jendela kawat. Dan satu demi satu, kawat yang rapuh itu, mudah sekali diterobos. Tak ada yang bisa menolong jendela kawat tua yang malang itu.

 

Maka jendela kawat ruang kelas tiga itu terlihat seperti baru saja dibobol oleh seorang maling/pencuri yang kita tak tahu apa yang hendak dicuri di ruang kelas yang hanya berisi bangku, buku-buku tertinggal, sisa kapur tulis, atau ubin-ubin yang mengelupas dari tempatnya.

 

*

Bocah itu adalah kawanku sendiri. Keberaniannya melebihi diriku. Kelicikannya mungkin juga. Aku tak bisa berbuat apa-apa. Tak ada keberanian melakukan aksi-aksi membobol seperti itu. Sangat ngeri bila sampai aksi heroik itu gagal, misal ketahuan guru kelas, apalagi kalau ketahuan kepala sekolah.

Aku sudah pernah mengalami masa yang masih bisa aku ingat hingga hari ini: dihukum berdiri di luar kelas, dengan salah satu kaki diangkat, dan muka menengadah ke langit. Bayangkan hukuman itu terjadi di sekitar jam 9-10 pagi. Tatapan kita ke langit dibalas langsung oleh kerling tatapan matahari yang terik. Tatap-tatapan dengan matahari jelas lebih susah daripada tatap-tatapan dengan mantan yang disukai. Bukan soal deg-degan. Tapi muka gosong, om.

Baik. Kembali lagi ke bocah heroik itu. Jelas, aku tak berani adu nyali menembus jendela berpagar itu. Kalau aku disuruh adu nyali dengannya, aku lebih berani menantangnya menyanyikan satu atau beberapa lagu yang sering diajari oleh guru Pak S di kelas tiga. Misalnya:

Pak Pung Pak Mustapa, Pak Dulla di Rumahnya. Ada tepung, ada kelapa, ada gula di rumahnya (versi yang bukan Betawi). 

Atau lagu ini:

Sorak-sorak bergembira, bergembira semua. Sudah bebas negeri kita, Indonesia merdeka. Merdeka!!!

Dua lagu itu saja, aku yakin nyalinya ciut. Apalagi kalau soal disuntik. Jadi, suatu hari, ada program suntik vaksin di SD kami. Hari itu, saat semua pada ketakutan – maklum anak-anak kampung takut betul sama jarum suntik, sudah tahu kan siapa yang maju paling depan dan tampil bak hero: tentu saja diriku.

Lalu bocah pemanjat jendela itu ke mana? Hehehe (aku tersenyum menjijikkan seperti squipward). Sudah jelas dia raib beberapa jam yang lalu. Dia melompat lewat jendela itu. Si jago panjat dan bobol jendela kawat itu rupanya takut betul sama jarum suntik.

 

*

Nah, bagaimana mulanya dia menjadi tukang panjat dan pembobol jendela kawat? Mungkin mulanya iseng. Kawat yang tua itu menarik betul untuk dibantai, mungkin begitu yang ada dalam pikirannya. Tapi, jendela kawat yang lama-lama bolongannya makin gede, justru membuatnya berpikir lebih jauh. Jadi bolongan itu jadi celah pelarian. Banyak betul alasan bocah itu melompat kabur dari celah jendela kawat itu.

Adakalanya suatu hari, dia bilang dengan menggebu-gebu kalau dirinya sudah tak tahan lagi. Perutnya mules. Dia pengen buang itu (paham ya, sebutnya “eew”) di tempat WC terbuka (ladang). Siapa yang bisa menoleransi sakit perut karena mau “eew” itu? Apalagi Cuma kawan-kawan sesama bocah. Dari pada dia “eew” di bangku, dan baunya bisa sekelas, lebih baik dibiarkan saja bocah itu kabur.

Tapi alasan-alasan itu menjadi kehilangan kekuatannya. Siapa pun – yang otaknya kecil sekali pun – bisa curiga dengan alasan-alasan bocah itu. Pertama, bagaimana bisa bocah itu selalu merasa mules setiap hari secara berturut-turut? Penyakit perut macam apa yang bisa “abadi” macam itu? Entahlah, nanti kita tanya pada dokter.

Kedua, anehnya lagi, penyakit mules perut itu selalu terjadi di jam-jam setelah istirahat. Mau masuk pelajaran terakhir, di jam-jam yang semua murid sudah mencapai titik kenikmatan untuk tidur di kelas ketimbang mendengarkan pelajaran lagi.

Andai masa kecilku sudah kenal cerita-cerita detektif macam Sherlock Holmes atau Detektif Conan, mungkin aku akan menerapkan serangkaian penyelidikan yang terstruktur, masif, dan sistematis atas kejanggalan-kejanggalan kasus ini. Apa hubungan jendela kawat yang dibolongi, mules perut di jam-jam setelah istirahat, dan kabur lewat celah bolong itu?

Waktu itu, kami curiga: jangan-jangan bocah itu sekedar ingin kabur saja. Mungkin sudah males untuk pelajaran jam ketiga. Tapi, kami tak punya bukti kuat. Kecurigaan tinggal kecurigaan. Sebab, aku tak bisa menjelaskan kecurigaan itu dengan cara yang logis. Akhirnya, alasan sakit perut yang berlangsung hampir tiap hari dan peristiwa ia kabur lewat celah bolongan jendela kawat itu tetap selamanya jadi misteri. Misteri yang tak terungkapkan.

 

 

0Comments

Previous Post Next Post

ads