Penulis: Ludiro Prajoko



Ada sebuah ‘negeri’: Amfoang Utara. Terletak di bagian yang tersembunyi pada peta  Pulau Timor, Nusa Tenggara Timur. Dari Kupang, Ibu Kota Provinsi, 12 jam lebih perjalanan dengan motor. Negeri ini seolah diciptakan Sang pemahat ulung yang ditinggal kekasihnya, disediakan hanya untuk orang-orang yang tidak cengeng. Setiap orang di sana, layaknya ksatria Cleistenes yang berperang menaklukan empat puluh tiran dalam kisah Yunani kuno.

Perjalanan ke Amfoang, melewati jalan-jalan yang berubah wujud menjadi sungai. Sungai-sungai, tak kurang dari enam puluh, besar- kecil, menjadi jalan. Melintasi bukit, menyisir pantai, menerobos hutan, ….. Perjalanan yang menyerupai gerak badan akrobatik, menghasilkan rasa lelah dan ketakjuban.  Alam di sana sungguh indah. 

Memang, di Amfoang, segala yang terlihat memroduksi rasa takjub. Manusia bergulat melawan nasib dan, Tuhan menampakkan diri: “Gunung – gunung anggun layaknya seorang gadis sedang tidur terlentang, tebing merah coklat tegak berdiri tinggi, sungai-sungai yang lebar, dan batu – batu indah, warna-warni seperti dilukis, menghampar di dasar sungai, memikat air jernih yang mengalir”. Semoga, sungai itu kelak ada di surga. Sebab, tidak semua orang yang memiliki tiket ke surga sempat berkunjung ke Amfoang.  Sungai-sungai itu, tambah tahun menunjukkan gelagat tambah lebar. Tampaknya, air mengalir sesuka hati. Dan, orang Jawa memberi nasihat: lumaku manut ilining banyu, padanan ungkapan Pantha rei: mengalir saja.

Ada lagi yang mengesankan: kambing dan babi.  Bangsa binatang itu menikmati hari-hari di halaman rumah, berjalan-jalan mencari kesibukan. Tampaknya, terbangun mutual understanding di antara mereka. Para binatang itu tidak berkelahi. Tidak saling menuduh atau main klaim: lu haram, gue halal! Sebagaian dari mereka, tidur – tiduran di badan jalan, tidak ada rasa khawatir terlindas oto. Ekspresi wajahnya cuek, bahkan kambing – kambing itu, mengembikpun malas. Mengapa? Seorang Filsuf menjelaskan: “Tidak ada kematian bagi binatang. Mereka hanya habis“

Binatang memang tidak memiliki konsep tentang waktu dan mati, tidak berurusan dengan masa depan yang terbayangkan, apalagi yang jauh: masa depan di balik kematian.  Bagi mereka, tidak ada apa-apa setelah mati dan tidak ada kematian sebagai tindak aktif. Karena itu, tidak ada revolusi kaum binatang. Kecuali sekelompok binatang yang memberontak melawan manusia dan, menang. Seperti dalam cerita aneh-aneh yang ditulis George Orwell untuk manusia. 

Nilai lebih mereka, sebagaian dagingnya enak dikunyah. Sebagian lagi tenaganya kuat. Selebihnya, cocok untuk simbol. Salah satu hieroglyphics (lukisan pada batu) Mesir yang berumur ribuan tahun, menggambarkan Anubus: Dewa berkepala serigala sedang menimbang jiwa dalam suatu perjalanan setelah mati. Romulus dan Remus, kakak beradik pendiri Roma, dikisahkan ketika balita diasuh seekor serigala betina.  Amon, Dewa kesuburan bangsa Mesir digambarkan berkepala kambing. Gambar Amon kemudian menjadi ilustrasi sebuah produk kondom. 

Matahari sudah lewat. Tuhan menggoda: “Bulan bersinar setengah lingkaran. Di sekelilingnya, bintang-bintang ditebar”. Mengingatkan pada sebuah lagu yang dinyanyikan pada suatu masa (bukan masa kini!), ketika seseorang belum pandai berbohong: Bintang Kecil. Di bawahnya, malam seperti kekasih yang dikisahkan dalam Kidung Agung: Aku memang hitam…

Menuju Amfoang Utara nol kilometer, masih harus melintasi hutan dan desa-desa. Sepanjang jalan itu, malam menjadi ibu kandung gelap, dan keduanya saling mendekap. Dalam gelap manusia takut. Lalu berbisik, merayu Tuhan. Jalan terlalu rusak, ada terlalu banyak tanjakan, kubangan lumpur yang kental, batu-batu yang melawan roda motor. Jurang adalah spasi yang menghubungkan jalan dengan pantai, menjadi ruang yang mengantar perpisahan atma   dengan raga manakala sial menimpa. Deburan ombak bergemuruh, merangsang hati berdesir. Untunglah, manusia dibekali matematika untuk menghitung kesembronoan dan rasa khawatir. 

Di beberapa ruas jalan, rumah-rumah berjajar tak rapat. Terlihat dari titik-titik api lampu minyak. Satu titik satu rumah. Ada satu rumah berpenerangan listrik yang dihasilkan mesin diesel mungil, konon milik seorang saudagar di desa itu. Saudagar, di manapun selalu lebih kaya dari yang lain. Tapi, di jaman ini, tidak bisa lagi kejengkelan merangsang seseorang untuk mengacungkan telunjuk, lalu berteriak: itu dia salah satu setan desa! 

