Penulis: Ben Yowes 


I

Lelaki itu tak tidur sehari-semalam. Seminggu yang lalu, ia bolak-balik ke perpustakaan. Garis-garis di wajahnya makin menguat. Nampak ia seperti lelaki tua di usia yang masih muda. Rambutnya yang semula mudah disisir, kini seperti rimbunan belukar yang susah. Kekusutan itu lantaran ia lebih banyak berpikir tentang skripsi dan keseluruhan pemikiran di dalamnya yang menjelma sederetan teks-teks panjang dengan mengikuti kaidah-kaidah penulisan yang kini sudah memenuhi 150 halaman.

Belum terhitung lembaran-lembaran penunjang, seperti bukti foto dengan informan, lembar-lembar pertanyaan, dan lembar-lembar lain yang sesungguhnya tak perlu dimasukkan di dalam skripsi.

Di skripsi itu, ada satu kalimat panjang, tanpa titik, dan lelaki itu seakan membiarkan dengan sengaja kalimat panjang apa adanya itu.

II

Si pembimbing mengerutkan wajahnya. Matanya terpaku pada satu deretan kalimat panjang yang terasa janggal untuk skripsi yang formal. Pembimbing itu hendak mengoreksi kalimat itu. Tapi tatapan si pemilik skripsi seakan memohon. Maka mata yang memohon itu mengubah keinginan si pembimbing.

“Tapi aku tak suka kalimat itu”, si pembimbing skripsi menunjuk pada deretan kalimat itu sembari mengembalikan kepada si pemilik skripsi.

“Aku menyukai kalimat itu, pak”, si pemilik skripsi kukuh. “Bapak boleh minta saya mengoreksi seluruh teks-teks yang lain, tapi kalimat itu…”, si pemilik skripsi terdiam. Ia hendak mengatakan bahwa lebih mudah menghapus kalimat-kalimat yang muncul dari gagasan pikiran daripada kalimat-kalimat yang datang dari perasaan. Tapi kalimat ini ia tahan untuk dirinya sendiri. Nanti begitu sampai di kosan, pastilah kalimat ini ia jadikan kutipan di dinding kamarnya.

Si pembimbing memandang dan berpikir mahasiswa bimbingannya ini aneh. Ada 130 mahasiswa bimbingan dalam satu tahun ini. Tapi 129 yang lain baik-baik saja. Satu ini saja yang susah diarahkan. Ini hanya perkara satu kalimat. Dan dia membela mati-matian. Masih mending bila kalimat itu ditulis dengan baik. Tapi ini…si pembimbing menurunkan kacamatanya dan melirik ke deretan kalimat yang sangat tak enak dibaca dan tidak penting itu. Ia ingin meludah. Tapi tertahan. Ia segera diingatkan oleh babak belur kisah cintanya.

III

Masa mudanya, si dospem itu bernama Ondem. Ia diam-diam menyukai Ratih. Tapi satu hal yang ia benci dari kondisi mencintai: kegugupan. Suasana yang biasa-biasa saja menjadi mencekam. Pernah ia berkali-kali sekedar berani memandang dari satu jarak. Sesaat Ratih menatapnya balik, Ondem segera mengalihkan pada pandang objek yang lain.

Dalam cinta yang kian hari kian menebal pada Ratih, Ondem hanya mampu menyalurkannya lewat kisah-kisah cinta yang ia buat. Ori dan Oni. Kisah yang indah-indah tentu saja. Ondem membuat tokoh Ori sebagai sosok yang luar biasa. Memang bukan perayu maut. Tapi Ondem mengidealkan Ori sebagai lelaki yang jenius dan peracik kata-kata. Oni perempuan yang tak mudah ditaklukkan. Maka kisah-kisah cinta Ori dan Oni berlangsung lewat korespondensi tak langsung.



