Penulis: Ludiro Prajoko

Homo ludens: manusia memang makhluk yang gemar bermain. Dan, dewasa ini, manusia gemar memainkan apa saja, karena, baginya, semua adalah permainan: kelereng, layang-layang, akrobat motor, keadilan, hukum, uang rakyat, nasib sesama, … 
*
Untuk menjelaskan seluk beluk manusia, seringkali kita memetik istilah bahasa Latin. Memang, sebagaian telah menjadi istilah resmi. Misal: manusia pada umumnya disebut Homo Sapiens. Kita, boleh jadi tidak suka, karena menganggap primitif. Padahal, homo sapiens berarti (jenis) manusia yang bijaksana. Jenis itu sungguh-sungguh kita butuhkan dewasa ini. Jadi, ada baiknya kita mulai membiasakan menyebut dan menegur sesama: Hai.. homo sapiens.

Prototipe manusia awal yang berjalan tegak disebut: Homo Erectus. Maka, penegakan yang lain dengan renyah disebut ereksi. Tetapi, kata itu sama sekali tak cocok dipetik untuk membentuk istilah bagi penegakkan hukum. Bila dipaksakan hukum akan menjadi sesuatu yang jorok, naik satu tingkat dari posisinya sekarang: busuk.

Hobbes, sang pengutuk anarkhi, yakin, manusia gemar memangsa sesamanya, seperti serigala, karenanya akan terus berkelahi, sampai semua melawan semua: Homo Homini Lupus. Tapi, Romo Nicolaus Driyarkara, menolak adagium Hobbes dan, menawarkan pandangan Homo Homini Socius : manusia adalah kawan sesamanya.

Kawan, kata ini punya jejak yang panjang dalam sejarah sosial politik. Leluhurnya adalah kata socius. Kemudian diserap bahasa Inggris. Dari bahasa Inggris itu kita mengenal kata society, terjemahannya dalam bahasa kita: masyarakat. Lalu, segala hal yang bersifat kemasyarakatan kita sebut sosial.

Masyarakat, tampaknya dimaksudkan sebagai sekelompok orang yang keberadaannya terikat oleh rasa perkawanan. Di banyak tempat dan jaman, rasa perkawanan itu hendak diikatkan sedemikian rupa. Upaya itu disebut sosialisme.

Kawan: ia yang menyatukan hatinya dengan ia yang lain, menjadi kita. Kita yang saling peduli, berbagi, dan saling menjaga. Kita yang dihubungkan oleh sejenis benang lembut ketulusan. Dengan itu ‘kita’ memiliki kesanggupan untuk berkorban.

Karena, manusia, di mana-mana, sibuk memenuhi kebutuhannya, lalu disebut Homo Economicus. Upaya itu dilakukan dengan cara bekerja, maka disebutlah ia Homo Faber. Boleh jadi dari kata faber kemudian kita mengenal kata fabric, selanjutnya pabrik, tempat orang bekerja.

Khusus yang pekerjaannya mencuri, dengan cara lama dan di kampung-kampung, dijuluki Homo trium litterarum, manusia dengan tiga huruf, yaitu Fur. Artinya: maling. Bagi yang mencuri dengan cara baru dan di kantor-kantor, bila ketahuan, dinamai: ‘ Mr. X yang sedang kesandung masalah’. Ya, kita ini memang bangsa Homo ono-ono wae (manusia ‘ada-ada saja’).

Tapi, penjulukan dengan awalan Homo tidak selalu konsisten. Buktinya, Homo Seksual bukanlah istilah yang tepat untuk menerangkan manusia sebagai makhluk yang kodratnya beranak pinak. Lebih terang lagi dalam kaitannya dengan politik. Manusia, tak disangsikan lagi, memiliki dahaga akan kekuasaan, sedemikian rupa. Tapi sebutannya bukan Homo Politicus, melainkan Zoon Politicon: manusia adalah binatang politik.

Lalu, laksana binatang apakah politikus itu? Biasanya, kita menggambarkan para politisi dengan binatang-binatang yang seram, buas: badak, buaya, serigala, singa, atau ular. Karena itu, sulit sekali kita mengatasi ulahnya. Sebab, manusia, secara apriori, mengidap rasa takut kepada binatang yang seram buas.