Satu rumah menyalakan petromax: lampu pompa yang sudah menjadi barang langka di Jawa. Memang, teknologi membuat kita terlalu cepat sampai ke depan. Sebaliknya, kemiskinan membuat kita terlalu jauh tertinggal di belakang. Walaupun modernisasi terlihat dalam gerak lambat, namun tidak mengurangi efeknya. Tak disangkal, di mana-mana, modernisasi menghasilkan disparitas. Jarak kesenjangan adalah ukuran yang relatif. Relativitasnya ditentukan oleh konteks dan locusnya. Maka, jarak antara memiliki petromax dengan lampu minyak dari kaleng bekas di Amfoang, sama mencoloknya dengan jarak antara memiliki Jaguar seri terbaru dengan Innova di Jakarta. Disparitas itu semakin akut, karena dewasa ini, kita hidup dalam dunia yang disesaki barang – barang dan ketidakadilan.

Di ruang yang cukup banyak mendapat jatah pancaran sinar rembulan, terlihat sebuah rumah, tanpa titik nyala lampu minyak. Dari rumah itu, terdengar seseorang meniup seruling, melintaskan ‘moment satu detik kematian kesadaran’. Oh… kalau itu yang disebut syahdu, ekstase, … kiranya benar ungkapan Tagore dalam Percik Api:  “Dewa-dewa bosan di surga, Cemburu kepada manusia.“ 

Juga ada sebuah rumah. Dindingnya dari anyaman bambu yang dirajut renggang, lantai tanah dan atapnya daun sebuah pohon dari rumpun palma, yang disadap niranya sebagai bahan dasar memproduksi sopi, kakak kandung tuak. Kebanyakan rumah di sana memang begitu. Apa-apa nyaris tidak ada di rumah itu. Seorang anak lelaki 3-4 tahun telanjang bulat, perutnya buncit. Tampaknya, ia sudah lebih dari seminggu terserang pilek. Ingusnya kental, sreeet…ditarik masuk ke pangkal hidung sambil menghela nafas.

Di tempat lain, seorang bocah lelaki bertelanjang dada. Rambutnya dicukur asal-asalan, berjalan jauh mencari air untuk emaknya. Beberapa anak sumbing bibirnya. Di Amfoang tentu tak ada rumah sakit yang dapat melakukan operasi bibir sumbing. (Jadi, biarkan saja mereka tetap sumbing?). Bagi mereka, intervensi medis adalah harapan yang tak terjangkau dan, sayang sekali, Tuhan tak lagi menurunkan manusia pembawa mukjizat, yang dapat menyatukan bibir  terbelah hanya dengan satu elusan ujung telunjuk.

Kondisi kehidupan masyarakat Amfoang, ditilik dari segi ekonomi: miskin, bahkan sebagaian besar, dengan ukuran yang digariskan pemerintah sekalipun, meyakinkan untuk disebut miskin absolut, miskin semiskin-miskinnya! Kemiskinan menjadi pemandangan umum. Mengingatkan kemarahan seorang Filsuf yang diungkapkan dengan nada seperti berdo’a: “Tuhan sekalipun harus segera turun tangan membantu mereka, karena Ia telah menciptakan mereka dalam jumlah yang terlalu banyak”. Pemerintah saja tidak cukup, apalagi pemerintah juga tidak cukup berbuat untuk itu. Malah, sebagaian dari pelaku yang disebut pemerintah, hatinya telah membeku, menjadi semacam fosil.

Kemiskinan terawetkan di Amfoang. Dan, tampaknya tak memiliki jangka waktu kadaluwarsa dalam proses sosial-budaya yang membingkai masyarakat. Topografi wilayah yang berbukit- bukit dan kelangkaan air, menggenapi condisio sin quanon yang menyebabkan sebagaian besar penduduk lebih tepat disebut mengais-ngais remah-remah rejeki, sekedar untuk melanjutkan hidup sampai batas waktunya. Memenuhi naluri sebagai manusia, menguatkan penjelasan Bergson tentang transendensi terhadap alam: manusia berusaha menaklukkan rintangan yang disediakan alam.

Tetapi apakah kemiskinan itu? Menjawab pertanyaan genit itu, di Amfoang, tidak diperlukan kitab referensi. Sebab, jawabnya tergelar nyata: situasi yang melampaui keterbatasan pemilikan barang-barang. Agaknya lebih tepat bila diungkapkan sebagai situasi kehampaan. Situasi di mana sebagaian besar penduduk tidak hanya tidak memiliki barang-barang, tetapi juga hasrat dan harapan. Lingkaran setan kemiskinan bekerja sempurna di Amfoang. 

Lalu, apakah yang merisaukan: ancaman terhadap harkat kemanusiaan? kematian dini? generasi yang hilang lantaran gizi buruk? …. Boleh jadi, tidak! Di Amfoang, manusia tidak berurusan dengan semua itu. Mereka tampak memiliki kebahagiannya sendiri. Setidak-tidaknya, tidak tampak terlalu menderita menghadapi kemiskinannya, mereka tidak memelas. Mungkin, orang lain saja yang merasa memiliki alasan untuk trenyuh. Bagaimanapun keadaannya, toh, hidup terus berlangsung di sana, dan tak mendengar kabar revolusi sosial pecah di Amfoang.  

Hanya saja, manusia, semata-mata karena ia manusia, yang membawa wasiat untuk menjaga dan mengembangkan kemanusiaan, tergoda akal sehatnya untuk mempersoalkan: seperti apakah manusia selayaknya hidup? Haruskah manusia dibiarkan hidup secara apa adanya: bukankah semua masyarakat bermula dari kelompok-kelompok liar dan, tinggal di gua – gua? 

Entahlah, pada titik itu, satu hal yang pasti: terlalu banyak orang miskin di negeri ini. 


0Comments

Previous Post Next Post

ads