Ori menulis kisah cintanya lewat prosa dan puisi. Ditempelkan di Mading. Oni membalasnya pula di Mading. Dan keduanya pun menulis dengan nama-nama samaran. Ori dan Oni. Ondem menikmati betul kisah-kisah itu. Kebahagiaannya mengalir setiap hari. Kadang kebahagiaan itu terasa mengalir lewat jendela kelas (saat Ondem mengintip Ratih di taman), kadang lewat pintu pagar sekolah (saat Ondem datang terlambat), dan lain-lain.

Tapi kisah itu akhirnya terhenti di satu babak yang belum terselesaikan. Ondem tak dapat menulis lagi. Ia kehilangan ide untuk melanjutkan kisah itu. Ori di dunia nyata sudah memilih kawan yang sebangku dengannya. Di situlah, Ondem merasa seluruh kisah-kisah kebahagiaannya sebagai semu. Ia mengutuk kisah-kisah bahagia. Sejak itu, kisah-kisahnya berubah haluan. Dari kisah-kisah bahagia menjadi kisah-kisah babak belur dalam percintaan.

Ondem tetap menggunakan nama Ori. Tapi ia mencincang habis tokoh itu dan menempatkan ke dalam imajinasi kesedihan yang begitu kelam. Kisah-kisah yang gagal, hati yang babak belur, dan kesedihan lainnya telah membuat Ondem sebagai penulis paling produktif sepanjang sejarah di Mading itu.

Sejak ingat dengan kisah-kisah babak belur itu, Ondem tak jadi mencoret kalimat konyol di dalam skripsi mahasiswa bimbingannya.

IV

Malam ini, lelaki itu memikirkan siasat apa yang akan digunakannya untuk mengecoh dosen-dosen pengujinya besok. Kalimat itu demikian penting. Maka tak boleh ada yang mencoretnya. Tapi ia yakin, dosen-dosen penguji bakal tertawa terbahak-bahak membaca kalimat itu. Sekonyol-konyolnya kisah cinta, ini merupakan kalimat yang paling konyol, demikian dosen penguji itu dalam bayangan si pemilik skripsi.

“Tapi, ini sah-sah saja kan pak, saya hanya menempelkannya di bagian satu lembar tiap bab, dan tak memasukkannya pada bagian kalimat pembahasan”.

“Saya tak menyalahkan aturan itu. Bukan urusan saya… aku hanya geli melihat untuk apa kutipan-kutipan tak relevan itu harus ada di tiap-tiap lembar pembukaan judul. Aku hanya geli, ini skripsi sudah seperti penampungan pikiran melankolismu…hahahaha”, dan ia tak berhenti tertawa, terus menggema di pikiran si pemilik skripsi.

“Ongki yang baik”, dosen pembimbing yang lain, seorang perempuan, “aku mengagumi semangatmu mencintai. Perempuan di skripsi ini, yang tuturannya kau kutip berulang-ulang pada satu lembar khusus tiap awal bab, pastilah luar biasa kau kagumi. Tak apa, pertahankan saja. Tapi nanti untuk diserahkan kepada fakultas dan universitas, sebaiknya lembar-lembar kutipan itu tak usah kau sisipkan di situ. Jika mau, cukup sisipkan di kata pengantar saja”.

Mata perempuan yang keibuan itu begitu tulus. Ongki melihat mata ibu itu seakan-akan sosok Ori dan ia begitu mengagumi mata itu – andai belum tua. Maka permintaannya segera ia loloskan dalam hatinya. Ongki mengangguk. Besok, sebelum diserahkan ke fakultas dan universitas, dia akan membuat beberapa salinan. Dan yang asli, tanpa perubahan apapun, akan ia bawa kepada kekasihnya. Masalah beres.

V

Kalimat itu seperti sebuah kontrak cinta. Kekasihnya duduk di hadapannya.

“Hadiah apa yang ingin kau mintakan dariku bila suatu nanti kita diikat dalam kisah cinta yang abadi?”.

“Berilah aku anak sebanyak-banyaknya”.

“Tapi di dunia ini, bagaimana kita mengurus anak-anak yang sebanyak-banyaknya. Kau pun juga akan didera rasa sakit untuk melahirkan banyak anak”.