Jadi, penggambaran kita tentang para politisi selama ini: buas dan seram, adalah kesalahan besar yang kita buat. Sesungguhnya, bila harus diibaratkan dengan binatang, politisi itu laksana kancil, si pelanduk. Anggap saja salah satu jenis binatang memamah biak, mulutnya selalu nampak sibuk mengunyah. Bahkan, kala tidur sekalipun sambil ngemil. Ukuran tubuhnya pasti lebih besar dari kucing. Lincah, gesit, cerdik, cekatan, culas, licik. Namun, mengatasi ulah dan kelicikannya tidaklah sulit, sebab, kita telah dibekali cara yang tepat. Mari kembali ke syair lagu yang diajarkan ibu guru SD kita:

‘Si kancil anak nakal, suka mencuri timun.

Ayo lekas dikurung, jangan diberi ampun’.

Tapi jangan salah, yang dikurung KPK tempo hari, terkait dugaan suap pada pemilihan Deputy Gubernur Bank Indonesia, bukan 19 ekor kancil, tapi benar-benar mantan dan anggota DPR. Anehnya, si pemberi suap, belum juga ditangkap. Pemberi suap itu, pasti bukan kancil. Boleh jadi ia adalah makhluk unik berkelamin perempuan, hasil perkawinan silang antara singa dengan belut.

Baiklah, kita lewatkan perkara itu. Karena masih ada satu homo lagi: Homo Ludens. Istilah itu diperkenalkan oleh Johan Huizinga, seorang pakar sejarah dari Belanda. Karyanya: Homo Ludens, yang diterbitkan tahun 1938, menjelaskan bahwa kebudayaan bermula dari permainan yang dicipta manusia. Pada jaman dulu, manusia tampaknya memiliki banyak waktu luang, untuk mengkreasi permainan dan memainkannya. Dari manusia yang bermain (homo ludens) itu, lantas, kebudayaan merebak: nilai-nilai, sistem sosial, alat dan barang, gaya hidup, …..

Dengan kegemaran bermain itu, kita mengenal dan memiliki hobby. Hobby bisa saja kegemaran yang wajar, tetapi juga gabungan antara kegemaran dan keanehan-anehan. Banyak anak-anak muda gemar bergelantungan dengan seutas tali di tebing-tebing curam, …..

Tapi, tentu saja, tak ada yang dapat melebihi hobby para politisi: tidak menipu dengan cara menipu, hobby yang menyaratkan kepandaian bersilat lidah. Hobby jenis ini tak ada sangkut pautnya dengan waktu luang. Berbeda dengan orang miskin, sekalipun mereka punya banyak waktu luang, tampaknya tak mudah bagi mereka untuk bermain. Jadi, masuk akal bila kepada orang-orang miskin itu, jarang sekali diminta mengisi formulir yang memuat pertanyaan: “apa hobby Tuan?”

Benar, orang miskin tentu saja tetap punya hak untuk bermain. Permainan mereka sungguh unik. Salah satunya, sambil menunggu penumpang, beberapa orang tukang becak menggelar permainan: meludah di suatu tempat yang telah ditentukan, lalu menunggu ludah siapa yang lebih dahulu dihinggapi seekor lalat. Pemilik ludah yang pertama kali dihinggapi lalat adalah pemenangnya dan berhak mengantongi uang taruhan.

Di kalangan orang miskin, permainan jenis itu berkembang melampaui hobby. Julukannya cukup keren: Mistifikasi kemakmuran! Kiranya itu dapat menjelaskan mengapa Togel tetap saja laku keras. Bagi mereka, togel adalah jalan yang memberi harapan menuju kemakmuran. Selain permainan jenis itu, orang miskin, jika hendak bermain, memanfaatkan waktu luang, relaksasi, dituntut harus kreatif. Jangan-jangan, karena manusia adalah homo ludens, pemerintah mempertahankan kemiskinan agar rakyat kreatif.

Leluhur orang Sabu, konon adalah orang Sumba. Kisahnya berawal dari sebuah permainan. Dua orang kakak adik yang gemar bermain gasing. Tak ada hari yang mereka lewatkan tanpa bermain gasing. Nasib digariskan, si adik tak pernah mujur dalam adu gasing dengan si kakak. Tampaknya, si adik memendam rasa jengkel. Diam-diam ia pergi meninggalkan rumah. Tinggal di sebuah tempat, beranak pinak. Itulah legenda masyarakat Sabu.

Setiap masyarakat, di setiap jaman, tak terpisahkan dari dan selalu memroduksi permainan. Ada permainan yang dicipta untuk dibaktikan kepada raja: Catur. Ada juga yang sengaja dibuat untuk menghibur diri sendiri: Engklek. Permainan ini diawali dengan melempar potongan genting atau selempeng batu sebagai tanda keberuntungan atau kesuksesan, ke ruang-ruang yang disusun menjadi gambar sebuah rumah yang dilukis di tanah. Lalu para pemain, secara bergiliran, yang diundi sedemikian rupa, melompat-lompat dengan satu kaki menapaki ruang-ruang itu.

