Peresensi: Abdullah SP

The New York Times


Suatu hari, seorang guru perempuan ditugaskan mengajarkan di salah satu sekolah. Ia berangkat dengan optimis untuk mendidik manusia lewat sekolah. Begitu tiba di kelas, ia mulai kaget. Siswa-siswanya nampak terlihat ‘bandel’. Sang guru mencoba bersabar dan mulai memberikan masukan-masukan yang positif. Tapi tak mengubah apa-apa.

Hari demi hari, ia tetap tak mampu mengubah apa-apa. Siswa-siswanya suka ribut di kelas. Dari adu mulut hingga jotos-jotosan. Problemnya nampak makin kompleks. Ini menyangkut ras. Di kelas, murid-muridnya terbelah dalam kubu-kubu: kulit putih dan hitam.

Sang guru hanyalah seorang pengajar bahasa Inggris. Ia barangkali begitu mudah untuk mengajarkan struktur gramatika bahasa Inggris. Tapi bagaimana mengubah pelan-pelan siswa-siswa yang punya watak keras, kasar, suka berantem?

Makin lama, ia makin stres. Kedisiplinan yang diharapkan dari siswa-siswanya makin menjadi harapan yang susah dicapai. Bila kondisi ini terus-menerus terjadi, sementara perubahan nampak sama sekali tak terlihat, nampaknya jalan paling mudah adalah mengundurkan diri dari sekolah itu, mengundurkan diri dari berjuang menghadapi watak-watak kasar para siswanya dan mencari sekolah lain yang siswa-siswanya lebih bisa diatur.

Itu ide yang lebih baik. Tapi rupanya sang guru, yang hanya seorang pengajar bahasa Inggris, tak segera menyerah. Ia tak memaksakan pengajaran bahasa Inggrisnya. Tapi ada hal lain yang dilakukannya yang nampak menurutnya paling dibutuhkan: mendengarkan.

Sang guru berusaha menerapkan metode ‘mendengarkan’ apa yang sesungguhnya diinginkan oleh murid-muridnya yang nampak susah sekali diatur ini? Ada masalah apa sehingga murid-muridnya sulit sekali untuk disiplin di kelas dan mau mendengarkan pelajaran?

Sang guru membagikan masing-masing muridnya sebuah buku tulis yang belum ditulisi apapun. Sang guru hanya menginstruksikan kepada mereka: menulislah. Menulislah apapun di buku itu. Apapun yg kamu alami, kamu pikirkan, tulislah.

Meskipun watak tidak disiplinnya masih ada, murid-muridnya akhirnya menulis tentang apapun di buku itu. Apapun. Jadilah buku-buku itu sebagai penampung catatan harian mereka, curahan hati, kejadian sehari-hari, dan apapun. Sang guru menyediakan lemari khusus untuk masing-masing buku mereka dan dikunci. Sehingga catatan itu menjadi sangat privasi dan rahasia.

Tetapi sang guru dapat melihat masing-masing isi buku itu. Ia memiliki kunci cadangan barangkali. Maka ia membaca masing-masing apapun yang ditulis oleh murid-muridnya. Ia mendengar dan tenggelam dalam seluruh catatan harian murid-muridnya. Dari catatan harian itu, sang guru seakan mendengar curahan keluh kesah muridnya. Sedikit demi sedikit terbukalah situasi yang dialami murid-muridnya.

Kenakalan, ketidakdisiplinan, kekerasan dan kebrutalan yang nampak mewatak dalam diri murid-muridnya selamanya rupanya bukan anugerah dari langit. Tapi itu terbentuk lewat pengalaman hidup sehari. Catatan-catatan harian muridnya itu seperti berbicara dan sang guru mendengarkan.

Ada yang bapaknya seorang kriminal. Ada yang menyaksikan bapaknya diseret-seret di depan mata sebelum akhirnya ditembak mati. Hidup dalam kemiskinan dan dibayangi kekerasan. Pergaulan hidup yang dipenuhi dengan rasisme dan berbagai macam kebrutalan fisik. Sang guru seakan menyaksikan betapa hidup mereka begitu getir, dalam arena yang sangat mencekam: dijahati atau menjahati, digebuk atau menggebuk, membunuh atau dibunuh. Lingkungan itu yang membentuk diri mereka.

Dari buku catatan harian itu, maka sang guru berpikir. Yang lebih utama bukan mengajarkan mereka bahasa Inggris atau apapun. Sang guru perempuan itu akhirnya memperlakukan murid-muridnya sebagai anak-anaknya. Dan ia memperlakukan mereka dengan begitu sabar. Ia tak menekankan anak-anaknya harus berprestasi, tapi yang ia lakukan pertama-tama adalah mencoba ‘dekat’ dengan mereka, mau mendengarkan apapun kelelahan mereka menghadapi hidup, memberikan masukan-masukan secara halus dan lembut tanpa berusaha ‘menggurui’.

Ya, sejauh itu, sang guru hanya mendengarkan. Seiring murid-muridnya terus menulis di buku harian itu, maka seiring itu, sang guru semakin banyak tahu titik utama masalah yang dihadapi mereka. Sampai pada akhirnya, sebagian muridnya benar-benar merasakan bahwa perempuan yang berdiri di depan itu, pengajar bahasa Inggris, bukan lagi sekedar seorang guru, tapi seperti seorang ibu. Maka seluruh keluh kesah mereka tumpahkan kepadanya.

Dari situlah bermula pintu bagi sang guru untuk mulai memberinya asupan pendidikan yang mereka butuhkan. Dari situ pulalah, murid-muridnya mulai mau mendengarkan nasehat-nasehat yang baik dari gurunya.

Tentu saja ini bukan sebuah cerita dari pengalaman nyata. Ini hanya potongan-potongan yg aku sajikan secara singkat dari film ‘freedom writers’ (para penulis yang merdeka). Entah apa makna di balik judul itu. Tapi setidaknya, pesan yang bisa dipetik di sini: kesabaran untuk ‘mendengarkan’ kadang menjadi pintu masuk yang paling efektif untuk membawa mereka menuju hal-hal yang lebih baik. Mendengarkan adalah memberi ruang bagi mereka untuk mengungkapkan apapun masalah yang dihadapi. Dengan cara itu, sang pendengar yang baik telah menjadi penampung yang baik dari beban-beban orang lain.

Metode mendengarkan bisa bermacam-macam. Dalam cerita ini, mediumnya adalah catatan harian. Biarkan mereka menulis, menceritakan segala apapun yang dia alami, rasakan dari pengalaman hidup yang dijalaninya. Catatan harian adalah jalan keluar. Setidaknya dalam “freedom writers”.
0Comments

Previous Post Next Post

ads