“Ah, betul juga. Andai aku bisa seperti Gandari dengan 100 anak Kurawa. Senangnya ya”.

Ongki tampak berpikir sebentar dan nampak tak suka. Gandari?

“Tapi aku tak mau jadi Dretarastra yang buta…”.

“Tapi kesetiaan Gandari luar biasa. Ia rela menutup matanya hanya demi mengikuti jejak suaminya. Gandari tak mau menikmati keindahan dunia ini sendiri sementara suaminya tidak”.

Ongki diam lagi. Kali ini, nampak air mukanya berubah gembira. Tapi ia berkaca-kaca. Ini bukan kebahagiaan yang sederhana. Ini kebahagiaan yang hanya bisa ditafsirkan dengan air mata.

“Kalau begitu aku mau jadi Dretarastra. Aku ingin mempersembahkanmu seratus anak”.

Kini giliran kekasihnya yang murung.

“Tapi aku bukan Gandari, bisakah aku melahirkan 100 anak tanpa rasa sakit?”.

Ongki menepis keraguan itu.

“Sudahlah tak perlu dipikirkan. Kau tak perlu melahirkan 100 anak sekaligus. Kita cicil. Tiga di dunia. Sisanya nanti di Surga”.

Perempuan itu tersenyum. Ongki bahagia. Dan dunia menjadi surga.

VI

Sidang skripsi sudah selesai. Tak ada yang perlu direvisi. Hanya kutipan-kutipan tak relevan yang berasal dari kisah cinta dan “kebucinan”-nya saja yang perlu direvisi. Jalan keluar dari masalah panjang itu sudah ditemukan. Skripsi yang asli tetap ia jaga abadi. Salinannya saja yang perlu diserahkan ke fakultas dan universitas. Dan salinannya itu yang harus mengikuti formalitas yang ketat – tanpa embel-embel kisah cinta.

Ongki melenggang dengan bahagia. Selamat tinggal kampus. Dan ia pergi membawa skripsi menuju rumah kekasihnya.

VII

Ongki menunjukkan kalimat panjang kepada kekasihnya yang berhasil dipertahankan di dalam skripsinya. Kalimat yang dipenggal pendek-pendek dengan koma. Udara yang berdesir sore itu seperti datang dari surga. Ongki dan kekasihnya begitu rela dibelai oleh udara itu.

“Bila kita diberi kisah cinta, yang abadi, kita ingin seperti pasangan Dretarastra dan Gandari, diberi seratus anak yang abadi, tapi kita akan menyicilnya, tiga di dunia dan sisanya di surga, nanti kita akan terus bercinta di sana, sepanjang waktu, itu pun jika ada waktu yang dapat menghitung keindahan cinta kita, tanpa lelah, bermandikan bulir-bulir peluh, yang wangi, bulir peluh yang bercahaya abadi, disaksikan bidadari yang cemburu, di bawah atap langi yang biru - andai warna langit masih secerah itu..." dan seterusnya kalimat itu masih terus mengalir. Siapa pun yang membacanya, bakal bosan dengan kalimat-kalimat yang seakan penulisnya lupa cara menyisipkan titik untuk sekedar berhenti mengambil jeda lama untuk bernafas. 

Tetapi kekasihnya - yang ingat dari mana kalimat-kalimat itu berasal - begitu menikmati dan tak dapat menahan senyumnya. Skripsi itu kini berpindah tangan. Dari Ongki kepada kekasihnya.

Sebulan kemudian, kekasihnya menulis sebaris kalimat.

“Ongki, tetaplah kamu sebagai Dretarastra dengan keinginan seratus anak. Tapi aku sudah membaca kisah Mahabharata itu. Aku hanya ingin jadi Kunti dengan tiga orang anak. Aku ingin memilih Pandu saja sebagai suamiku, bukan kamu”.

Ongki membaca kalimat itu. Dia lalu membuka kisah Mahabharata. Dia kini menggebu-gebu ingin menjadi Pandu. Tapi maukah kekasihnya memilihnya lagi?
0Comments

Previous Post Next Post

ads