Peraturan yang ditetapkan untuk menjamin permainnan berlangsung lancar dan tertib, sangat sederhana: Tanda keberuntungan harus benar-benar berada di dalam ruang, tidak boleh menempel pada garis pembatas ruang. Kaki saat memijak, juga tidak boleh menyentuh garis. Dan, semua pemain patuh. Di akhir permainan, pemain yang beruntung akan memperoleh gambar rumah tersebut. Sang pemain layak berbangga, karena digambarkan sebagai sebuah rumah yang bagus, layak huni.

Permainan jenis itu biasa disebut permainan rakyat. Jumlahnya tentu sangat banyak. Di Jawa saja, terdapat permainan: Gobak sodor, Sepak tekong, Lompat tali, Enthik. Sorog, dll. Dari semua permainan itu, dan permainan rakyat pada umumnya, memiliki karakter yang sama: sosialistis. Harus dimainkan oleh lebih dari satu orang, terbuka, patuh pada aturan, ….. Alat perminan juga harus diproduksi sendiri. Kebutuhan itu memicu kreativitas dan mencegah kecengengan khas budaya konsumeristik.

Tempus mutantur et nos mutamur in ilid, kata pepatah Latin, waktu berubah dan kita di dalamnya juga ikut berubah. Permainan juga berubah seiring perubahan itu. Dewasa ini, di mana saja, kapan saja, siapa saja, gemar atau mudah untuk bermain, mengembangkan kodratnya sebagai homo ludens. Tentu saja bukan bermain dengan permainanan rakyat. Tetapi permainaan modern. Namanya: Game. Dalam semua game itu terkandung semangat jaman: individualistik, konsumtif, soliter, diproduksi oleh pabrik, … Karenanya anti sosial. Game dengan demikian tidak cocok untuk orang miskin. Dan, memang, tidak dirancang untuk memenuhi kebutuhan bermain orang miskin.

Lalu di mana tempatnya bagi orang miskin pada jaman permainan modern ini? Pertama: khusus bagi anak-anak miskin, tempatnya di bangku penonton. Mereka hanya bisa menonton, karena untuk ikut memainkan, investasinya terlalu besar. Di bangku penonton itu, anak-anak itu bebas bermain dengan khayalan dan harapannya. Menyadari hal itu, para pemain semakin agresif. Seolah mendorong anak-anak miskin sampai puncak khayalan dan kehilangan harapan, agar mereka menumpahkan semua kejengkelannya terhadap kemiskinannya, lalu bersumpah tidak akan mau lagi menjadi orang miskin. Sumpah seperti itu, yang keluar dari mulut orang miskin, sangat penting sebagai upaya untuk mengurangi kemiskinan dimasa depan.

Kedua: Bagi orang miskin secara umum, mendapat tempat dalam arena permainan moderen yang dimainkan khusus oleh orang-orang dewasa. Para pemain berasal dari lingkungan khusus, lazimnya disebut elite. Posisi dan bagian orang miskin dalam permainan itu adalah sebagai alat dan objek permainan.

Seolah orang miskin ada memang untuk dipermainkan. Permainan jenis ini namanya: Publik Policy, Law Enforcement, …... Aturan dan peraturan dalam permainan tersebut sangat rumit dan berbelit-belit. Tetapi cara memainkannya sederhana: ingin (posisi) ini, berikan itu (uang, travel cheque), habis di sini kuras di sana (untuk urusan minyak, gas dan mineral lainnya yang ada di dalam perut bumi), di sini, di situ, di sana, di mana-mana, porot sedemikian rupa: korupsi.

Cara bermainnya juga sederhana: utak atik angka (ini jenis permainan yang paling digemari), pura-pura berkelahi (seperti tempo hari waktu geger Century). Tapi kalau mau sedikit keluar keringat, cara yang dilakukan adalah: pukuli ramai-ramai, lalu tawari solusi damai.

Homo ludens: manusia memang makhluk yang gemar bermain. Dan, dewasa ini, manusia gemar memainkan apa saja, karena, baginya, semua adalah permainan: kelereng, layang-layang, akrobat motor, keadilan, hukum, uang rakyat, nasib sesama, …

Manusia, dengan ke-ludens-annya itu, kita lihat, di mana-mana, kemanusiaan: ludes!
0Comments

Previous Post Next Post

ads